Kitab Ibrani

(The Book of Hebrew)

“Sebuah Telaah dari Sudut Pandang Yahudi Mesianik”

Oleh Richard “Aharon” Chaimberlin

 

 

Daftar Isi

I.                    Perkenalan dengan Kitab Ibrani [pasal 1]

II.                 Peringatan dari Tuhan [pasal 2]

III.               Yeshua: Imam Besar Kita [pasal 3]

IV.              Sebuah Tempat Ibadah dalam Waktu [pasal 4]

V.                 Imam Besar yang Sempurna [pasal 5]

VI.              Bahaya Kemunduran [pasal 6]

VII.            Melkisedek: Siapakah Dia? [pasal 7]

VIII.         Apakah Perjanjian yang “Baru” Membuat Perjanjian “Lama” Tidak Berlaku? [pasal 8]

IX.              Keimaman Lama dan Keimaman Baru [pasal 9]

X.                 Pengorbanan Mesias [pasal 10]

XI.              Tibun Kehormatan Iman, Tribun Kehormatan Perbuatan Baik [pasal 11]

XII.            Berlari dalam Perlombaan [pasal 12]

XIII.         Mesias yang Tidak Pernah Berubah [pasal 13]

XIV.         Pertanyaan Ujian


I.        PERKENALAN DENGAN KITAB IBRANI

Kitab Ibrani adalah salah satu kitab yang paling sering disalahpahami dalam Perjanjian Baru. Saya akui - sebagai orang yang baru percaya di tahun 1970an - bahwa saya dulu juga dibuat sangat bingung oleh Kitab Ibrani. Beberapa gereja yang saya datangi saat itu cukup berhasil menanamkan rasa anti-hukum (anti-Torah) dalam diri saya. Tetapi, ketika saya membaca Kitab Ibrani, sangat jelas bahwa Torah adalah bagian yang sangat penting bagi pembaca yang dituju, terutama dalam pasal 8 dan 10.

Ketika saya mendengar bahwa Sekolah Minggu dewasa di tempat kami akan mempelajari Kitab Ibrani, saya sangat senang. Akhirnya saya akan bisa mengerti apa isi Kitab Ibrani! Begitulah pikirku. Saya tidak ingin mengecewakan para pengajar; mereka semua orang-orang yang luar biasa, yang berniat baik dan melayani Tuhan sebaik mungkin. Mereka mencintai Tuhan dan gaya hidup mereka mencerminkan iman mereka. Tetapi, sebagian besar dari yang saya pelajari saat itu harus saya tinggalkan di kemudian hari. Seringkali, lebih sulit untuk “menghapus apa yang telah dipelajari” daripada “mempelajari”.

Salah satu hal yang saya “pelajari” dalam sekolah minggu itu adalah bahwa kitab ini ditulis untuk orang Kristen Yahudi. Bahwa penulis Kitab Ibrani  sangat kuatir para Kristen Yahudi ini akan “mundur” kembali pada Yudaisme lagi. Seluruh Kitab Ibrani ditulis untuk mencegah kemunduran itu.

Memang benar, sebagian besar Orang Percaya pada Abad Pertama adalah orang Yahudi, dan sebagian besar Orang Yahudi yang Percaya tetap memelihara gaya hidup sesuai Torah, seperti ditulis dalam Kisah 21:20. Ketika Rabi Shaul (Paulus) bersaksi kepada para Yahudi Mesianik ini tentang pekerjaan besar yang dilakukan Tuhan di antara bangsa-bangsa, mereka “memuliakan Tuhan, dan berkata kepadanya, ‘Kamu lihat saudaraku, betapa banyaknya1 orang Yahudi yang percaya, dan mereka semua rajin memelihara Torah.” Dari sini dan dari ayat-ayat lain di Alkitab, kita tahu bahwa orang Yahudi yang percaya tidak “keluar” dari Yudaisme ke agama lain.

Kalau begitu, mengapa Kitab Ibrani ditulis? Saya yakin bahwa ini ditulis bukan untuk mencegah orang Yahudi yang percaya “mundur” ke Yudaisme. Ini ditulis kepada orang Yahudi yang taat pada Torah agar menyadari bahwa Yeshua adalah penggenapan dari iman mereka dan untuk menguatkan mereka agar tidak kehilangan keberanian saat menghadapi kesusahan yang akan datang segera kepada mereka.

Para ahli bahasa Yunani memuji bahasa Yunani dalam Kitab Ibrani dan menyatakan itulah dasar asumsi bahwa Paulus bukan penulis Kitab ini. Saya pribadi berpendapat bahwa Paulus (Rabi Shaul) adalah penulis Kitab ini. Saya perkirakan, pada awalnya Rabi Shaul menulisnya dalam bahasa Ibrani atau Aram. Masuk akal jika ia menulis sesuai bahasa para pembaca yang dituju, yang sebagian besar adalah orang Yahudi dari Israel. Orang Yahudi di utara Israel fasih berbahasa Aram, sedangkan orang Yahudi di daerah Yerusalem fasih berbahasa Ibrani, yaitu bahasa yang digunakan pada Abad Pertama.2

Manuskrip Kitab Ibrani tertua ditulis dalam bahasa Aram. Tetapi, itu bukan berarti bahwa itulah yang asli; itu hanya berarti bahwa iklim kering di Timur Tengah menjaga manuskrip kuno dengan lebih baik dibandingkan iklim ‘basah’ di Eropa.

“Clement dari Alexandria (sekitar tahun 200 M) dikutip dalam buku Eusebius History of the Church (324 M) menyatakan ‘bahwa surat itu ditulis oleh Paulus dan ditulis untuk orang-orang Ibrani, dalam bahasa Ibrani dan diterjemahkan (ke dalam bahasa Yunani) oleh Lukas,’”3 itulah mengapa bahasa Yunani dalam Kitab Ibrani sangat baik dibandingkan dengan surat-surat Paulus lainnya, di mana bahasa Yunaninya kurang baik. (Paulus adalah warga Roma, sangat mungkin ia lebih fasih berbahasa Latin daripada Yunani, meski demikian, ia paling fasih berbahasa Ibrani, karena ia murid Gamaliel.)

Kesaksian dari Eusebius adalah bahwa Paulus (Shaul) yang menulis Kitab Ibrani. Tertullian menulis sekitar tahun 200M bahwa Barnabas menuliskan surat ini. Kita mengetahui dari Kisah 4:36 bahwa Barnabas adalah seorang Lewi, dan oleh karena itu mungkin memiliki pengetahuan yang lebih mengenai kahanut (keimaman). Juga, Shaul dan Barnabas pernah pergi bersama-sama waktu memberitakan Injil di Kisah 13:1-3. Sangat mungkin bahwa Shaul dan Barnabas bekerjasama dalam menulis surat ini. Tetapi, ayat penutup dalam kitab ini menunjukkan bahwa surat ini ditulis dari Roma, di mana Paulus (Shaul) dipenjara. Saya tidak dogmatik mengenai hal ini, tetapi secara pribadi saya yakin bahwa ini ditulis oleh Shaul.

Jika Rabi Shaul adalah benar-benar orang yang menulis Kitab Ibrani, saya sangat terkesan. Kemungkinan besar, ia menulis ketika berada di sel tahanan, mengutip ayat-ayat Alkitab dari ingatannya (perlu diakui, dengan inspirasi dari Ruakh HaKodesh - Roh Kudus). Sedangkan saya duduk di sini dengan Alkitab, buku-buku telaah, sebuah komputer, software Alkitab, dan Strong’s Concordance. Rabi Shaul (atau siapapun penulisnya) telah melakukan sebagian besar penulisan dengan mengandalkan ingatan, mengutip Kitab Suci yang ditulis dalam gulungan sangat besar, dan tanpa alat bantu apapun seperti yang saya miliki. Kemudian dia menyusun semuanya menjadi sebuah adikarya jauh melebihi hasil kerja Sarjana Alkitab modern dengan semua alat bantu yang mereka miliki. Hanya memiliki sebuah Kitab Suci yang halaman-halamannya dibundel pada satu sisi seperti yang kita gunakan sekarang saja, sudah merupakan bantuan yang sangat berarti. Siapapun penulis Kitab Ibrani adalah orang yang sangat cerdas.

Buku telaah Kitab Ibrani dengan sudut pandang Yahudi Mesianik ditulis pertama kali oleh seorang Yahudi Mesianik asal Jerman, Dr. Joiachim Heinrich Biesenthal, dalam bahasa Jerman pada tahun 1878. Antara tahun 1891 dan 1904, Yechiel Lichtenstein menerbitkan buku telaah Perjanjian Baru, dan seluruhnya ditulis dalam bahasa Ibrani, menggunakan huruf cetak Ibrani untuk kutipan Kitab Perjanjian Baru Bahasa Ibrani dan menggunakan huruf Ibrani Rashi untuk uraiannya. Ini adalah pencapaian yang sangat luar biasa, karena pada saat itu, sangat sedikit orang Yahudi yang berbicara bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani hanya dipakai oleh orang-orang terpelajar untuk membaca dan belajar atau dalam bacaan doa Yahudi. Bahasa Ibrani Sehari-hari tidak lagi digunakan beberapa waktu setelah  Mishnah4 selesai ditulis sekitar tahun 300 M.

Eliezer Ben Yehuda, yang memilih menetap di Israel pada tahun 1881, memulai suatu gerakan dengan menyarankan agar bahasa Ibrani menjadi bahasa tutur di Tanah itu. Keluarganya adalah rumah tangga berbahasa Ibrani pertama di Israel setelah beberapa abad bahasa itu tidak dipakai. Akan tetapi, sampai akhir abad 19, masih sangat sedikit orang Yahudi yang berbicara dalam bahasa Ibrani, karena pemakaiannya masih terbatas untuk berdoa dan belajar, kurang lebih sama seperti bahasa Latin dalam Gereja Katolik. Meski demikian, Yechiel Lichtenstein memilih untuk menuliskan telaahnya di dalam bahasa Ibrani.

 

Mesias: Ilahi atau Manusia Biasa?

Setelah pada zaman dahulu Elohim berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Elohim telah menjadikan alam semesta.”

Ayat yang dikutip di atas mewakili pembukaan dari Kitab Ibrani. Kita menemukan perbedaan dengan Tanakh (PL), di mana Elohim berbicara melalui nabi-nabi pada masa itu, tetapi berbicara melalui AnakNya pada masa kini. Ini bukan bermaksud untuk meremehkan para nabi; akan tetapi, pikirkan betapa baiknya jika YHWH berbicara kepada kita melalui AnakNya sendiri! Juga, kita belajar dari ayat ini bahwa melalui Yeshua, Tuhan menciptakan dunia dan alam semesta! Hal ini juga dikonfirmasi di dalam ayat pembuka Kitab Yokhanan (Yohanes) dan mungkin merupakan alasan mengapa kata jamak untuk Tuhan – Elohim -  digunakan di dalam Kitab Kejadian pada saat Penciptaan. Ini adalah salah satu petunjuk keilahian Yeshua sang Mesias dan perannya dalam Penciptaan.

Dalam Kitab Ibrani 1:3-4, kita melihat alasan mengapa Yeshua memasuki dimensi Ruang dan Waktu kita:

Ia adalah cahaya kemuliaan Elohim dan gambar wujud Elohim dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepadaNya jauh lebih indah dari pada nama mereka.”

Yeshua datang ke planet yang menderita ini, ke dalam sebuah kelompok minoritas yang tertindas (bangsa Yahudi) untuk menjadi Mesias yang akan menebus mereka – dan semua orang yang mau percaya – melalui penyucian karena penumpahan darahNya di Golgota.

Kita tidak ingin meremehkan para malaikat yang turut hadir pada waktu Penciptaan. Akan tetapi, para malaikat kalah jauh bila dibandingkan dengan Yeshua:

“Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?" dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?" Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat Tuhan harus menyembah Dia."”

Kutipan yang diambil dari - Mazmur 2:7, 2 Samuel 7:14, dan Mazmur 97:7 – menunjukkan bahwa Yeshua jauh lebih tinggi daripada para malaikat – atau dalam kasus ini – lebih tinggi dari  kita. Menarik untuk diperhatikan bahwa nama Mesias tidak sekali pun disebut dalam pasal pertama Kitab Ibrani – tidak ada nama Yesus atau Yeshua. Sudah menjadi asumsi umum bahwa surat ini ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sudah percaya Yeshua. Akan tetapi, tidak disebutkannya nama Yeshua secara langsung membuat saya menyimpulkan bahwa si penulis secara bertahap memperkenalkan Yeshua kepada orang Yahudi, di mana mayoritas belum percaya kepada Yeshua dan ini dilakukan dengan mengutip berbagai ayat dari Tanakh yang bernubuat tentang kedatangan Mesias, yang disebut ayat-ayat Mesianik.

 Telaah Perjanjian Baru dengan sudut pandang Yahudi Mesianik yang lebih baru adalah tulisan Dr. David Stern, Jewish New Testament Commentary,  ditulis dan diterbitkan dalam bahasa  Inggris pada tahun 1992. Meskipun buku ini sangat bagus, tetapi saya tidak setuju dengan Dr. Stern yang merasa (sama seperti yang lain) bahwa Kitab Ibrani ditujukan kepada kelompok Yahudi Mesianik. Bahkan, istilah yang ia gunakan untuk Kitab Ibrani adalah “Yahudi Mesianik.” Walaupun saya yakin banyak orang Yahudi Mesianik pada Abad Pertama mendapat manfaat dari Kitab ini, nama Yeshua tidak disebutkan hingga pertengahan Pasal Kedua, membuat sangat mungkin, pembaca yang dituju oleh Surat ini – setidaknya dalam dua pasal pertama – adalah orang Yahudi yang belum percaya Yeshua.

Banyak orang Yahudi menantikan kedatangan Mesias yang akan mengusir Roma dan mengukuhkan kembali Israel sebagai negara merdeka, mendirikan Kerajaan Mesianik dengan kebenaran dan keadilan. Mereka lebih menantikan Mesias politik daripada Penyelamat-Penebus. Saya sangat memahami dan menghargai keinginan mereka. Israel sudah dibebaskan dari kekuasaan Yunani-Syria melalui Revolusi Makabe. Setelah lebih dari satu abad bebas, datanglah Roma beserta penindasannya yang berat menimpa orang-orang Yahudi. Ribuan orang Yahudi sudah disalibkan karena melawan Roma dan ribuan lainnya menjalani hidup dalam penderitaan tak terungkap, merindukan Mesias datang mengalahkan Roma dan mengusir mereka dari negeri itu.

Saya berharap kita tidak perlu menunggu terlalu lama untuk Kerajaan Mesianik didirikan, Yeshua akan datang kembali suatu hari, semoga dalam masa hidup kita! Pada waktu itu, Dia akan mendirikan Kerajaan yang diimpikan oleh orang-orang Yahudi Abad Pertama dan mengalahkan musuh-musuh Israel.

Saya melihat penulis Kitab Ibrani dengan sabar memberi kesempatan kepada orang-orang Yahudi ini kesempatan untuk menyesuaikan diri dan menerima konsep Mesias Penyelamat-Penebus, seperti yang didiskusikan dalam Mazmur 22 dan Yesaya 53. Mesias ini membayar hukuman bagi dosa-dosa mereka, dan membeli kehidupan kekal bagi mereka. Dia bukan sekedar manusia yang menjadi raja, seperti Raja David yang dikasihi di masa lalu, tetapi Dia Anak Elohim. Dalam Ibrani 1:7-8 kita membaca:

“Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api." Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Elohim, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.”

Lagi-lagi, kita mendapatkan malaikat, yang merupakan roh-roh yang melayani, dibandingkan dengan Mesias yang Ilahi, dan akan memerintah atas mereka selamanya! Ini adalah kabar baik untuk orang-orang Yahudi yang menantikan Mesias politik. Manusia biasanya jarang hidup melebihi 80 tahun, namun berdasarkan kutipan Firman Tuhan yang diambil dari Mazmur Pasal 45, Raja Mesias memiliki tahta yang akan bertahan selamanya!

Kita pernah bertemu dengan beberapa Yahudi Mesianik yang tidak percaya pada keilahian Yeshua. Saya sangat menghargai orang-orang ini. Akan tetapi, saya katakan kepada mereka dengan penuh kasih bahwa mereka telah bersalah ketika menolak keilahian Mesias. Ini adalah pengertian yang sulit dipahami pikiran kita, tetapi hal ini sangat Alkitabiah. Kita tidak selalu harus mengerti untuk dapat mempercayai sesuatu. Saya tidak mengerti bagaimana gambar-gambar bisa beterbangan di udara atau melalui kabel-kabel, tetapi televisi itu ada, baik saya percaya atau tidak. Sama halnya, saya menerima keilahian Yeshua, baik saya mengerti ataupun tidak.

 

II.     PERINGATAN DARI TUHAN [pasal 2]

Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus. Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai, sedangkan Elohim meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendakNya.” Ibrani 2:1-4.

Ayat pembuka dari Kitab Ibrani pasal 2 (di atas) adalah peringatan pertama dari lima peringatan yang ditulis dalam Kitab yang sangat penting ini. Peringatan lainnya dapat ditemukan di: Ibrani 3:7 – 4:13; 5:11 – 6:12; 10:19-30; dan 12:14-19.

Menurut para Rabi, Torah diberikan di Gunung Sinai melalui para malaikat sebagai perantaranya. Akan tetapi, kata-kata yang sampai kepada kita melalui Mesias bahkan lebih penting lagi: “Sebab kalau firman yang dikatakan dengan perantaraan malaikat-malaikat tetap berlaku, dan setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal, bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarNya.”  Penulis Kitab Ibrani (yang kita percaya adalah Rabi Shaul - Paulus) menanyakan kepada kita, “Bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu?

Sampai di sini, Shaul masih belum memperkenalkan kepada kita nama Sang Mesias. Nampak jelas (setidaknya bagi saya) bahwa buku ini ditulis untuk orang-orang Yahudi yang belum percaya kepada Yeshua, dan Shaul secara bertahap memberikan kepada pembaca, sebuah pondasi untuk percaya kepada Mesias. Pada Ibrani 2:9 barulah nama Yeshua diperkenalkan. Sebelum ayat itu, Shaul menggunakan berbagai kutipan dari Tanakh (PL), terutama dari Kitab Mazmur, yang adalah “siddur” (buku doa Yahudi) pertama, yang sangat dikenal oleh orang Yahudi. Bahkan sampai hari ini, sebagian besar orang Yahudi tidak begitu mengenal Kitab Para Nabi (Neviim). Jika kamu membacakan Yesaya 53 pada orang Yahudi kebanyakan, dia akan menuduh kamu membaca dari Perjanjian Baru; dia tidak akan menyadari bahwa sebenarnya kamu sedang membaca dari Tanakhnya sendiri.5

Juga, jika firman yang diberikan lewat malaikat tetap berlaku “dan semua pelanggaran dan ketidaktaatan menerima ganjaran yang setimpal, bagaimana kita dapat lolos, jika kita mengabaikan keselamatan yang sedemikian besar?” Lagipula, firman yang kita terima sekarang difirmankan oleh Anak Elohim sendiri.6 Firman yang sebelumnya diberikan kepada kita melalui para malaikat akan menghasilkan “ganjaran yang setimpal” jika tidak ditaati. Hukuman dari pelanggaran ini telah disebutkan satu persatu di dalam Torah. Dalam Yudaisme, beit din (rumah penghakiman) sebenarnya dibentuk untuk menegakkan Torah. Mereka yang lolos dari hukuman dalam kehidupan ini akan tetap cemas dan takut karena adanya Penghakiman Terakhir seperti yang dijelaskan dalam Daniel 12:2 dan Wahyu 20. Namun, firman yang sekarang diberikan melalui Anak Elohim akan mendatangkan hukuman yang lebih berat. Dan, “bagaimana kita dapat lolos, jika kita mengabaikan keselamatan yang sedemikian besar?” Kita akan layak menerima sepenuhnya “ganjaran yang setimpal” untuk pelanggaran-pelanggaran kita. Akan tetapi, dalam ayat 9 dari pasal ini, kita diperkenalkan dengan Yeshua yang membayar hukuman atas segala pelanggaran kita.

Sama seperti Perjanjian Musa yang disertai dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban di gunung Sinai,7 demikian pula Perjanjian yang diperbaharui oleh Yeshua dikuatkan “oleh  tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban dan oleh berbagai macam mujizat dan karunia dari Roh Kudus, sesuai dengan kehendakNya sendiri (Ibrani 2:4).” Ada keajaiban dan mujizat yang dikerjakan oleh Yeshua. Selain itu, kita mendapat “karunia Roh Kudus”, yang saya yakin menunjuk pada karunia karismatik seperti yang dijabarkan dalam 1 Korintus 12 dan 14, juga Roma 12.

Kadang, saya merasa segan berbicara tentang karunia karismatik, karena sangat banyak karunia palsu di luar sana, dan banyak sekali penyalahgunaan dari karunia ini. Bagaimanapun juga, seperti yang akan kita pelajari nanti di Ibrani 13:9, “Mesias Yeshua tidak berubah dahulu, sekarang dan selamanya.” Keberadaan karunia palsu membuktikan bahwa ada karunia Roh Kudus yang asli. Sebagai contoh, kamu tidak akan menemukan uang palsu berupa lembaran Rp. 60 ribu karena para pemalsu hanya memalsukan mata uang asli, dan tidak ada uang asli berupa lembaran Rp. 60 ribu. Bahkan di dalam Tanakh (seperti di 2 Tawarikh 18:5-22), kita menemukan bahwa jumlah nabi palsu jauh melebihi jumlah nabi asli dari YHWH. Ini bukan berarti tidak ada nabi asli; ini hanya mengajarkan kepada kita bahwa pada masa itu sebagian besar dari mereka yang disebut nabi adalah nabi palsu. Di dalam Torah dinyatakan cara yang sangat efisien untuk menghadapi nabi-nabi palsu: mereka harus mati.8 Di masa kini, para nabi palsu terus “bernubuat” dan kadang bahkan membuat aliran mereka sendiri.

 

Keutamaan Yeshua

Dalam Ibrani 2:5-18, Rabi Shaul memperlihatkan superioritas Yeshua terhadap para malaikat. Yeshua bukanlah manusia biasa. Maafkan saya, ini bukan berarti ada yang salah dengan dilahirkan menjadi manusia (human being)! Lagipula, saya sendiri juga manusia, dan tidak sempurna. Bagian manusia (human) adalah penting, karena kita sebagai manusia sudah diberi perintah Ilahi untuk melayani dan menyembah Pencipta kita, satu hal yang benar-benar membedakan kita dengan binatang.

Bagian kedua dari deskripsi kita sebagai manusia (“human being”) adalah kata being. Kita tidak hanya berada di masa lalu, terus mengingat kenangan-kenangan, dan kita tidak hadir hanya untuk memikirkan masa depan. Kita terutama hadir di masa kini (present tense) karena kata being tersebut. Akan tetapi, dalam Ibrani 2:5 kita membaca, “bukan bagi para malaikat Dia (Yeshua) telah menaklukan dunia yang akan datang (ILT).” Dalam bahasa Ibrani ini disebut Olam HaBa. Olam HaBa adalah dunia di masa yang akan datang, lawannya adalah Olam HaZeh, yaitu dunia saat ini. Torah berkonsentrasi terutama pada Olam HaZeh, dunia saat ini. Faktanya, lima kitab pertama dalam Kitab Suci tidak pernah secara langsung membahas tentang Olam HaBa.

Namun ada banyak sekali konsep Rabinik tentang Olam HaBa. Di dalam Berkhoth 17a dikatakan, “Di Olam HaBa, tidak ada makan, minum, perkawinan, bisnis, iri hati, kebencian atau persaingan, tetapi orang-orang benar akan duduk dengan mahkota di atas kepala mereka, menikmati kecemerlangan Shekinah.” Ini sangat mirip dengan yang dikatakan dalam Roma 14:17, “Sebab Kerajaan Elohim bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran dan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Akan tetapi, adalah salah jika kita percaya bahwa tidak ada makan sama sekali, karena akan ada Perjamuan Kawin Anak Domba, seperti tertulis di Wahyu 19:9. Dalam Seder Eliyahu Rabbah ditulis, “Di Olam HaBa tidak akan ada kematian, dosa, penderitaan, tetapi semua orang akan bergembira di dalam kebijaksanaan dan pengertian.”9

Para pembaca Kitab ini mungkin akan membayangkan bahwa para malaikat akan memerintah di Dunia yang Akan Datang. Akan tetapi, dalam Ibrani 2:5 kita belajar bahwa “bukan bagi para malaikat Dia (Yeshua) telah menaklukkan dunia yang akan datang.” Saya bahkan tidak dapat membayangkan hirarki yang akan ada di Olam HaBa, tetapi tampaknya malaikat tidak akan memerintah atas kita, seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

“Tetapi seseorang di suatu nas telah bersaksi sungguh-sungguh, ketika berkata: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya; atau anak manusia sehingga Engkau memedulikan dia? Engkau telah membuat dia sedikit lebih rendah daripada para malaikat; Engkau telah memahkotai dia dengan kemuliaan dan hormat; dan Engkau telah menempatkan dia di atas karya tanganMu; Engkau telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kakinya.” Sebab dalam menaklukkan segala sesuatu kepadanya, Dia tidak membiarkan satu hal pun yang tidak takluk kepadanya; tetapi sekarang kita belum melihat segala sesuatu telah ditaklukkan kepadanya.”

Ayat di atas diambil dari Ibrani 2:6-8 (ILT). Penulis Kitab Ibrani ini mengutip dari ingatannya. Dari segala kemungkinan, mungkin saja ini Shaul, menulis dari sel penjaranya. Dia mengutip berdasarkan ingatannya dari Mazmur 8:4-6. Dia tidak memiliki gulungan Tehillim10 (Kitab Mazmur) dalam sel penjaranya, jadi dia hanya berkata, “Tetapi seseorang di suatu nas telah bersaksi…” Dia tidak dapat memberikan letak persis ayat tersebut. Terlepas dari itu, dia memberikan midrash yang luar biasa tentang ayat ini. Sangat luar biasa bahwa Pencipta alam semesta telah menaruh hasil ciptaanNya di bawah kendali kita manusia.

“Namun kita melihat Yeshua – Dia yang sudah dibuat sedikit lebih rendah daripada para malaikat – yang dimahkotai kemuliaan dan hormat melalui penderitaan kematian, bahwa oleh anugerah Elohim terhadap setiap orang, Dia dapat merasakan kematian. Sebab layaklah bagiNya, yang karenaNya segala sesuatu ada dan olehNya segala sesuatu pun ada, yang menuntun banyak anak ke dalam kemuliaan untuk menyempurnakannya melalui penderitaan-penderitaan pemimpin keselamatan mereka. ”11

Ini adalah penunjukan langsung kepada Yeshua untuk pertama kalinya di dalam Kitab Ibrani; penunjukan kepada Yeshua yang lainnya bersifat tidak langsung, tetapi di ayat 9 ini akhirnya nama Yeshua disebut. Kita sudah belajar bahwa manusia diciptakan “sedikit lebih rendah daripada para malaikat.” Di dalam bagian ini, kita juga belajar bahwa Yeshua juga dibuat “sedikit lebih rendah daripada para malaikat,” untuk sementara meninggalkan ke-Ilahi-anNya. Dia mengindentifikasikan diriNya sebagai manusia secara penuh, dan merasakan kematian untuk kita dan karena itu Ia dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, yang pasti lebih berharga daripada dimahkotai oleh emas dan perak! Melalui penderitaanNya, Dia membawa banyak orang kepada kemuliaan.

 

Ke’bapa’an Elohim.

Dalam Yudaisme, Tuhan dipanggil dengan sebutan Avinu Malkenu (Bapa kami, Raja kami). Orang Kristen seringkali keliru dengan mengira bahwa Yeshua adalah yang pertama kali memperkenalkan konsep Tuhan adalah Bapa Surgawi kita. Karena di dalam Mazmur 68:5; 89:26, dan masih banyak bagian lain dalam Kitab Suci, kita melihat YHWH sebagai Bapa kita, dan konsep ini sudah tertanam dalam Yudaisme jauh sebelum Yeshua datang ke bumi 2000 tahun yang lalu. Luar biasanya, Yeshua disebut sebagai saudara kita oleh penulis Kitab Ibrani! Baca Ibrani 2:11-13 di bawah ini:

“Sebab Dia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, kata-Nya: "Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat," dan lagi: "Aku akan menaruh kepercayaanKu kepadaNya," dan lagi: "Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Elohim kepadaKu."”

Sekali lagi, kita melihat penulis Kitab Ibrani menunjukkan keakraban yang luar biasa terhadap Tehillim (Kitab Mazmur). Walaupun biasanya jarang dimasukkan ke dalam kategori “tulisan profetik,” kita melihat bahwa Tehillim seringkali mengandung nubuatan. Raja David menulis banyak Mazmur profetik, sehingga ia layak disebut nabi, meskipun biasanya kita tidak menganggapnya sebagai nabi. Sebagai contoh, Ibrani 2:12 (di atas) dikutip dari Mazmur pasal 22 ayat 22 yang adalah Mazmur David. Mazmur ini secara profetik membicarakan tentang penyaliban Sang Mesias. Secara historis, Mazmur ini ditulis berabad-abad sebelum metode hukuman barbar ini diciptakan. Bagaimana mungkin Raja David bisa tahu? Ini jelas hal yang supranatural. Akhirnya, dalam Ibrani 2:13, penulis Kitab Ibrani mengutip dari Yesaya 8:17-18, yang merupakan kutipan pertama dari Neviim (Kitab Nabi-Nabi) di dalam Kitab Ibrani.

Ibrani 2:14-15 mengatakan kepada kita, “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut.” Ayat ini mengatakan bahwa sebelum kelahiranNya, Yeshua bukanlah makhluk darah dan daging seperti kita. Dia mengambil langkah turun yang sangat besar untuk menjadi seorang manusia biasa, supaya melalui kematian, Dia mengalahkan maut dan dia yang “memiliki kuasa atas maut yaitu iblis” (ayat 15) “dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”

Iblis membawa maut ke dalam Gan Eden (Taman Eden) dan dari sana ke semua umat manusia. Akan tetapi, Yeshua mengalahkan maut bagi semua yang percaya kepadaNya, dan yang mempercayakan keselamatan kepadaNya. Yeshua juga membebaskan kita dari ketakutan pada maut. Saya tidak percaya bahwa kita bisa benar-benar menikmati hidup sebelum kita siap untuk mati. Ketika kita di dalam Yeshua, kita sudah siap untuk mati dan tidak lagi diperhamba oleh ketakutan kepada kematian.

“Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani; tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi kohen gadol (Imam Besar) yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Elohim untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”12

Yeshua bisa saja mengambil wujud malaikat dan menikmati kekuatan supranatural dan kekekalan. Bahkan itupun sudah merupakan penurunan derajat yang sangat besar. Tetapi, Yeshua turun lebih jauh lagi dengan menjadi manusia biasa. Bukan hanya itu, Dia datang ke Bumi sebagai salah satu ras yang paling ditindas, yaitu keturunan Abraham. Lebih parah lagi, Dia akan ditindas oleh saudara sedarahNya sendiri – yaitu orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen Anti-Semit berhati-hatilah! Yeshua datang ke bumi 2000 tahun yang lalu sebagai seorang Yahudi, dan Dia akan kembali sebagai orang Yahudi! Lebih baik perbaiki sikapmu dan bertobat dari paham anti-Semitisme sebelum Dia kembali. Sebagai kohen gadol (Imam Besar), Yeshua mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban seperti yang dinubuatkan di dalam Yesaya 53, sekitar 700 tahun sebelum korban kematian Yeshua bagi dosa-dosa kita.

“Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena dicobai, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.” Ayat penutup dari Ibrani pasal 2 ini memberikan penghiburan – dan juga dorongan. Yeshua telah dicobai dalam segala cara sama seperti kita atau seperti yang dikatakan di dalam Ibrani 4:15 “Sebab Imam Besar yang kita miliki, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, tetapi seorang yang dalam segala hal telah dicobai sama seperti kita, hanya tidak berbuat dosa.” Yeshua mengetahui semua pencobaanmu, karena Dia juga telah dicobai. Tetapi, seperti Dia telah bertahan dalam pencobaan, Dia juga memberimu kekuatan untuk bertahan.

III.           YESHUA: Kohen HaGadol (Imam Besar) Kita [pasal 3]

Dimulai dari Ibrani Pasal 3, penulis Kitab Ibrani mulai memperkenalkan Yeshua lebih jauh lagi sebagai Mesias bagi orang Yahudi. Dalam pasal 1, dia tidak menyebutkan namaNya sama sekali. Sebaliknya, sang penulis (yang kita percaya sebagai Rabi Shaul – Paulus dari Tarsus) mengutip beberapa ayat Mazmur Mesianik yang menubuatkan tentang Mesias. Kitab Mazmur (Tehillim) adalah Siddur (Buku Doa orang Yahudi) mula-mula dan adalah buku dalam Alkitab yang paling dikenal oleh hampir semua orang Yahudi. Siddur pertama dalam bentuk seperti yang kita miliki sekarang disusun oleh Saadiah Gaon (882 – 942 M). Sebagian besar siddur masa kini dibuat berdasarkan siddur susunan Saadiah Gaon hampir 1100 tahun yang lalu. Tetapi, Mazmur adalah yang paling sering dipakai dalam doa dan penyembahan orang Yahudi sejak 2000 tahun yang lalu dan masih dipakai sampai hari ini. Sebenarnya, hampir seluruh doa di dalam Siddur dibuat berdasarkan kitab Mazmur.

Sebagian besar orang Kristen diajarkan bahwa Kitab Ibrani ditujukan pertama kali kepada orang Yahudi Kristen yang berada dalam bahaya “kemunduran” dari Kekristenan kepada Yudaisme. Tetapi, bagi saya sangat jelas bahwa Kitab ini ditulis kepada orang-orang Yahudi yang bahkan tidak tahu bahwa Yeshua adalah Mesias. Pasal pertama dari Kitab Ibrani merupakan perkenalan bertahap kepada nubuatan Mesianik dari Kitab Mazmur, sambil secara hati-hati menghindari penyebutan Yeshua. Akhirnya, sekitar pertengahan pasal 2, kita menemukan Yeshua disebutkan dengan nama. Juga di dalam pasal 2 ini kita akhirnya melihat Neviim (Kitab Nabi-Nabi) dikutip untuk pertama kalinya dengan sebuah kutipan dari Yesaya pasal 8.

Dalam Ibrani 3:1, kita membaca, “Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan surgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Mesias Yeshua.” Kita menemukan Yeshua ditinggikan sebagai “Kohen HaGadol (Imam Besar) yang kita akui.” Kitab ini ditulis sebelum Bait Suci (Beit HaMikdash) Kedua dihancurkan pada tahun 70M oleh tentara Roma di bawah Titus. Banyak sekali simbolisme dalam kitab ini tentang keimaman Yahudi di dalam Bait Suci, tetapi tidak disebutkan tentang kehancuran Bait Suci itu sendiri, sesuatu yang pasti akan disebutkan Penulis jika Kitab ini ditulis setelah tahun 70 M. Yeshua juga disebut sebagai “Rasul” atau “yang diutus/utusan,” juga diterjemahkan sebagai “duta.” Yeshua berkata, “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”13 YHWH mengirim Yeshua ke bumi sebagai duta dari Yang Maha Kuasa untuk menebus kita menjadi milikNya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh Yeshua, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.”14

“Dia (Yeshua) telah setia kepada Dia yang telah mengutus-Nya, sebagaimana Musapun setia dalam segenap rumahNya. Sebab Ia dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar daripada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati daripada rumah yang dibangunnya. Sebab setiap rumah dibangun oleh seseorang; tetapi Dia yang membangun segala sesuatu ialah Elohim. Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Elohim sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Mesias setia sebagai Anak yang mengepalai rumahNya; dan rumahNya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.”15

Pada ayat di atas, kita melihat Yeshua dibandingkan dengan Moshe (Musa), sebuah perbandingan di mana Yeshua jelas sekali tampak lebih superior. Yeshua tidak menggantikan Musa. Torah ditulis oleh Musa untuk menyediakan pondasi untuk semua bagian lainnya yang mengikuti di dalam Alkitab, Musa menjadi yang paling penting dari semua nabi. “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Elohim, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Mesias Yeshua sendiri sebagai batu penjuru.”16 Pada saat yang sama, penulis Kitab Ibrani menyebut Musa seorang hamba yang setia di dalam rumah Tuhan, di mana Yeshua ialah Anak dari pemilik rumah yang menduduki posisi yang lebih terhormat.

 

Jaminan Keselamatan Kekal?

Ada banyak orang yang percaya kepada sebuah doktrin yang disebut “Keselamatan Kekal.” Menurut doktrin ini, sekali seseorang membuat pernyataan iman (seperti mengucapkan “Doa Pendosa”), kemudian dia selamanya aman di dalam keselamatannya. Apapun yang dilakukan oleh orang ini di kemudian hari tidak akan mempengaruhi keselamatannya. Ini merupakan doktrin yang sangat enak dan nyaman. Sayangnya, ini tidak benar. Seperti dikatakan dalam Ibrani 3:6 “Tetapi Mesias setia sebagai Anak yang mengepalai rumahNya; dan rumahNya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan.” Ada banyak sekali janji bersyarat di dalam Alkitab, biasanya ditautkan dengan kata empat huruf “jika.” Pada bagian ini, kita tetap menjadi bagian dari keluarga Elohim jika kita tetap teguh di dalam iman kita.

Di dalam Yehezkiel 18:20-22 kita membaca, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya.  Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang telah dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya.” Itulah kabar baik! Jika seorang pendosa berbalik dari jalannya yang jahat dan melakukan jalan Elohim dan berpegang pada ketetapanNya, semua kejahatannya tidak akan diingat.

Dan inilah kabar “buruk”, dari Yehezkiel 18:24-26, “Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik--apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berubah setia dan karena dosa yang dilakukannya. Tetapi kamu berkata: ‘Tindakan YHWH tidak tepat!' Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakanKu yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.” Dengan kata lain, ketika orang benar berbalik dari kebenarannya dan mati, dia akan mati dalam kejahatannya.

Juga, dari Yehezkiel 18:27, “Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya.” Yehezkiel mengakhiri dengan catatan yang bagus, tetapi dengan peringatan: “Oleh karena itu Aku akan menghukum kamu masing-masing menurut tindakannya, hai kaum Israel,” demikianlah firman YHWH. Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, supaya itu jangan bagimu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. Buanglah dari padamu segala durhaka yang kamu buat terhadap Aku dan perbaharuilah hatimu dan rohmu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel? Sebab Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman YHWH. Oleh sebab itu, bertobatlah, supaya kamu hidup!" Tentu saja, hanya dengan hati yang baru dan roh yang baru kita dapat sungguh-sungguh hidup bagi Tuhan.

Begitu juga, Rabi Shaul (Paulus) menulis kepada orang-orang Roma (Roma 11:17-24) agar tidak meninggikan diri terhadap Israel: “Karena itu apabila beberapa cabang telah dipatahkan dan kamu sebagai tunas liar telah dicangkokkan di antaranya dan turut mendapat bagian dalam akar pohon zaitun yang penuh getah, janganlah kamu bermegah terhadap cabang-cabang itu! Jikalau kamu bermegah, ingatlah, bahwa bukan kamu yang menopang akar itu, melainkan akar itu yang menopang kamu. Mungkin kamu akan berkata: ada cabang-cabang yang dipatahkan, supaya aku dicangkokkan di antaranya sebagai tunas. Baiklah! Mereka dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka, dan kamu tegak tercacak karena iman. Janganlah kamu sombong, tetapi takutlah! Sebab kalau Elohim tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Elohim dan juga kekerasanNya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahanNya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahanNya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. Tetapi merekapun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Elohim berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri.”

Sepertinya bahkan pada awal Abad Pertama Masehi, ada beberapa orang percaya Bangsa-bangsa yang merasa arogan terhadap bangsa Yahudi, mengajarkan Teologi Pengganti (Replacement Theology) bahwa orang percaya Bangsa-bangsa telah menggantikan bangsa Israel. Rabi Shaul bereaksi keras terhadap teologi sesat ini sekaligus memperingatkan orang-orang Roma yang baik ini bahwa mereka dapat kehilangan keselamatan jika mereka tidak terus berjalan di dalam iman.

Begitu juga, di dalam suratnya kepada Jemaat di Kolose (Kolose 1:21-23), Rabi Shaul menulis: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Elohim dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikanNya, di dalam tubuh jasmani Mesias oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapanNya, jika kamu bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.” Sekali lagi, kita memiliki keselamatan kekal jika kita “tetap tinggal di dalam iman, teguh dan pasti dan tidak tergoncangkan dari pengharapan Injil.”

 

“Yesus yang lain”

Di dalam Ibrani 3:7-11 kita membaca sebuah kutipan dari Mazmur 95:7-11. Mazmur 95 dinyanyikan pada hari Shabbat di dalam Bait Suci dan tetap menjadi bagian dari liturgi Shabbat dalam sinagogaa pada masa kini. Pemazmur menulis itu dengan asumsi bahwa Shabbat adalah bagian gaya hidup Orang Percaya. Pemazmur memperingatkan Israel untuk tidak mengeraskan hati terhadap Elohim, seperti yang dilakukan oleh anak-anak Israel saat mengeraskan hati mereka terhadap Musa di padang gurun dan akibatnya mereka tidak bisa memasuki Tanah Perjanjian. Kita seharusnya belajar dari kesalahan mereka, dan jangan mengeraskan hati kita terhadap Musa atau Yeshua, yang Diurapi. Ada banyak orang Kristen yang tidak menyukai Torah Musa, namun menyatakan diri mereka orang yang percaya kepada Yesus. Akan tetapi, tampaknya ini adalah Yesus “yang lain.”

Rabi Shaul memberi peringatan tentang hal ini dalam 2 Korintus 11:4 “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain daripada yang telah kamu terima atau Injil yang lain daripada yang telah kamu terima.” Ada “Yesus-Yesus” palsu di dunia ini yang diajarkan di beberapa gereja. Jika Yesus yang dikhotbahkan merupakan Yesus yang anti-Semit, Yesus yang anti-Torah, maka itu adalah Yesus palsu yang tidak dapat menyelamatkan siapapun.

Begitu juga, ada orang-orang Kristen “penuh roh” yang memusuhi Hukum Tuhan. Menurut Yehezkiel 36:26-27, adalah Roh YHWH yang memampukan kita untuk melakukan ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan Tuhan. Roh Kudus dari Tuhan bukanlah musuh Torah. Mereka teman baik. Saya tidak peduli bagaimana hebatnya seseorang berbicara bahasa Roh; jika dia memusuhi perintah-perintah Tuhan, maka dia dipenuhi oleh roh yang lain dan bukan Roh Kudus. Begitu juga, Paulus memperingatkan tentang injil yang lain. Saya curiga bahwa banyak sekali injil yang lain! Bagaikan lahan ranjau spiritual di luar sana! Kita memiliki “kesaksian firman yang pasti” dari Kitab Suci. Jika seseorang datang dan memberitakan injil yang lain, selain yang sudah diberitakan di dalam Kitab Suci, maka biarlah ia terkutuk! Dalam beberapa kasus, mereka menambahi Injil dengan mengatakan bahwa anda harus menjadi anggota denominasi/organisasi mereka, seperti yang dilakukan oleh The Way Ministries atau Watchtower. Keselamatan anda tidak tergantung pada organisasi, denominasi manapun, atau apapun yang disebut “gereja yang benar.” Keselamatan anda tergantung kepada darah Mesias dan pilihanmu mengenai korban tebusan yang telah Dia lakukan bagimu.

“Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Elohim yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa (Ibr 3:12-13).”17 Sekali lagi, kita diperingatkan tentang ketidakpercayaan yang digambarkan sebagai kejahatan! Sebuah kata yang tajam! Tetapi kita harus mengingat bahwa pembuat ketidakpercayaan adalah HaSatan – si Setan! Jadi jika kita terbuka pada ketidakpercayaan, kita membuka diri kita kepada HaSatan yang amat sangat jahat! Juga, kita harus “saling menasehati seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan hari ini; supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa.” Dengan kata lain, ini bukan dilakukan oleh hamba Tuhan profesional yang dibayar untuk menasehati Orang Percaya; kita semua harus menasehati satu sama lain, seperti yang dikatakan di dalam Ibrani 10:24-25.

“Karena kita telah beroleh bagian di dalam Mesias, jika kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula (Ibr 3:14).”18 Sekali lagi, kita mendapatkan empat huruf penting “jika.” Kita telah beroleh bagian di dalam Mesias “jika kita teguh … sampai pada akhirnya.” Ini adalah janji yang sangat bersyarat. Tapi jangan takut! Seperti anak bungsu yang hilang, kita telah melihat orang-orang yang tidak memegang iman (dan juga keselamatan) yang telah bertobat dan memperbaharui komitmen mereka kepada Mesias.

“Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman", siapakah mereka yang membangkitkan amarah Elohim, sekalipun mereka mendengar suara-Nya? Bukankah mereka semua yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa? Dan siapakah yang Ia murkai empat puluh tahun lamanya? Bukankah mereka yang berbuat dosa dan yang mayatnya bergelimpangan di padang gurun? Dan siapakah yang telah Ia sumpahi, bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Nya? Bukankah mereka yang tidak taat? Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.”(Ibr 3:15-19)19

Paulus lagi-lagi mengutip Mazmur 95:7, memperingatkan pembaca agar tidak mengeraskan hati mereka seperti yang telah dilakukan oleh bangsa Israel di padang gurun. Seperti mereka semua tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian, demikian juga mereka yang mengeraskan hati terhadap pesan Mesias tidak akan menerima keselamatan.

Dr. David Stern mengutip dari Talmud, Shabbat 153a: “Rabi Eliezer berkata, ‘Bertobatlah satu hari sebelum engkau mati.’ Para talmidimnya (murid-murid) keberatan dan bertanya, ‘Apakah seseorang dapat mengetahui kapan dia akan mati?’ Rabbi Eliezer menjawab, ‘Ini menambah alasan untuk bertobat hari ini, siapa tahu engkau akan mati besok! Dengan begitu, seluruh hidupmu akan penuh dengan pertobatan.’”20 Nasehat yang bagus! Kita semua jatuh dalam dosa setiap hari. Berapa banyak dari kita yang memelihara bahkan dua Perintah utama dari Elohim: “Kasihilah YHWH Elohimmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap kekuatanmu. Dan … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kita semua perlu bertobat setiap hari.

 

IV.SEBUAH TEMPAT IBADAH DALAM WAKTU [pasal 4]

“Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentianNya masih berlaku. Karena kepada kita diberitakan juga Injil sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya. Sebab kita yang beriman, akan masuk ke tempat perhentian seperti yang Ia katakan: "Sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku," sekalipun pekerjaanNya sudah selesai sejak dunia dijadikan.

Ayat di atas mengawali Ibrani pasal 4, lagi-lagi mengutip Mazmur 95:11 (yang ditebalkan di atas) seperti yang sudah dikutip dalam Ibrani pasal 3. Sepertinya Rabi Shaul (Paulus) – yang kita yakini sebagai penulis Kitab Ibrani – bermaksud untuk memberikan poin penting kepada pembaca yang dituju. Perhentian yang secara khusus dimaksudkan di sini adalah Tanah yang Dijanjikan (Kanaan – Israel). Sayangnya, akibat ketidakpercayaan dan ketidaktaatan, generasi Israel yang keluar dari Mitsrayim (Mesir) tidak dapat masuk ke dalam tempat perhentian itu.

Rabi Shaul membandingkan generasi yang dibawa oleh Musa keluar dari Mesir dengan generasi yang mendengar Injil (yang merupakan Kabar Baik) dari Mesias. Semua laki-laki berusia 20 tahun ke atas dalam generasi yang keluar dari Mesir mati di padang gurun. Empat puluh tahun setelah Keluar dari Mesir, anak-anak dari generasi itulah yang akhirnya masuk Kanaan, yang telah dijanjikan bagi keturunan Abraham, Ishak dan Yakub selamanya, sepanjang masa.21

Kemudian Rabi Shaul membandingkan generasi itu dengan generasi yang melihat kedatangan Mesias Yeshua. Kitab Ibrani kemungkinan ditulis dari dalam sel penjara sekitar tahun 64 M, kurang dari satu generasi biblikal (40 tahun) setelah kematian, penguburan, dan kebangkitan Yeshua, yang sangat mungkin terjadi di sekitar tahun 30 M.

Generasi orang Yahudi yang keluar dari Mesir dan generasi orang Yahudi yang menyaksikan kedatangan Yeshua yang pertama, keduanya ditawari hak istimewa untuk memasuki perhentian Elohim. Generasi yang keluar dari Mesir di bawah pimpinan Musa tidak memasuki perhentian Elohim yang kudus, musnah di padang gurun. Generasi orang Yahudi yang menyaksikan kedatangan Yeshua ditawari hak istimewa untuk memasuki perhentian Elohim, dan faktanya, banyak yang menerima! Yang mula-mula disebut “gereja” hampir semuanya adalah orang Yahudi dan proselit Yudaisme (bangsa-bangsa yang memeluk agama Yahudi), seperti yang disebut oleh Kisah Para Rasul 2:10. Sampai pada Kisah pasal 10 barulah kita melihat bahwa kabar baik tentang Mesias Ibrani ditawarkan pada bangsa-bangsa. Di Yerusalem sendiri, ada “myriad” (yaitu puluhan ribu) orang Yahudi yang percaya,22 dan mereka “semua taat kepada Torah.”

Bahkan hingga saat ini, kita bisa memasuki perhentian Tuhan ketika kita percaya di dalam Mesias Yeshua, menerima penebusan yang sudah diberikan secara cuma-cuma kepada kita, dan hidup bagiNya. Tetapi, masih ada lagi:

“Sebab tentang hari ketujuh pernah dikatakan di dalam suatu nas: "Dan Tuhan berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya."”23 Apakah Elohim beristirahat pada hari ketujuh karena Dia kelelahan dari pekerjaan Penciptaan? Tentu tidak! YHWH memberi contoh bagi kita semua. Jauh sebelum ada orang Yahudi, Shabbat telah diberkati oleh Elohim dan dipisahkan sebagai hari yang kudus. Sebenarnya, inilah hari pertama dari semua Hari Raya, seperti yang kita baca pada Imamat pasal 23.

Telaah kitab Ibrani dengan sudut pandang Kristen seringkali berkata bahwa perhentian yang dimaksud dalam Ibrani 4:4 adalah sekedar perhentian yang ditawarkan kepada semua orang percaya di dalam Yesus, dan tidak merujuk kepada Shabbat. Ini mungkin benar untuk Ibrani 4:1-3. Akan tetapi, di dalam Ibrani   4:6-9, kita membaca:

“Jadi sudah jelas, bahwa ada sejumlah orang akan masuk ke tempat perhentian itu, sedangkan mereka yang kepadanya lebih dahulu diberitakan kabar kesukaan itu, tidak masuk karena ketidaktaatan mereka. Sebab itu Ia menetapkan pula suatu hari, yaitu "hari ini", ketika Ia setelah sekian lama berfirman dengan perantaraan Daud seperti dikatakan di atas: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Elohim tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari lain. Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Elohim.”

Jika anda adalah bagian dari umat Elohim, maka saya percaya bahwa tersedia suatu perhentian Shabbat bagi anda! Saya percaya bahwa Shabbat adalah sebuah hadiah yang istimewa dari YHWH untuk kita. Ketika kita melakukannya, kita mengakui kebenaran dari Penciptaan, seperti yang ada di dalam Kejadian 2:1-3. Kita mengakui bahwa kita tidak berevolusi dari gumpalan zat organik atau monyet. Juga, dengan melakukan Shabbat, kita mengakui tanda perjanjian abadi antara Elohim dan Israel seperti yang disebutkan dalam Keluaran 31:15-18. Begitu juga, dengan mengabaikan Shabbat adalah  seperti menyatakan bahwa mungkin nenek moyang kita dulu hidup di pohon dan berjalan dengan tangan mereka. Mengabaikan Shabbat adalah menyatakan bahwa tidak ada perjanjian antara Elohim dan Israel.

 

Shabbat

Yudaisme seringkali dianggap sebagai agama perbuatan/kerja.  Anehnya, bahkan ketika orang Yahudi memilih untuk tidak berbuat apa-apa, seperti pada hari Shabbat, mereka masih dianggap bersalah karena sesuatu yang disebut “berbuat untuk dibenarkan.”

Dalam rumah tangga Yahudi tradisional Shabbat adalah tempat ibadah di dalam waktu, dan meja makan menjadi seperti altar keluarga. Di berbagai tempat dan waktu, orang Yahudi seringkali hidup dalam kemiskinan dan penindasan. Akan tetapi, setiap minggu, mereka menghisap kekuatan hidup dari Shabbat – sebuah jeda untuk ketenangan dan keamanan, sebuah istirahat untuk mengasihi, memperkuat hubungan.

Dalam salah satu perjalanan kami ke Israel, kami mendapat kesempatan istimewa untuk merayakan Shabbat di rumah Orang Percaya Mesianik yang tinggal di Yerusalem dengan anak perempuannya yang masih muda. Mereka sedang mengalami banyak masalah. Akan tetapi, mereka tetap merayakan Shabbat! Rumah sudah dibereskan jauh sebelumnya. Mereka memanaskan makan malam dengan api yang sangat kecil sebelum matahari terbenam yaitu pada permulaan Shabbat.

Saat Shabbat mendekat, kita semua pergi ke sebuah sinagoga Ortodoks, tidak seperti sinagoga tradisional lain yang pernah saya datangi dalam hidup saya di Amerika Serikat. Bangunannya tidak dapat dibanggakan; itu adalah sebuah bunker bom yang dialihfungsikan, dan penuh sesak oleh umat yang datang berjalan kaki untuk ibadah Erev Shabbat pada sore yang indah itu. Walaupun Yahudi Ortodoks tidak memainkan alat musik pada hari Shabbat, tapi tampaknya setiap meja dan buku berubah menjadi drum saat nyanyian dengan gaya Hassidik dinyanyikan. Kaki dihentakkan di lantai, seirama dengan musiknya. Nyanyiannya penuh sukacita seperti ibadah-ibadah lain yang pernah saya hadiri. Beberapa pria menari mengitari ruangan dalam kegembiraan pujian. Penampilan pria-pria yang datang sangat bervariasi. Ada yang terlihat seperti hippies (baik tua maupun muda), sedang yang lain terlihat seperti orang Hassidim, dan ada yang terlihat seperti pengusaha modern. Laki-laki dan perempuan dipisahkan oleh mechizah (tirai), dan itu bukan tradisi favorit saya. Akan tetapi, ini dimaksudkan agar dapat beribadah tanpa gangguan konsentrasi dari lawan jenis. Kemudian ada juga  khotbah dari seorang Rabi yang bercukur rapi bersih – di dalam bahasa Inggris!

Setelah itu, kami kembali ke apartemen dan kami mencuci tangan sesuai Halakhah. Lalu kami duduk di meja yang telah dipenuhi berbagai makanan lezat, sebagian besar masakan tradisional Israel. Kemudian kami menyanyikan z’mirot, yaitu lagu tradisional yang dinyanyikan saat jamuan Shabbat. Sejujurnya, saya hanya tahu beberapa lagu. Lagu-lagu itu ditulis dan menjadi populer sekitar abad ke 16 dan beberapa terpengaruh oleh Kabbalah. Tetapi, lagu-lagu itu penuh sukacita, dan saya berusaha sebaik mungkin untuk ikut menyanyi, meski saya akui saya hanya bisa sangat sedikit. Saya juga bersenang-senang dengan bermain bersama anak-anak, karena saya belum benar-benar ‘dewasa’. Kesimpulan dari semuanya, itu adalah salah satu Shabbat yang paling saya kenang. Talmud menyebutkan bahwa ketika orang Yahudi makan dan minum, mereka memulai dengan memperkatakan Torah dan kidung pujian, sementara ketika penganut pagan (penyembah berhala) makan dan minum, mereka memulainya dengan kekonyolan dan percabulan. Saya sangat ingin mengulangi pengalaman Shabbat tadi di Amerika Serikat, tetapi saya termasuk amatir saat harus menyanyikan z’mirot dan juga lebih sulit untuk melakukannya di Galut (Diaspora).

Adalah sangat baik bagi keluarga untuk makan bersama. Di masa kini, ada banyak sekali aktifitas menjadi saingan bagi kebersamaan keluarga. Banyak anak yang bahkan memiliki TV dan stereo di dalam kamar. Dulu, jika kamu disuruh masuk ke kamar itu adalah hukuman, namun sekarang tidak lagi! Secara tradisional, sebuah keluarga akan selalu makan bersama-sama, tetapi sekarang hal itu sudah dianggap “kuno” oleh beberapa orang. Meja makan saat ini sudah seperti tempat makan di kandang. Semua orang mengambil makanan dan makan di tempat lain. Keluarga mengalami serangan dari berbagai arah. Tetapi, makan bersama, terutama di hari Shabbat, menambah erat kesatuan keluarga. Ibadah di meja makan, membangun Tubuh Orang Percaya, tetapi juga membangun keluarga. Meja makan bukan hanya untuk membagikan makanan; ini adalah tempat yang sakral.

Rabi Shaul menginstruksikan kita dengan berkata, “Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentianNya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Elohim berhenti dari pekerjaanNya. Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorangpun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.”24 Ini mungkin terlihat seperti kontradiksi: “berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu”? Dalam rumah tangga yang menjalankan Torah, Shabbat perlu dipersiapkan sejak awal minggu, berbelanja, membereskan rumah, bahkan beberapa makanan disiapkan sebelumnya. Tidak ada seorangpun yang tiba-tiba “dikejutkan” oleh Shabbat dengan banyak hal terabaikan dan tidak terselesaikan pada hari Shabbat.

Tentu, anda bisa mendapat aplikasi rohani lain dari ayat-ayat tersebut.  Seperti halnya Shabbat, kita perlu berusaha untuk dapat masuk ke dalam peristirahatan spiritual yang sudah dijanjikan Elohim, termasuk pemerintahan Raja Mesias dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Shabbat sebagai hari ketujuh, secara profetik menunjuk pada Milenium Ketujuh. Saya perkirakan bahwa ekologi (lingkungan) dunia ini akan kembali seperti pada zaman sebelum Air Bah, di mana tanah menghasilkan makanan dengan lebih mudah tanpa penambahan segala macam pupuk kimia, pestisida, dan herbisida. Iklim juga akan membaik. Dengan Mesias Yeshua sebagai Raja (tepatnya sebagai diktator yang lembut) atas dunia, kita tidak perlu menginvestasikan banyak sumber daya untuk penegakan hukum dan penjara. Sakit dan penyakit mungkin sekali akan menjadi masa lalu saja, rumah sakit, obat-obatan dan dokter akan mengkonsumsi sedikit saja dari pendapatan bruto Negara. Dengan kedamaian seluruh dunia, kita tidak perlu menginvestasikan banyak uang untuk militer. Dalam banyak hal, Kerajaan Seribu Tahun akan menjadi masa seribu tahun yang paling santai dan damai dalam sejarah umat manusia.

 

Firman Elohim

“Sebab firman Elohim hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”25

Firman tersebut mengingatkan saya akan Yokhanan (Yohanes) 1:1-4 dan Wahyu 1:16. Yokhanan berkata “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Elohim dan Firman itu adalah Elohim. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Elohim. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Dalam ayat ini, kita menemukan bahwa Yeshua disebut sebagai Firman Elohim. Juga, Yokhanan menulis di Pulau Patmos, “Dan di tangan kananNya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulutNya keluar sebilah pedang tajam bermata dua.”

Ibrani 4:12 menaruh kedua konsep itu secara bersamaan dalam satu ayat. Dan baiklah kita mencatat bahwa ayat di Kitab Ibrani ini menyatakan bahwa “Firman Elohim itu hidup dan aktif.” Hal ini tentu saja berlaku untuk Firman Elohim yang hidup (Yeshua) dan Firman Elohim yang tertulis. Yeshua adalah Penyelamat yang Bangkit dan Dia hidup dan aktif! Demikian pula, Firman Elohim yang tertulis adalah hidup dan aktif. Walaupun Alkitab yang kita pegang di tangan kita telah ditulis ribuan tahun yang lalu, ia selalu baru. Bagian-bagian Kitab Suci yang telah saya baca puluhan kali seringkali masih terasa segar dan saya mendapatkan pengertian baru. Dan Firman Elohim yang tertulis selalu relevan! Buku-buku sains yang saya pelajari puluhan tahun lalu hanya akan berguna untuk kertas daur ulang, karena ilmu pengetahuan di dalamnya sudah kadaluarsa. Ada beberapa hal yang puluhan tahun lalu diyakini sebagai fakta ilmiah tak terbantahkan, malah sekarang kita turunkan statusnya menjadi mitos. Saya tidak percaya bahwa orang yang relijius harus takut kepada sains. Seiring berjalannya waktu, saya percaya bahwa sains yang sejati akan membuktikan kebenaran Kitab Suci, tepat seperti yang terjadi dengan arkeologi.

Juga, Firman Elohim itu “menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” Kita membaca Firman Elohim dengan pikiran dan hati yang terbuka, dan kita biarkan Elohim menembus bahkan sampai “memisahkan jiwa dan roh.” Firman Elohim memungkinkan kita dibentuk menjadi orang yang sesuai dengan apa yang diinginkan Elohim. Pada saat yang sama, Firman Elohim membuka semua kekurangan kita. Tetapi:

“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Elohim, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”26 Yeshua adalah Pembela kita, menjadi perantara bagi kita di hadapan Tahta Sorgawi. Adakah pembela yang lebih baik? Dan kita bisa dengan percaya diri masuk ke hadapan tahta karena kasih karunia yang disediakan Yeshua, yang  “sama dengan kita, telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”

 

V.IMAM BESAR YANG SEMPURNA [pasal 5]

Dalam Ibrani pasal 3, kita diperkenalkan pada Yeshua sebagai Kohen HaGadol (Imam Besar) dari iman kita. Sayangnya, kata “imam” (priest) selalu berkonotasi “Katolik” di telinga orang barat pada umumnya. Kamus Random House memberi tiga definisi berbeda pada kata “imam”, yang pertama, “Seseorang yang pekerjaannya adalah melakukan ritual keagamaan dan terutama untuk membuat korban persembahan.” Batasan ini sesuai dengan arti “imam” dalam kitab suci. Untuk diperhatikan, bahkan Kitab Suci Ibrani menggunakan kata “priest” (imam). Kata yang asli untuk “imam” dalam bahasa Ibrani adalah kohen (juga dapat ditulis cohen).

Seorang imam Yahudi dilahirkan, bukan dibuat. Ini adalah jabatan turun temurun. Setiap laki-laki Yahudi keturunan Aharon (Harun), saudara Moshe (Musa), dari garis ayah, adalah seorang kohen. Pada masa kini, keimaman menurut garis ayah dapat terlihat pada laki-laki Yahudi dengan nama keluarga “Cohen.” Mereka biasanya menduduki tempat terhormat dalam sinagoga. Tetapi, tidak ada yang benar-benar melayani sebagai imam seperti tertulis di Alkitab, karena pada saat ini tidak ada Bait Suci dan korban di Bait. Bait Suci di Yerusalem dihancurkan oleh Roma pada tahun 70 M. Menurut D’varim (Ulangan) 16:2,5, satu-satunya tempat di mana korban binatang dapat dilakukan adalah di tempat di mana “Yahweh memilih namaNya tinggal,” yaitu di Gunung Bait (Har HaBayit) di Yerusalem. Pada masa yang akan datang, menurut Yehezkiel 40-48, Bait Suci akan dibangun kembali dan kohenim (para imam) akan memulai pengorbanan lagi.

Di antara dua belas suku Israel, suku Lewi dianggap sebagai suku “imam.” Tetapi, hampir semua orang Lewi tidak memenuhi syarat untuk menjadi imam. Untuk menjadi imam tidaklah cukup hanya dengan status keturunan Lewi; ia haruslah seorang Lewi dari keturunan Harun. Banyak pekerjaan lain untuk suku Lewi yang bukan imam, di antaranya menjadi hakim, guru, musisi, dan penyanyi dalam bait Suci.

Walaupun banyak terdapat kohenim (imam) di Israel, tetapi hanya ada satu Imam Besar. Imam Besar adalah satu-satunya pria di seluruh Israel yang dapat memasuki ruang MahaKudus, dan hanya pada saat Yom Kippur (Hari Pendamaian) setiap tahun.

Dalam Ibrani pasal 5, kita diperkenalkan pada Yeshua sebagai Imam Besar yang sempurna. Dalam Ibrani 5:1-3 kita membaca:

“Sebab setiap Kohen HaGadol, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Elohim, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat memiliki belas kasihan terhadap orang-orang yang tidak berpengetahuan dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri.”

Dalam ayat satu, kita melihat bahwa Imam Besar mempersembahkan “persembahan dan korban karena dosa.” Hal ini mungkin kontroversial bagi beberapa orang, tetapi penebusan dengan darah tidak selalu diwajibkan untuk menebus dosa. Jika seseorang terlalu miskin untuk membeli hewan korban penebusan, dia dapat mempersembahkan sepersepuluh efa tepung yang terbaik sebagai penggantinya, sesuai dengan Imamat 5:11-13. Karena itulah, kita membaca “korban dan persembahan karena dosa.”

Imam Besar yang melayani di Beit HaMikdash (Bait Suci) 2000 tahun yang lalu memiliki belas kasihan kepada orang-orang yang tidak berpengetahuan dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri “penuh dengan kelemahan,” seperti yang disebutkan di ayat 2. Orang-orang yang tidak berpengetahuan adalah mereka yang melanggar secara tidak sadar, seperti melanggar sebuah perintah yang tidak ia ketahui. Orang-orang yang sesat adalah mereka yang secara sengaja melanggar sebuah perintah. Contohnya, seseorang mungkin memakan babi secara tidak sengaja, bahkan mungkin tidak tahu bahwa itu dilarang di dalam Kitab Suci. Ada orang lain yagn mengetahui larangan itu, tetapi dengan sengaja tidak mentaati. Hanya pada Yom Kippur saja ada korban yang mencakup dosa tidak disengaja dan yang disengaja.

Dalam Ibrani 5:3, kita melihat Imam Besar harus mempersembahkan korban pertama-tama bagi dosanya sendiri, dan setelah itu barulah dia mempersembahkan korban bagi dosa umatnya. Kita melihat ini di Imamat 16:6, ketika Imam Besar mempersembahkan korban bagi dirinya dan keluarganya, dan hanya dengan cara itulah ia dibersihkan sampai titik di mana ia bisa mempersembahkan korban bagi umatnya.

Ibrani 5:4 mengatakan kepada kita, “Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Elohim, seperti yang telah terjadi dengan Harun.” Ayat ini terdengar politis, tetapi juga spiritual. Ini adalah pukulan telak bagi kehunah (keimaman) pada Abad Pertama. Imam Besar dipilih dari keturunan Harun. Seharusnya berdasarkan pada spiritualitas dan gaya hidup kudus dan juga garis keturunan Harun. Akan tetapi, pada zaman Yeshua, jabatan Imam Besar telah menjadi jabatan politis yang bergengsi, berkuasa dan berpengaruh. Jabatan itu adalah satu dari sedikit posisi di bawah kekuasaan Roma di mana seorang Yahudi benar-benar memiliki wewenang. Biasanya, Imam Besar mendapatkan posisi ini dengan menyuap pejabat Roma untuk mendapat hak istimewa menjadi Imam Besar, dan mengambil kemuliaan bagi dirinya sendiri. Jabatan Imam Besar telah menjadi korup sekitar satu abad sebelum Yeshua. Oleh karena itu, banyak yang memprotes kekuasaan Imam Besar dan sistem dalam Bait Suci di Yerusalem.  Beberapa golongan, seperti kaum Esseni, memilih untuk menolak seluruh sistem dan membangun komunitas keagamaan yang tidak berhubungan dengan Bait Suci di Yerusalem. Dalam Ibrani 5:5-6 kita membaca:

“Demikian pula Mesias tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar; tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini", sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."”

Yeshua sebagai Imam Besar menandai masa ditinggalkannya sistem keimaman di Abad Pertama Masehi. Menurut ayat di atas, Yeshua tidak mencari kemuliaan dengan menjadi Imam Besar; kemuliaan itu dianugerahkan kepada Yeshua oleh YHWH. Penulis Kitab Ibrani kemudian mengutip dari Mazmur 2, satu dari Mazmur Mesianik di dalam Kitab Suci. Dalam konteksnya, ayat ini dibaca:

“Aku mau menceritakan tentang ketetapan YHWH; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi; Engkau akan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk."”

Secara tradisional, orang Yahudi akan bersikeras bahwa Elohim tidak mempunyai anak. Tetapi di sini kita membaca bagian dari Kitab Suci yang menyatakan bahwa Elohim memang memiliki anak. Bagian ini juga menyatakan bahwa YHWH telah memberikan bangsa-bangsa kepada AnakNya sebagai milik pusaka. Dengan kata lain, Yeshua bukan hanya Mesias bagi orang Yahudi, tetapi juga Mesias bagi bangsa-bangsa. Itu adalah kabar baik! Kabar buruknya adalah bahwa bangsa-bangsa harus dipecahkan berkeping-keping. Kita akan lebih suka berpikir bahwa Era Mesianik yang akan datang merupakan waktu yang penuh kedamaian. Ya, kedamaian memang akan datang, tetapi pertama-tama, Yeshua harus memecahkan bangsa-bangsa. Yeshua akan memerintah dengan gada besi menurut ayat di atas. Para anti-Semitis seringkali berkata bahwa orang Yahudi selalu berusaha menguasai dunia. Dalam kasus ini, mereka ada benarnya. Yeshua – Mesias Yahudi – akan memerintah seluruh dunia. Ibukota Kerajaan yang akan datang ini bukan New York, London, Paris atau Moskow. Ibukota Kerajaan Mesianik ini adalah Yerusalem.

 

Melkisedek

Setelah mengutip dari Mazmur pasal 2, Rabi Shaul mengutip dari mazmur 110. Dalam konteksnya, kita membaca:

“Firman YHWH kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." Tongkat kekuatanmu akan diulurkan YHWH dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun. YHWH telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek." TUHAN ada di sebelah kananmu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murka-Nya, Ia menghukum bangsa-bangsa, sehingga mayat-mayat bergelimpangan; Ia meremukkan orang-orang yang menjadi kepala di negeri luas. Dari sungai di tepi jalan ia minum, oleh sebab itu ia mengangkat kepala.”

Subjek pertama diidentifikasi sebagai YHWH, sedangkan subjek kedua diidentifikasi sebagai Adonai. Menurut alkitab versi Companion Bible, para ahli kitab Yahudi telah mengubah naskah, pada naskah aslinya, kedua subjek diidentifikasi sebagai הוהי (YHWH), tetapi saya tidak tahu apakah informasi ini akurat. Ini tidak terlalu menjadi masalah. Dalam Mazmur ini, kita melihat ada dua makhluk Ilahi dan surgawi, terlepas dari apapun sebutannya.27 Kitab Suci memberitahu kepada kita bahwa mereka echad, yaitu “satu,” juga diterjemahkan sebagai kesatuan. Pernyataan iman dalam Ulangan 6:4 berkata, Sh’ma Yisrael, YHWH (Adonai) Eloheinu, YHWH (Adonai) echad. Bagian terakhir menyatakan bahwa Elohim itu satu, tetapi ini bukan berarti hanya satu tunggal. Kata echad dapat berarti juga sebagai ikatan kesatuan, seperti di dalam Kejadian 2:24 di mana suami dan istri digambarkan menjadi basar echad (satu daging).

Ayat yang dikutip oleh penulis Kitab Ibrani adalah Mazmur 110:4 di mana imam yang nanti akan memimpin akan memerintah selamanya, dan menurut peraturan Melkisedek (Melki-tsedek artinya Raja Kebenaran). Ini sangat penting, karena seperti yang telah disebutkan di awal tulisan ini, semua imam yang melayani di Bait Suci adalah keturunan Harun. Yeshua bukanlah keturunan Harun. Dia bahkan bukan seorang Lewi! Karena itu, Yeshua tidak memenuhi syarat bahkan untuk menjadi imam (kohen) biasa sekalipun di Bait Suci di bumi. Tetapi, Yeshua adalah seorang imam menurut peraturan Melkisedek. Kita pertama kali bertemu Melkisedek dalam Kejadian (Beresheet) 14:18-20:

Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Elohim Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Elohim Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan diberkatilah Elohim Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.

Adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa Melkisedek bukanlah seorang keturunan Harun ataupun Lewi, karena orang-orang ini bahkan belum lahir! Tetapi, Melkisedek disebut “imam Elohim Yang Mahatinggi”! Juga, Abram (yang kemudian disebut Abraham) memberikan perpuluhan kepada Melkisedek. Di kemudian hari, semua perpuluhan diberikan kepada suku Lewi.

Kita akan pelajari Melkisedek lebih banyak dalam Ibrani pasal 7, jadi saya akan tinggalkan ini untuk pembahasan selanjutnya. Jadi, siapakah orang ini? Tetaplah membaca dan kamu akan tahu. Kita telah tahu bahwa Mesias adalah seorang imam menurut peraturan Melkisedek. Ini berarti bahwa Mesias bukan berasal dari garis keturunan Harun! Juga, baik menurut Mazmur 110:4 dan Ibrani 5:6, Mesias akan menjadi Imam untuk selamanya! Imam di Bait Suci hanya melayani sampai mereka berusia 50 tahun! Seperti yang kita baca di Ibrani 7:25, Yeshua “hidup selamanya untuk menjadi perantara bagi mereka.” Dia hidup selamanya untuk menjadi perantara bagi semua yang memanggil NamaNya.

Kita membaca di Ibrani 5:7: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.” Yeshua “telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis.” Ingat ketika Yeshua di Taman Getsemani (Gat-Sh’manim). Ketika Dia menghadapi kematian yang mengerikan yang akan ditanggungNya di tangan orang Romawi, Dia berkeringat berupa tetes-tetes darah dan berseru kepada Elohim, “jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari padaKu; tetapi bukanlah kehendakKu, melainkan kehendakMulah yang terjadi.” (Tentang ini lihat di Matius 26 dan Lukas 22). Yeshua tidak berharap akan mengalami penderitaan itu. Dia bukan seorang masokis (orang yang punya kelainan jiwa senang menikmati rasa sakit)! Semua yang Dia tanggung, ditanggungNya demi kita, untuk membuat pendamaian atas segala dosa kita. YHWH mendengarkan seruanNya dan Dia sanggup untuk menyelamatkan Yeshua dari apa yang dihadapiNya. Akan tetapi, seperti yang kita pelajari di Yokhanan 3:16, “Karena begitu besar kasih Elohim akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Elohim memberikan AnakNya untuk kita!

Dalam Ibrani 5:8, kita mendapati sebuah konsep yang menarik: “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya.” Walaupun Dia adalah Anak Elohim, tetap perlu bagiNya untuk belajar taat (bukan berarti bahwa Dia pernah tidak taat!) sampai tahap mau menanggung salib bagi kita! Dalam Ibrani 5:9-10, kita membaca:

Dan sesudah Ia mencapai kesempurnaanNya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, dan Ia dipanggil menjadi Imam Besar oleh Elohim, menurut peraturan Melkisedek.” Godaan bagi banyak orang ialah untuk “hanya percaya.” Tetapi, seperti dikatakan Ya’akov (Yakobus), “Iman tanpa perbuatan adalah mati.”28 Ibrani pasal 5 ditutup dengan:

Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Elohim, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Rabi Shaul sekarang berbicara kepada Orang Percaya yang seharusnya sudah dewasa untuk mengajar orang lain, tetapi sebaliknya dia harus diajari dasar-dasar lagi, prinsip dasar dari iman mereka. Mereka masih menjadi bayi rohani yang butuh “susu rohani,” karena belum siap untuk belajar hal yang lebih dalam tentang iman. Anda pasti sudah melihat orang-orang seperti itu. Sepertinya mereka merasa cukup dengan kondisi “yang penting sudah selamat” dan tidak masuk Neraka, tetapi tidak pernah berkembang dalam tingkat kedewasaan. Dia menganjurkan kepada kita untuk terus bertumbuh, tidak merasa puas dengan keadaan sekarang, dan terus menambah pengetahuan di dalam Firman.

 

VI.BAHAYA KEMUNDURAN [pasal 6]

Sebab itu marilah kita tinggalkan asas-asas pertama dari ajaran tentang Mesias dan beralih kepada perkembangannya yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Elohim, yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan orang-orang mati dan hukuman kekal. Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Elohim mengizinkannya.

Kata-kata di atas adalah ayat-ayat awal dalam Ibrani pasal 6. Pasal ini ditulis kepada orang Yahudi yang sudah percaya kepada Yeshua sebagai Mesias. Beberapa doktrin dasar dari Mesias yang disebutkan di antaranya:

·         Pertobatan dari perbuatan yang sia-sia: Di dalam bahasa Ibrani, ini disebut teshuvah (pertobatan), yaitu kembali kepada Elohim dan menjauhi dosa.

·         Iman kepada Elohim: Seperti dikatakan dalam Ibrani 11:6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Elohim. Sebab barangsiapa berpaling kepada Elohim, ia harus percaya bahwa Elohim ada, dan bahwa Elohim memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Dalam Yudaisme, Sepuluh Perintah dimulai dengan, “Akulah YHWH Elohimmu, yang membawamu keluar dari tanah Mesir, keluar dari rumah perbudakan.”29 Penekanannya ialah bahwa kita harus percaya kepada Elohim. (Dalam Yudaisme, Keluaran 20:3-6 dijadikan satu perintah, sehingga orang Yahudi juga memiliki Sepuluh Perintah [istilah asli: “perkataan” - d’varim], jumlah yang sama dengan Kekristenan.)

·         Pelbagai Pembaptisan: Ini menunjuk pada upacara pembasuhan di Bait Suci pada masa sebelum dihancurkan tahun 70 M, walaupun beberapa tetap ada setelah tahun 70 M, yaitu ritual pembasuhan (mikveh) setelah menstruasi dan melahirkan. Alkitab KJV menerjemahkannya dengan kata “baptisms,” yang memiliki arti lebih sempit dari arti kata Yunani baptismon. Namun, perlu diketahui bahwa kata ini juga berarti pencelupan orang yang proselit kepada Yudaisme, biasanya disebut tevilat gerot (pencelupan proselit). Yokhanan Pencelup (Yohanes Pembaptis) melakukan pencelupan pertobatan, yang umum di beberapa kalangan Yahudi seperti Esseni.

·         Penumpangan Tangan: Ini merujuk pada tradisi orang Yahudi yang disebut s’mikha yaitu penumpangan tangan pada seseorang dalam upacara pentahbisan.

·         Kebangkitan orang mati: Ini adalah poin terakhir dari Tiga Belas Prinsip Iman Yahudi.

·         Hukuman Kekal: Ini adalah dorongan yang kuat bagi kita. Ada penghukuman kekal bagi mereka yang hidup di dalam dosa dan menolak penebusan yang ditawarkan secara cuma-cuma.

Wow! Dua ayat itu mencakup banyak wilayah! Tetapi, penulis Kitab Ibrani menolak untuk mengajarkan kembali doktrin dasar dari Mesias, dan melanjutkan kepada pengajaran tambahan. Adalah mustahil untuk mengerti Kitab Ibrani tanpa memahami Torah30 dan Yudaisme.

Kemudian dalam ayat 3, Rabi Shaul (Paulus) mengatakan, “Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Elohim mengizinkannya.” Itulah sebuah ungkapan Yahudi yang umum, “Jika HaShem mengizinkan!” Pola pemikiran Yahudi berlanjut di sepanjang Kitab Ibrani.

Anehnya, kami baru saja menerima kiriman brosur dari sebuah gereja Pentakosta lokal. Mereka mempromosikan hasil pendalaman mereka tentang Kitab Ibrani yang berkata, “Kitab Ibrani menjelaskan dengan rinci bagaimana Yesus Kristus tidak hanya memenuhi janji dan nubuatan di dalam PL, tetapi juga bagaimana Yesus Kristus jauh lebih baik daripada segala sistem pemikiran Yahudi.” Sungguh menggelikan! Sayangnya, inilah pengajaran Kekristenan yang umum mengenai Kitab Ibrani.

Anda tidak dapat mengerti Kitab Ibrani, jika anda tidak mengerti sistem pemikiran Yahudi! Dan kenapa berhenti dengan Kitab Ibrani saja? Adalah mustahil dapat mengerti seluruh Perjanjian Baru dengan pola pikir Yunani. PB seharusnya dibaca dengan pola pikir Ibrani, begitu juga dalam memahami Tanakh (PL). Ayat berikut ini dari Ibrani 6:4-6 dapat menjadi masalah bagi beberapa orang:

Sebab mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Ruakh HaKodesh (Roh Kudus), dan yang mengecap firman yang baik dari Elohim dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Elohim bagi diri mereka dan menghinaNya di muka umum.

Sekali lagi, seperti yang telah kita pelajari di Ibrani 3:14, Kolose 1:22-23, dan Roma 11:17-24, adalah mungkin untuk mundur dan sampai pada titik di mana seseorang kehilangan keselamatannya. Dalam kasus ini, kita melihat seseorang yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus. Ini adalah orang-orang yang pada masa kini disebut “penuh dengan Roh.” Tidak hanya itu, tetapi mereka juga telah mengecap firman yang baik dari Elohim dan karunia-karunia dunia yang akan datang. Mereka punya pengetahuan tentang Firman Elohim dan telah mendapat karunia supranatural. Jika seseorang seperti ini menjadi murtad, mungkin saja sudah mustahil untuk dibaharui sekali lagi sehingga mereka bertobat. Sangat sedikit orang yang mendapat pengurapan seperti ini. Tetapi, bahkan orang-orang seperti ini masih mungkin menjadi murtad. Bahkan Raja Salomo yang diberkati dengan kebijaksanaan luar biasa dari Elohim, pada akhirnya murtad.

 

Katak dan Orang Murtad

Biasanya, kondisi kemurtadan terjadi dalam sebuah periode waktu. Hal ini seperti ungkapan “katak dalam wadah air”. Jika anda menaruh seekor katak dalam wadah berisi air panas, dia akan segera melompat keluar. Tetapi, jika kamu menaruh seekor katak di wadah berisi air dingin, dia akan tinggal diam. Kemudian anda menyalakan api di bawah wadah itu. Meski airnya berangsur-angsur menjadi hangat, katak tetap diam, tidak menyadari bahwa air menjadi panas, karena ia tidak tahu suhunya naik sedikit demi sedikit. Akhirnya, anda akan mendapatkan seekor katak rebus! (Jangan dimakan! Itu tidak kosher!)

Orang murtad mirip dengan katak itu. Orang yang murtad biasanya tidak membuat keputusan untuk masuk neraka! Dia mungkin memulainya dengan tidak mengikuti pertemuan/ibadah rutin dengan sesama Orang Percaya. Mungkin doa dan belajar Kitab Suci tidak lagi penting baginya. Hal-hal duniawi mendesak hal-hal rohani. Mungkin kesenangan, godaan, dan kepemilikan materi lambat laun menjadi lebih penting baginya. Dan segera, seperti Sang Kodok di atas, orang yang mundur ini berangsur-angsur berjalan menjauh dari Yeshua sampai pada titik di mana ia menjadi sama sekali dingin terhadap hal-hal yang berasal dari Tuhan. Dia pernah berada di bawah berkat perjanjian Tuhan, tetapi menjauh dari semua yang YHWH punya baginya. Ibrani 6:7-8 berkata:

“Sebab tanah yang menghisap air hujan yang sering turun ke atasnya, dan yang menghasilkan tumbuh-tumbuhan yang berguna bagi mereka yang mengerjakannya, menerima berkat dari Elohim. Tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran.” Ini adalah perumpamaan singkat tentang akhir nasib dari mereka yang menolak keselamatan.

Ibrani 6:4-8 jangan dipakai untuk menyimpulkan bahwa orang murtad tidak akan pernah bisa dipulihkan kembali. Perumpamaan tentang Anak Bungsu yang Hilang dalam Lukas 15:11-32 menunjukkan bahwa Bapa selalu menunggu anaknya yang hilang untuk kembali. Tetapi, seseorang dapat mengeraskan hatinya dan menolak untuk kembali kepada Bapa. YHWH tidak akan memaksakan DiriNya kepada siapapun. Dia akan membiarkan orang ini masuk neraka, meskipun itu bukanlah kehendakNya yang sempurna. Sebagai sisi lain dari sebuah koin adalah Ibrani 6:9-12:

“Tetapi, hai saudara-saudaraku yang kekasih, sekalipun kami berkata demikian tentang kamu, kami yakin, bahwa kamu memiliki sesuatu yang lebih baik, yang mengandung keselamatan. Sebab Elohim bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya (YHWH) oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya, agar kamu jangan menjadi lamban, tetapi menjadi penurut-penurut mereka yang oleh iman dan kesabaran mendapat bagian dalam apa yang dijanjikan Elohim.”

Ayat di atas menjelaskan tentang mereka yang rajin dalam pekerjaan bagi YHWH, yang berusaha dan terus berusaha. Mereka adalah orang-orang yang akan mewarisi janji itu. Iman tanpa perbuatan adalah mati, dan Rabi Shaul memuji mereka karena kerajinan mereka. Kemudian Rabi Shaul mengingatkan pembacanya tentang janji yang dibuat kepada Abraham (ayat 13-16):

“Sebab ketika Elohim memberikan janjiNya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak ada yang lebih tinggi dari padaNya, kataNya: "Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak." Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi: dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan.”

Dalam bagian ini, Rav Shaul mengingatkan para pembaca tentang janji yang dibuat dengan Abraham setelah dia menunjukkan kerelaannya mempersembahkan Ishak, anak yang  sangat dicintainya, sebagai korban persembahan. Dalam Kejadian 22:17, Abraham hanya menerima janji untuk diberkati dan bertambah banyak. Tetapi, pada saat kematian Abraham, dia belum menerima bagian Tanah itu, tidak juga bertambah banyak dengan banyak keturunan. Janji ini dipenuhi beberapa ratus tahun kemudian, ketika keturunannya, yang berjumlah jutaan, memasuki Tanah Perjanjian.

 

VII. MELKISEDEK: Siapakah Dia? [pasal 7]

Sebab Melkisedek (“Malki-tzedek”) adalah raja Salem dan imam Elohim Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia. Kepadanyapun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Menurut arti namanya Melkisedek adalah pertama-tama raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Elohim, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.

Pembukaan Ibrani pasal 7 ini adalah sebuah drash (penerapan berupa perumpamaan/alegori) yang membandingkan Yeshua dengan Melkisedek. Dalam bahasa Ibrani, namanya ialah “Malki-Tzedek,” yang berarti “Raja Kebenaran.” Dalam ayat 1, Melkisedek disebut sebagai seorang raja sekaligus imam, membuatnya menjadi contoh yang sempurna dari Yeshua yang datang ke bumi 2000 tahun yang lalu untuk menggenapi perannya sebagai Imam Besar, menanggung dosa dan pelanggaran kita. Sampai hari ini, Dia masih menjadi perantara bagi kita. Dan, Yeshua akan kembali sebagai Raja Mesias. Dia akan mendirikan Kerajaan Seribu TahunNya di bumi, memerintah seluruh dunia dari Yerusalem. Semoga ini terjadi segera, bahkan dalam masa hidup kita!

Sekali lagi, kembali ke ayat 1, kita mengetahui bahwa Melkisedek disebut sebagai Raja Salem, yang dalam bahasa Ibrani disebut Shalem, berhubungan dengan kata shalom, yang bukan hanya berarti “damai,” tetapi keutuhan. Shalem adalah nama lain dari Yerusalem, seperti yang kita baca di dalam Mazmur 76:2.

Melkisedek lebih besar dari Abraham, karena Abraham membayar perpuluhan kepada Melkisedek, yang dapat kita baca di ayat 4: “Camkanlah betapa besarnya orang itu, yang kepadanya Abraham, bapa leluhur kita, memberikan sepersepuluh dari segala jarahan yang paling baik.” Kamu dapat membaca kisahnya dalam Kejadian 14:17-20. Dalam kisah itu, Abraham berperang untuk menyelamatkan keponakannya, Lot, dari tangan raja-raja yang telah menyerang kota Sodom. Dalam prosesnya, Abraham (yang ketika itu dipanggil Abram) tidak hanya menyelamatkan Lot dan keluarganya, tetapi juga raja Sodom.

Ketika persepuluhan ditetapkan di dalam Hukum Musa, persepuluhan ditetapkan berdasarkan semua hasil pertanian dari tanah perjanjian. Persepuluhan diberikan kepada kaum Lewi. Pada zaman Abraham, belum ada kaum Lewi. Suku Lewi tentunya merupakan keturunan dari Lewi yang adalah cicit dari Abraham.

Satu-satunya tempat lain di dalam Tanakh (PL) di mana kita membaca tentang Melkisedek ialah dalam Mazmur 110:4-6, “YHWH telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek." Adonai ada di sebelah kananmu; Ia meremukkan raja-raja pada hari murkaNya, Ia menghukum bangsa-bangsa, sehingga mayat-mayat bergelimpangan; Ia meremukkan orang-orang yang menjadi kepala di negeri luas.

Di sini kita melihat bahwa Melkisedek adalah contoh yang sempurna dari Raja Mesias dalam Yudaisme, juga di Kitab Ibrani. Mazmur 110 dikutip dalam Ibrani pasal 5, 6, dan 7, membuktikan sekali lagi kemiripan antara Melkisedek dan Yeshua. Bahkan, sangat mirip sampai ada beberapa orang percaya bahwa Melkisedek adalah penampakan pra-inkarnasi dari Mesias Yeshua. Ini bukanlah apa yang kita percayai, tentunya. Dalam Ibrani 7:3, kita melihat bahwa Melkisedek “Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak berketurunan, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan.” Dalam terjemahan lain, kita diberitahu bahwa Melkisedek adalah “tanpa silsilah.” Ada pula yang menyimpulkan secara sederhana bahwa Melkisedek tetap memiliki orang tua hanya saja tidak ada catatan silsilah keluarga. Tetapi, jika kita mengartikan ini secara harfiah, berarti Melkisedek tidak mempunyai orang tua, tidak seperti kita semua. Jika benar demikian, maka dia bukan penampakan pra-inkarnasi Yeshua, karena Yeshua sangat jelas memiliki silsilah, bahkan ada dua, seperti tercatat dalam Injil Matius 1 dan Lukas 3. Lagipula, jika Melkisedek tidak punya orang tua ini berarti bahwa dia merupakan ciptaan khusus dari Elohim, seperti para malaikat.

Namun tetap saja, Melkisedek adalah tokoh yang misterius. Karena penasaran, saya melihat tentang Melkisedek di internet. Saya tidak begitu terkejut melihat banyak aliran pemujaan aneh yang entah bagaimana menghubungkan diri mereka dengan Melkisedek.

Ada Midrash (perumpaan Rabinik atau uraian) yang menarik, yaitu Shem, anak Nuh mendirikan sebuah yeshiva untuk mengajarkan tentang jalan YHWH. Salah satu murid terbaiknya, menurut kisah ini, adalah Abraham ketika masih muda. Mungkin cerita ini ada benarnya. Dengan rentang umur manusia yang sangat panjang pada masa sebelum dan sesudah Air Bah, sangat mungkin bahwa Abraham memang belajar langsung dari Shem. Kalau umur manusia sekarang masih sepanjang dulu, kita mungkin dapat melihat Christopher Columbus mengajar di kelas-kelas tentang pelayarannya yang luar biasa! Tetapi, saya tidak setuju dengan kelanjutan Midrash Rabinik ini. Berdasarkan Midrash itu, Shem adalah Melkisedek. Karena Melkisedek tidak memiliki silsilah dan Shem jelas memiliki silsilah, maka pastilah bahwa Shem dan Melkisedek bukan orang yang sama.

Kita membaca lebih jauh di Ibrani 7:5-10:

Dan mereka dari anak-anak Lewi, yang menerima jabatan imam, mendapat tugas, menurut Torah, untuk memungut persepuluhan dari umat Israel, yaitu dari saudara-saudara mereka, sekalipun mereka ini juga adalah keturunan Abraham. Tetapi Melkisedek, yang bukan keturunan mereka, memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati dia, walaupun ia adalah pemilik janji. Memang tidak dapat disangkal, bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi. Dan di sini manusia-manusia fana menerima persepuluhan, dan di sana Ia, yang tentang Dia diberi kesaksian, bahwa ia (Melkisedek) hidup. Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan, sebab ia masih berada dalam tubuh bapa leluhurnya, ketika Melkisedek menyongsong bapa leluhurnya itu.

Lagi, Rabi Shaul (Paulus) menekankan fakta bahwa Melkisedek lebih besar (tinggi) daripada Abraham. Ditambah dengan ayat 8, di mana ia menulis bahwa Melkisedek “hidup seterusnya,” membuatnya lebih superior dibandingkan dengan cohenim (para imam) yang dapat mati. Ini semakin mendukung pada kepercayaan bahwa Melkisedek bukanlah manusia biasa.

Karena itu, andaikata oleh imamat Lewi telah tercapai kesempurnaan--sebab karena imamat itu umat Israel telah menerima hukum--apakah sebabnya masih perlu seorang lain ditetapkan menjadi imam besar menurut peraturan Melkisedek dan yang tentang dia tidak dikatakan menurut peraturan Harun? Sebab, jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum itu. Sebab Ia, yang dimaksudkan di sini, termasuk suku lain; dari suku ini tidak ada seorangpun yang pernah melayani di mezbah. Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apapun tentang imam-imam. Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek, yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa. Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek." Memang suatu hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna, --sebab Torah sama sekali tidak membawa kesempurnaan--tetapi sekarang ditimbulkan pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Elohim. Dan sama seperti hal ini tidak terjadi tanpa sumpah--memang mereka telah menjadi imam tanpa sumpah, tetapi Ia dengan sumpah, diucapkan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: "YHWH telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya" --

Lagi, kita menemukan konfirmasi tentang adanya keimaman yang lain yang lebih tinggi dibandingkan keimaman yang ada di Bait Suci, dengan Yeshua sebagai Cohen HaGadol (Imam Besar) “menurut peraturan Melkisedek.” Tidak seperti imam dalam Beit HaMikdash (Bait Suci), Yeshua adalah keturunan Yehuda, bukan Lewi. Pada ayat 10, dia juga menambahkan sebuah drash bahwa Lewi membayar persepuluhan kepada Melkisedek karena Lewi (sebagai keturunan Abraham) masih ada di dalam tubuh Abraham.

Demikian pula Yeshua adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat. Dan dalam jumlah yang besar mereka telah menjadi imam, karena mereka dicegah oleh maut untuk tetap menjabat imam. Tetapi, karena Ia tetap selama-lamanya, imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Elohim. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.

Dalam ayat 22, kita belajar bahwa Yeshua “dibuat menjadi jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat.” Beberapa mungkin mengartikan ini sebagai perjanjian “yang lama” telah berlalu. Akan tetapi, seperti yang kita pelajari dari Ibrani pasal 8, mengutip Yeremia 31:31-33, Perjanjian yang Baru adalah “perjanjian yang lama”, Torah, (“hukum”) ditulis di dalam hati kita. Torah tidak pernah “berlalu atau dibatalkan,” seperti yang diajarkan dalam Kekristenan saat ini. Juga, di perjanjian lama biasanya dibutuhkan korban binatang sebagai tebusan dosa. Dalam Perjanjian Baru, kita punya korban penebusan Yeshua.

Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukanNya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diriNya sendiri sebagai korban. Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya.

Korban satu kali untuk selamanya yang dilakukan oleh Yeshua menyediakan penebusan untuk selama-lamanya. Ini sangat kontras bila dibandingkan dengan korban harian di Bait Suci, dan juga sangat kontras dengan misa dalam gereja Katolik di mana “Yesus” dikorbankan setiap hari. Tidak seperti keimaman Lewi, Yeshua dibuat “lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga.

 

 

VIII. Apakah Perjanjian Baru Membuat Perjanjian “Lama” Tidak Berlaku? [pasal 8]

Apakah perjanjian “lama” tidak berlaku lagi? Ini mungkin pertanyaan yang aneh untuk ditanyakan. Akan tetapi, banyak yang berpikiran demikian.

Dalam Kitab Suci, Tuhan telah membuat beberapa perjanjian dengan manusia. Perjanjian pertama adalah Perjanjian Adam, dibuat dengan Adam dan Chava31 (Hawa), dan itu tidak pernah dibatalkan. Perempuan masih merasakan sakit waktu melahirkan, dan laki-laki masih harus bekerja keras untuk mendapatkan hasil dari tanah.32 Perjanjian ini juga mengandung berkat bahwa keturunan perempuan akan mengalahkan HaSatan, si “ular.”

Perjanjian berikutnya adalah Perjanjian Nuh, dengan tanda pelangi sebagai janji Tuhan untuk tidak pernah lagi menghancurkan seluruh bumi dengan air bah, ada di Kejadian 9.

Dalam Perjanjian Abraham, YHWH menjanjikan kepada Abraham bahwa keturunannya akan mewarisi Tanah Perjanjian, sebuah wilayah yang jauh lebih luas daripada apa yang didapatkan orang Yahudi saat ini.33 Sunat adalah segel/tanda dari Perjanjian Abraham yang mengikat semua keturunan Abraham.34

Tak ada satu pun dari janji-janji itu yang “dibatalkan atau tidak berlaku lagi.” Wanita masih merasakan sakit bersalin, pelangi masih ada, dan, dalam suatu mujizat modern, orang-orang Yahudi kembali ke Tanahnya, yang menyebabkan kejengkelan besar bagi para penganut Replacement Theology35 (teologi pengganti).

            Perjanjian Musa adalah perjanjian yang selalu ditunjuk ketika orang membicarakan perjanjian “lama”, yang di dalamnya tercakup banyak perintah, ketetapan, dan peraturan yang diberikan oleh Musa kepada anak-anak Israel.

Kita menerima janji tentang “Perjanjian Baru” di dalam Yeremia 31:31-33:

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman YHWH, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman YHWH. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman YHWH: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Elohim mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.

Janji yang sama, tentang Perjanjian Baru, diulang kembali dalam Ibrani 8:8-10 dan Ibrani 10:10. Perjanjian ini hanya dibuat dengan Kaum Yehuda dan Kaum Israel. Artinya, perjanjian ini hanya dibuat dengan orang Yahudi dan bangsa-bangsa yang ditempelkan pada pohon zaitun Yahudi (sejati) seperti digambarkan dalam Roma 11. Berdasarkan sifat dasar Perjanjian Baru, maka secara otomatis tidak mungkin orang anti-Semitis masuk di dalamnya. Elohim berjanji akan memberkati mereka yang memberkati Israel dan mengutuk mereka yang mengutuk Israel.36 Adalah tidak mungkin orang dapat “diberkati” dan “dikutuk” pada saat bersamaan. Orang Percaya tidak boleh membenci orang lain tanpa sebab, dan anti-Semitisme juga bertentangan secara langsung dengan Perjanjian Baru. Tidak akan ada anti-Semitis di Yerusalem Baru!

Hampir semua kaum Injili Kristen, puji Tuhan, percaya bahwa orang Yahudi masih menjadi Umat Pilihan Tuhan. Akan tetapi, ada juga yang percaya bahwa Tuhan “berubah pikiran” dan tidak lagi menggenapi janjiNya bagi orang Yahudi.

Banyak juga orang Kristen Dispensasi yang mencintai Israel dan orang Yahudi, jadi saya tidak mau terlalu keras kepada mereka. Akan tetapi, Teologi Dispensasi mengajarkan bahwa perjanjian “lama” (yaitu perjanjian Musa) telah digantikan oleh Perjanjian Baru. Namun, Yeremia 31:33 mengatakan kepada kita bahwa Perjanjian Baru hanyalah “Perjanjian Lama” (yaitu mitzvot – “perintah-perintah”) yang ditulis di dalam hati kita dan bukan di loh batu. Dengan kata lain, perintah-perintah Elohim telah merasuk dalam diri kita dan kita taat kepadaNya karena mengasihi Dia, bukan untuk memperoleh perkenan atau karena takut. Kita mematuhi instruksi Elohim bukan supaya diselamatkan, tetapi karena kita sudah selamat.

 

Perjanjian Baru atau Keimaman Baru?

Ada beberapa orang yang menyerukan bahwa Ibrani pasal 8 “membuktikan” bahwa perjanjian “lama” (Musa) telah berlalu atau dibatalkan. Dalam Ibrani pasal 8, segera setelah janji tentang Perjanjian Baru, kita membaca dalam ayat 11-13:

Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka." Oleh karena Ia berkata-kata tentang “perjanjian yang baru”, Ia menyatakan yang pertama telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Wah, tampaknya ini menyelesaikan semuanya. Perjanjian baru datang, dan menggantikan perjanjian yang lama, benar kan? Tidak… Salah! Jika anda memiliki Alkitab King James atau terjemahan literal modern seperti New American Standard, anda akan melihat bahwa kata perjanjian pada Ibrani 8:13 dicetak miring. Ketika menterjemahkan dari satu bahasa ke bahasa lainnya, kadang-kadang dirasa perlu untuk menambah kata di sana sini untuk membuat sebuah kalimat “masuk akal”. Para penerjemah King James memberitahu pembaca bahwa mereka telah menambahkan sebuah kata dengan mencetak kata (atau kata-kata) itu secara miring. Untuk itu, kita harus berterima kasih kepada para penerjemah KJV. Banyak terjemahan modern yang menambahkan kata-kata, bahkan kalimat, tanpa memberi tanda apapun.

 Jadi, apa maksud saya? Begini… sebenarnya kata perjanjian tidak ada di dalam naskah dasar Yunani dari Kitab Ibrani. Kata benda perjanjian ditambahkan secara cetak miring dengan tujuan membuat ayat itu masuk akal untuk dibaca, juga pada Ibrani 9:1 yang ada tepat setelah Ibrani 8:13. Kata itu sebenarnya tidak ada. Kata “testimentum” ditambahkan dalam Alkitab versi Latin, Vulgate37, dan kata “covenant” ditambahkan oleh para penerjemah KJV (dan di banyak terjemahan lain). Tetapi, baik “testimentum” maupun “covenant” tidak ada dalam naskah Yunani dari Kitab Ibrani 8:13 dan 9:1. Saya mengecek Perjanjian Baru Hebraic-Roots Version38 yang diterjemahkan dari bahasa Aram ke bahasa Inggris. Kata “perjanjian” juga tidak ada, dan memang demikan seharusnya.

Ini sulit dimengerti oleh orang yang berbahasa Inggris, tapi dalam bahasa lain, anda bisa memiliki sebuah kata sifat tanpa kata benda seperti dalam kasus ini. Penulis akan mengasumsikan bahwa pembaca akan mengerti masalah yang dibahas dan secara mental menambahkan kata benda yang tepat. Dalam kasus ini, penganut Dispensasi dengan seenaknya menambahkan kata “testament” atau “covenant” pada teks berdasarkan asumsi dan teologi mereka. Akan tetapi, saya merasa ini adalah kesalahan fatal, dan langsung bertentangan dengan firman Yeshua di Matius 5:17-19. Mungkin suatu hari nanti, entah kapan, ketika langit dan bumi yang sekarang telah berlalu, Torah dihapuskan atau digantikan. Tapi hal itu tidak akan terjadi dalam masa hidup kita, tidak juga di masa yang akan datang.

Pertanyaan wajar yang seharusnya muncul: Kata benda apa yang seharusnya dimasukkan untuk memberikan pengertian yang masuk akal pada Ibrani 8:13? Ada suatu peribahasa berkata: Teks tanpa konteks, belumlah menjadi teks.” Dengan kata lain, kita perlu melihat bagian itu dengan memperhatikan masalah apa yang sedang dibahas di sekitarnya. Karena itu, saya akan membawa kita kembali ke Ibrani pasal 7 dan melanjutkan ke Ibrani pasal 9.

Ibrani 7 memperkenalkan kita kepada Melkisedek. Anda dapat membaca kisahnya di Kejadian 14. Dia adalah Raja Salem, dikenal sebagai “Imam dari Tuhan Yang Maha Tinggi.” Abraham memberikan kepadanya sepersepuluh dari semua jarahan yang didapatnya dari peperangan untuk menyelamatkan Lot dari musuhnya. Menurut Kitab Yasher 16:11, Melkisedek adalah Shem. Kitab Yasher yang kita miliki saat ini mungkin merupakan sebuah pemalsuan yang sangat pintar. Akan tetapi, ada Kitab Yasher asli seperti yang disebutkan di Yosua 10:13 dan 2 Samuel 1:18. Para Rabi percaya bahwa Shem dan Melkisedek adalah satu orang yang sama, tetapi para Rabi juga bisa salah. Ada pihak lain juga yang mengira Yeshua dan Melkisedek adalah satu orang yang sama. Pendapat pribadi saya adalah Melkisedek adalah makhluk ciptaan khusus, karena dia “tanpa ayah, tanpa ibu, tanpa silsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, tetapi dijadikan sama dengan Anak Elohim, dia menjadi imam selama-lamanya.”39

              Keimaman yang dilantik oleh Musa adalah dari keturunan Suku Lewi melalui Harun. Tetapi, Yeshua berasal dari suku Yehuda. Karena itu, Yeshua disebut imam (atau cohen) menurut aturan Melkisedek dalam Ibrani 7:15, yang diteruskan dengan mengutip Mazmur 110:4, “YHWH telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."” Melkisedek ada jauh sebelum keimaman Lewi ada, karena keberadaan Melkisedek mendahului umat Israel. Begitu juga, Yeshua sudah ada sebelum Dia dilahirkan. Dalam Yokhanan 1:1-3, kita membaca: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Elohim dan Firman itu adalah Elohim. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Elohim. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Yeshua ada “pada permulaan” dan mencipta bersama dengan Bapa! Jadi, seperti Melkisedek, keberadaan Yeshua mendahului bukan hanya Abraham, tetapi juga dunia!

              Bagian awal Ibrani 8 juga membahas tentang keimaman. Kemudian pada bagian akhir dari Ibrani pasal 8, kita belajar tentang “Perjanjian Baru” yang akan dibuat Elohim dengan Israel. Pengajaran umum yang kita dengar di gereja adalah bahwa Kitab Ibrani dituliskan untuk orang Yahudi Kristen di Abad Pertama. Penulis Kitab Ibrani, yang kita yakin adalah Rabi Shaul (Paulus), sedang memperingatkan orang percaya Yahudi tentang bahaya dari “kemunduran” kepada Yudaisme.

Pokok masalah yang sebenarnya sangat jauh berbeda dari apa yang biasa diajarkan. Penulis Kitab Ibrani ini tidak mungkin mengajarkan untuk melawan Torah. Jauh dari dibatalkan, bahkan Torah sekarang ditulis di dalam hati, sesuai dengan nubuatan tentang Perjanjian Baru di dalam Yeremia 31:31-33 dan Ibrani 8:8-10. Yeshua datang bukan untuk memulai suatu agama baru; Dia datang sebagai Mesias dari agama yang sudah lama ada.

Masalah muncul karena buruknya pilihan kata yang digunakan oleh penterjemah dalam Ibrani 8:13. Konteksnya adalah tentang sebuah perjanjian baru yang membutuhkan keimaman baru. Sedangkan Perjanjian yang Baru tidak lain adalah yang “Lama” yang ditulis di dalam hati kita; jadi perjanjian “Musa” yang lama tidak menjadi usang dan ditinggalkan; sebaliknya, diberikan kehidupan baru!

Kata yang tepat untuk disisipkan ke dalam Ibrani 8:12-13 adalah “keimaman,” bukan perjanjian. Seharusnya kalimat itu dibaca seperti ini: “Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka." Oleh karena Ia berkata-kata tentang “keimaman yang baru”, Ia menyatakan yang pertama telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.”

Begitu juga dalam Ibrani 8:7, kata perjanjian telah ditambahkan oleh penterjemahnya, padahal kata keimaman akan lebih cocok. Pada saat Kitab Ibrani ditulis, sekitar tahun 64 M, Beit HaMikdash (Bait Suci) masih ada. Penulis Kitab Ibrani mengetahui bahwa Bait Suci dan keimamannya akan segera berlalu.

            Pembagian pasal di dalam Alkitab adalah buatan. Kita dapat berterima kasih kepada gereja Katolik karena telah memberikan pembagian pasal dan ayat yang jelas sehingga navigasi Alkitab menjadi lebih mudah. Akan tetapi, pembagian pasal dan ayat ini kadang malah membuat bingung. Contoh, ayat-ayat lanjutan dari Ibrani 8:13 dipisahkan menjadi pasal baru, dan seharusnya Ibrani pasal 8 dan 9 tidak dipisah.

Seperti dalam Ibrani 8:13, jika anda mengambil Alkitab KJV, anda akan melihat kata perjanjian di dalam Ibrani 9:1 sekali lagi dicetak miring sebagai tanda bahwa kata perjanjian itu ditambahkan oleh penerjemah dan tidak ada dalam naskah Yunani asli. Ayat 9:1 versi KJV dibaca sebagai berikut: “Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia.”

Ayat-ayat setelah Ibrani 9:1 semuanya berbicara tentang keimaman di dalam Bait Suci, dibandingkan dengan keimaman Yeshua Sang Mesias. Jelas, para penerjemah KJV sekali lagi menyisipkan kata yang salah. Tetapi, tidak seperti terjemahan lain, para penterjemah KJV cukup baik untuk membiarkan kita tahu bahwa mereka menambahkan sebuah kata untuk membantu pembaca merasa ayatnya masuk akal. Banyak terjemahan lain juga menambahkan kata perjanjian, tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk menunjukkan bahwa kata perjanjian telah ditambahkan, dan tentulah itu tidak jujur kepada para pembaca.

Kata yang seharusnya digunakan adalah keimaman, seperti berikut ini: “Memang keimaman yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia.” Ketika para penerjemah menggunakan kata perjanjian sebagai ganti dari keimaman, hal ini membantu mendukung klaim Teologi Dispensasi yang mengajarkan bahwa Torah (yaitu “Dispensasi Musa”) telah dihapuskan oleh Perjanjian Baru. Jika itu benar, maka akan menjadi kutuk bagi penulis Kitab Ibrani. Dalam Maleakhi 3:6, kita membaca: “Bahwasanya Aku, YHWH, tidak berubah; dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Dalam Ibrani 13:8, kita membaca, “Yeshua sang  Mesias tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Dewa-dewi yang plin-plan dalam mitologi Yunani sangat dipengaruhi emosi dan tidak dapat diprediksi. Dewa-dewi plin-plan itu tampaknya sudah memasuki teologi banyak orang Kristen. Akan tetapi, Elohim kita adalah Elohim yang tidak berubah. Setiap perjanjian (atau “dispensasi,” jika anda ingin menyebutnya begitu) dibangun di atas perjanjian sebelumnya, dan tidak menggantikan pendahulunya.

Jika kita tidak dapat mempercayai Elohim untuk menjaga firman yang telah Ia ucapkan kepada Israel kuno, bagaimana mungkin kita dapat berharap Dia akan menjaga janjinya bagi kita? Definisi dosa di dalam Perjanjian Baru tetap sama seperti yang ada dalam Perjanjian Lama: “Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga Hukum (nomos, Torah) Elohim, sebab dosa ialah pelanggaran Hukum (nomos, Torah)  Elohim. (1 Yohanes 3:4)”

IX.KEIMAMAN LAMA DAN KEIMAMAN BARU [pasal 9]

“Memang perjanjian yang pertama juga mempunyai peraturan-peraturan untuk ibadah dan untuk tempat kudus buatan tangan manusia.” Tolong dicatat bahwa kata “perjanjian” dalam Ibrani 9:1 dicetak miring. Kadang-kadang, dalam proses penerjemahan, para penerjemah menambahkan kata/kata-kata dengan tujuan supaya kalimat itu lebih mudah dimengerti. Alkitab King James Version dan beberapa terjemahan literal seperti New American Standard cukup baik karena menulis kata tambahan dalam cetak miring, sehingga para pembaca akan tahu bahwa kata-kata tersebut ditambahkan. Terjemahan lain tidak mencetak miring kata-kata tambahan, sehingga dapat kita katakan kurang jujur, dalam opini saya, kecuali kalau mereka mengatakan bahwa itu merupakan parafrase.

Dalam Ibrani 9:1, seperti juga dalam pasal 8, kata yang seharusnya ditambahkan adalah “keimaman,” bukan “perjanjian.” Seperti yang kamu ketahui, secara Alkitabiah, ada beberapa perjanjian, yaitu Adam, Nuh, Abraham, Musa dan perjanjian David. Tidak ada satupun di antara perjanjian itu yang menggantikan perjanjian yang “terdahulu”. Hal ini juga berlaku untuk Perjanjian Baru yang dinubuatkan dalam Yeremia 31:31-33 dan diulang lagi di dalam Ibrani 8:8-10 dan Ibrani 10:16.

Di bawah Perjanjian Baru, perjanjian Musa yang “lama” tidak dilemahkan, tetapi diperkuat. Perjanjian Musa yang “lama” ditulis pada loh batu, dengan bermacam janji berkat untuk ketaatan kepada mitzvot (perintah-perintah) dan kutuk untuk ketidaktaatan. Perjanjian yang Diperbaharui diukir dalam hati kita. Kita tidak melakukan mitzvot “supaya” diselamatkan. Torah adalah intsruksi dari Tuhan bagi mereka yang sudah ditebus. Kita melakukan, dan sangat mengindahkan, mitzvot Elohim sebagai ekspresi kasih kita kepadaNya. Perjanjian Musa yang “lama” diperkuat dalam Perjanjian yang Diperbaharui, seperti yang kita pelajari dari kutipan Yeremia 31:33: “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman YHWH: Aku akan menaruh Torah (Hukum atau Instruksi)-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Elohim mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Janji yang sama diulang kembali dalam Ibrani 8:10.

Dalam Ibrani 9, ayat 2 sampai 5, kita membaca, “Sebab ada dipersiapkan suatu Mishkan (kemah/Tabernakel), yaitu bagian yang paling depan dan di situ terdapat kaki dian dan meja dengan roti sajian. Bagian ini disebut tempat yang kudus. Di belakang tirai yang kedua terdapat suatu kemah lagi yang disebut tempat yang maha kudus. Di situ terdapat mezbah pembakaran ukupan dari emas, dan tabut perjanjian, yang seluruhnya disalut dengan emas; di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian, dan di atasnya kedua kerub kemuliaan yang menaungi tutup pendamaian. Tetapi hal ini tidak dapat kita bicarakan sekarang secara terperinci.”

Di ayat ini kita mendapatkan gambaran dari kemah suci, tetapi ini juga diaplikasikan pada Beit HaMikdash (Bait Suci) yang kemudian dibangun di Yerusalem. Diagram ini menunjukkan Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus (tampak atas).

Mezbah ukupan dipindahkan ke dalam ruang Maha Kudus setahun sekali setiap Yom Kippur. Diagram ini adalah visualisasi Ruang Kudus dan Ruang Maha Kudus seperti yang dijelaskan dalam Ibrani pasal 9. Hanya kohenim (imam- imam) yang dapat memasuki Ruang Kudus. Di sana terdapat meja dengan roti sajian, yaitu 12 ketul roti yang melambangkan 12 suku Israel. Akan tetapi, hanya kohenim (imam-imam) yang dapat memakan roti sajian. Pada meja itu juga diletakkan menorah yang terbuat dari emas murni. Ini adalah menorah yang dibawa ke Roma oleh para tentara Roma setelah penaklukan Yerusalem di tahun 70M. Di Arch of Triumph di Roma, anda masih dapat melihat ukiran menorah Bait Suci sedang dibawa ke Roma. Hari ini, menorah 7 cabang Bait Suci masih menjadi salah satu simbol utama bagi orang Yahudi, bersama dengan Bintang David 6 sudut. Kohenim juga mempersembahkan dupa yang melambangkan doa-doa Israel pada mezbah pembakaran ukupan di belakang meja.

 

Tabut Perjanjian

Tetapi, dalam Ibrani pasal 9, penekanan utama adalah pada Ruang Maha Kudus. Hanya Cohen HaGadol (Imam Besar) yang dapat masuk ke dalam Ruang Maha Kudus, dan hanya pada perayaan Yom Kippur (Hari Pendamaian) saja. Aron Kodesh (Tabut Perjanjian) diletakkan di dalam Ruang Maha Kudus. Tabut itu berupa kotak yang terbuat dari kayu akasia dan disalut emas. Kita mengetahui bahwa Aron Kodesh terletak di Ruang Maha Kudus baik di Kemah Suci, maupun di Bait Suci Pertama yang dibangun oleh Salomo. Akan tetapi, pada zaman Makabe, Tabut Perjanjian itu hilang. Ketika Antiokus Epifanes secara ilegal memasuki Ruang Maha Kudus di tahun 165 SM, dia terkejut karena di sana kosong.

Ada berbagai legenda mengenai di mana Tabut Perjanjian itu berada. Berdasarkan 2 Makabe 2:4-7, dikatakan bahwa tabut itu diselundupkan oleh Yeremia dan dibawa ke daerah yang saat ini adalah negara Yordania, yaitu di gunung di mana Musa memperhatikan Tanah Israel dari jauh. Orang Yahudi Falasha dari Etiopia mengklaim bahwa tabut itu ada di Etiopia, karena diambil oleh anak Ratu Sheba. Menurut banyak Rabi di Israel, tabut itu terkubur di Har HaBayit (Bukit tempat Bait Suci berdiri/Temple Mount). Beberapa orang percaya, berdasarkan Yeremia 3:16, bahwa Tabut Perjanjian tidak akan ditemukan kembali, tetapi cukup banyak orang percaya bahwa nubuatan ini berlaku untuk di masa yang akan datang, dan berharap agar Tabut itu dapat ditemukan dan disimpan pada Bait yang akan dibangun kembali di Yerusalem.

Di dalam Tabut (Keluaran 25:10-30) terdapat buli-buli emas yang di dalamnya terdapat manna yang telah memberi makan orang Israel selama mengembara 40 tahun di Padang Gurun. Juga terdapat tongkat Harun yang bertunas. Tetapi, yang paling penting dari isi Tabut itu adalah loh batu Perjanjian yang dibawa Musa turun dari gunung Sinai, di mana terukir Eser D’varim (“Sepuluh Firman”) yang ditulis dengan jari Elohim sendiri.

Tutup dari Tabut Perjanjian disebut juga “tutup pendamaian”. Ini adalah tempat di mana secara fisik YHWH bertemu dengan Cohen HaGadol setiap tahun, dan dalam belas kasihanNya mengampuni dosa seluruh orang Israel.

Terletak di atas tutup pendamaian adalah k’ruvim (kerubim) yang merupakan dua makhluk malaikat bersayap diukir dari emas murni, berhadapan satu sama lain, melihat ke bawah kepada tutup pendamaian. Setiap tahun pada perayaan Yom Kippur, Imam Besar akan memerciki tutup pendamaian dengan darah korban penebusan seperti yang diuraikan dalam Imamat 16. Ini melambangkan “kasih karunia” yang telah lama menjadi prinsip Alkitabiah, jauh sebelum Perjanjian Baru ditulis.

Dalam Ibrani 9:6-10 kita membaca, “Demikianlah caranya tempat yang kudus itu diatur. Maka imam-imam senantiasa masuk ke dalam kemah yang paling depan itu untuk melakukan ibadah mereka, tetapi ke dalam kemah yang kedua (Ruang Maha Kudus) hanya Imam Besar saja yang masuk sekali setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan karena pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar. Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada. Itu adalah kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan.”

Imam Besar adalah manusia berdosa, sama seperti kita. Karena itu, seperti yang kita baca dalam ayat di atas, Imam Besar harus terlebih dahulu mempersembahkan sebuah lembu sebagai korban penghapus dosa bagi dirinya sendiri (Imamat 16:6) sebelum ia bisa masuk ke Ruang Maha Kudus untuk mempersembahkan darah bagi penebusan umat Israel. Pada saat Kitab Ibrani ditulis, Bait Suci masih berdiri dan ritual pengorbanan yang dijabarkan di atas masih dilakukan.

Dalam Ibrani 9:11-14, kita membaca: “Tetapi Mesias telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, --artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, -- dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal bagi kita. Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, betapa lebihnya darah Mesias, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Elohim sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Elohim yang hidup?”

Sekali lagi, kita melihat keimaman yang lama dibandingkan dengan Yeshua, Imam Besar dari keimaman yang baru. Keimaman yang lama telah berlalu, seperti yang kita pelajari di dalam Ibrani 8:13. Ia akan benar-benar lenyap beberapa tahun setelah Kitab Ibrani ditulis, yaitu saat Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M. Keimaman Bait Suci yang lama digantikan oleh keimaman yang lebih baik, diwakili oleh korban penebusan Yeshua di atas bukit Golgota. Tetapi, Yeshua tidak memasuki Ruang Maha Kudus yang ada di Bait Suci di bumi saat itu. Sebagai gantinya, seperti dalam ayat 11, Yeshua memasuki Kemah yang lebih besar dan lebih sempurna, “tidak termasuk ciptaan ini.” Kita akan pelajari sebagai penyeimbang pasal ini, seperti yang telah kita pelajari di Ibrani 8:5, Ruang Maha Kudus yang di bumi hanyalah salinan dari Ruang Maha Kudus yang ada di Surga, seperti yang juga disinggung dalam Keluaran 25:40. Juga, tidak seperti Imam Besar pada zaman Bait Suci, Yeshua tidak perlu mempersembahkan darah kambing dan lembu terlebih dahulu, karena Yeshua tidak berdosa.

“Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama. Sebab di mana ada wasiat, di situ harus diberitahukan tentang kematian pembuat wasiat itu. Karena suatu wasiat barulah sah, kalau pembuat wasiat itu telah mati, sebab ia tidak berlaku, selama pembuat wasiat itu masih hidup.”40

Kata Yunani diatheke dapat digunakan baik untuk perjanjian maupun wasiat. Dalam bagian ini, kata “wasiat” lebih tepat, seperti dalam kalimat “Surat Wasiat Terakhir.” Seperti anda tahu, ketika anda menulis “Surat Wasiat Terakhir,” surat itu tidak akan berlaku sampai anda meninggalkan kehidupan ini (mati). Begitu juga, dalam kasus ini, inilah “Surat Wasiat Terakhir” Yeshua. Dia membawa kita kepada Perjanjian yang Diperbaharui, ini disahkan pada saat Dia mati bagi kita di kayu salib di Golgoha. Juga, seperti perjanjian-perjanjian lainnya, ini disahkan dengan darah, dalam kasus ini adalah darah Mesias. Yeshua, seperti yang kita baca dalam ayat berikutnya (18): “Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah.”

“Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, sambil berkata: "Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Elohim bagi kamu." Dan juga kemah dan semua alat untuk ibadah dipercikinya secara demikian dengan darah.”41

Di sini penulis Kitab Ibrani merujuk kepada fakta bahwa perjanjian Musa disahkan dengan darah. Dalam Keluaran 24:8, kita melihat bahwa Musa mengambil darah lembu dan memercikkannya kepada umat Israel. Dalam Perjanjian yang Diperbaharui, jika kita percaya pada Yeshua untuk keselamatan kita, secara simbolis kita diperciki oleh darahNya, yang juga dipercikkan pada semua alat ibadah di Ruang Maha Kudus yang di Surga.

 

Pendamaian

Dalam Ibrani 9:22, kita membaca: “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (dosa).” Ini, sayang sekali merupakan kutipan yang salah dari Imamat 17:11, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya: dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu: karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.” Akan tetapi, Imamat 17:11 sama sekali tidak berkata bahwa darah adalah satu-satunya pendamaian yang diterima oleh Yang Maha Tinggi.

Dalam Yesaya 43:22-25, kita membaca bahwa Israel tidak membawa korban apapun kepada YHWH, melainkan membebani Dia dengan dosa mereka. Tetapi dengan sebuah aksi kasih karunia Ilahi, ayat 25 mengatakan kepada kita bahwa Elohim memilih untuk menghapuskan segala kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka. Juga, selama masa Pembuangan 70 tahun di Babilonia, tidak ada darah yang dikorbankan untuk penebusan karena tidak ada korban binatang yang dilakukan. Dalam Hosea 14:2, YHWH berkata, “Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada YHWH! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami.”” Sekali lagi, tidak ada darah pendamaian yang diperlukan. Raja Salomo, saat pentahbisan Bait Suci, dalam 1 Raja-raja 8:46-51, berkata:

“Apabila mereka berdosa kepadaMu--karena tidak ada manusia yang tidak berdosa--dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri musuh yang jauh atau yang dekat, dan apabila mereka sadar kembali dalam hatinya di negeri tempat mereka tertawan, dan mereka berbalik, dan memohon kepadaMu di negeri orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, dengan berkata: Kami telah berdosa, bersalah, dan berbuat fasik, apabila mereka berbalik kepadaMu dengan segenap hatinya dan dengan segenap jiwanya di negeri musuh yang mengangkut mereka tertawan, dan apabila mereka berdoa kepadaMu dengan berkiblat ke negeri mereka yang telah Kauberikan kepada nenek moyang mereka, ke kota yang telah Kaupilih dan ke rumah (Bait Suci) yang telah kudirikan bagi namaMu, maka Engkau kiranya mendengarkan di sorga, tempat kediamanMu yang tetap, kepada doa dan permohonan mereka dan Engkau kiranya memberikan keadilan kepada mereka. Engkau kiranya mengampuni umatMu yang telah berdosa kepadaMu, mengampuni segala pelanggaran yang dilakukan mereka kepadaMu, dan kiranya Engkau membuat mereka menjadi kesayangan orang-orang yang mengangkut mereka tertawan, sehingga orang-orang itu menyayangi mereka, sebab mereka itu umatMu dan milik kepunyaanMu yang telah Kaubawa keluar dari Mesir dari tengah-tengah dapur peleburan besi.”

Dengan kata lain, ketika orang-orang Yahudi berada dalam Galut (Pembuangan atau Diaspora), mereka hanya akan berdoa dengan berkiblat ke Yerusalem, memohon pengampunan dari dosa-dosa mereka dan mereka akan diampuni. Dalam Amsal 16:6, kita membaca: “Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan YHWH orang menjauhi kejahatan.”

Dalam Mazmur 78:37-39, kita membaca: “Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya. Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya. Ia ingat bahwa mereka itu daging, angin yang berlalu, yang tidak akan kembali.” Dengan ini, seharusnya menjadi jelas bagi semua bahwa banyak sekali kasih karunia di dalam perjanjian “lama.” Saya sama sekali tidak berusaha untuk mengecilkan peran penebusan darah; sebaliknya pendamaian oleh darah merupakan hal yang paling penting di dalam Alkitab. Akan tetapi, itu bukan satu-satunya cara pendamaian. Kita membaca dalam Ibrani 9:23-26:

“Jadi segala sesuatu yang melambangkan apa yang ada di sorga haruslah ditahirkan secara demikian, tetapi benda-benda sorgawi sendiri oleh persembahan-persembahan yang lebih baik dari pada itu. Sebab Mesias bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Elohim guna kepentingan kita. Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri. Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diriNya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya.”

Sekali lagi, kita melihat bahwa Yeshua membersihkan Ruang Maha Kudus di HaShamayim (Surga) dengan darahNya sendiri. Bahkan Surga telah dicemari, sebagai akibat dari pemberontakan HaSatan dan malaikat-malaikatnya. Pendapat pribadi saya adalah bahwa tidak seorangpun masuk ke dalam Surga sebelum korban penebusan dan kebangkitan Yeshua. Sebelum kebangkitan, orang-orang benar pergi ke sebuah tempat yang disebut “pangkuan Abraham,” seperti yang disebutkan di dalam Lukas 16, atau yang disebut sebagai “Firdaus/Paradiso,” seperti yang Yeshua janjikan kepada penjahat yang disalibkan di sebelahNya dalam Lukas 23:43. Juga, Yeshua “hanya satu kali saja menyatakan diriNya untuk menghapuskan dosa oleh korbanNya sendiri.” Konsep Katolik Roma bahwa Yesus dikorbankan setiap hari di dalam misa di seluruh dunia sama sekali tidak Alkitabiah.

Terakhir, dalam ayat penutup dari pasal 9, kita membaca, “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Mesias hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diriNya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.” Ini adalah sanggahan yang sangat kuat terhadap kepercayaan reinkarnasi, salah satu dari ajaran utama pergerakan New Age, juga kepercayaan di dalam Hindu, dan (yang horor dari yang paling horor!) bahkan Yudaisme Hasidik. Kabbalah adalah klenik Yahudi, dan hal ini merupakan bagian yang sangat penting dari Yudaisme Hasidik.

Saya lebih suka menyebut Kabbalah sebagai “Hinduisme yang memakai kippah,” karena Kabbalah mengambil konsep-konsep Hindu seperti reinkarnasi, perjalanan jiwa, dll dan membungkus konsep-konsep itu sehingga terlihat Yahudi. Orang-orang yang mempercayai reinkarnasi percaya bahwa jiwamu terus menerus kembali ke tubuh yang baru sampai kamu akhirnya menjadi “yang benar,” dan mengatasi “karma buruk.” Hal ini mengurangi motivasi untuk perilaku moral. Orang yang percaya akan hal ini seringkali beralasan bahwa dosa mereka saat ini merupakan karma buruk dari kehidupan sebelumnya. Mereka yang sakit atau miskin pastilah sangat jahat di dalam kehidupan yang sebelumnya, menurut kepercayaan ini, jadi untuk apa kita harus menolong mereka? Mereka mendapatkan apa yang layak mereka dapatkan! Doktrin reinkarnasi tidak memiliki tempat di dalam Yudaisme Mesianik. Ayat terakhir dari pasal 9 merujuk kepada Yom HaDin (Hari Penghakiman) di dalam Yudaisme, sebuah konsep yang dapat ditemukan baik di dalam Tanakh maupun PB.

X.PENGORBANAN MESIAS [pasal 10]

“Di dalam Torah (instruksi atau Hukum) hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”

Kutipan ayat di atas mengawali Ibrani pasal 10. Konsep yang telah diperkenalkan di pasal sebelumnya akan diajarkan lebih mendalam di pasal ini. Hukum Taurat digambarkan sebagai sebuah “bayangan saja dari keselamatan yang akan datang.” Anehnya, ini sering diartikan bahwa Torah tidak penting, sebagai sesuatu yang sudah kadaluarsa. Saya juga memiliki bayangan, dan saya yakinkan anda, saya lebih nyata dan permanen daripada bayangan saya. Bayangan saya tidak dapat menghilangkan saya dalam cara apapun juga, bahkan tidak dapat muncul jika saya menghilang. Bagaimanapun juga, seperti yang sudah dinyatakan di dalam ayat-ayat di atas, Torah tidak dapat membuat sempurna mereka yang datang ke Bait Suci dengan korban binatang. Korban itu terus menerus dipersembahkan, karena dosa juga terus menerus ada. Bahkan Cohen HaGadol (Imam Besar) harus mempersembahkan sebuah korban bagi dirinya sendiri pada Yom Kippur sebelum dia dapat mempersembahkan korban apapun bagi umat Israel. Akhirnya, penulis Kitab Ibrani (yang kita percaya adalah Rabi Shaul/Paulus) menyimpulkan, “Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.”

Saya bersyukur karena kita hidup dalam era di mana korban sembelihan tidak diperlukan untuk pengampunan dosa. Akan tetapi, korban di Bait Suci merupakan pengingat yang terus menerus dari kasih karunia (perkenan yang diberikan meskipun kita tidak pantas mendapatkannya) yang ditawarkan di dalam Tanakh (PL). Yang mana yang anda pilih: Apakah anda mau mati karena dosa anda sendiri, atau mengorbankan binatang untuk menutupi dosa anda?

Saya punya sebuah contoh fiksi dari kehidupan sehari-hari untuk mendemonstrasikan kasih karunia: Istri saya diberhentikan oleh seorang polisi karena melanggar rambu lalu lintas dan diberi surat tilang. Ketika disidang, hakim memberikan denda yang sangat berat sehingga istri saya tidak sanggup membayarnya, jadi hakim itu memutuskan untuk mengirim istri saya yang berlinang air mata ke dalam penjara. Sang polisi yang memberi surat tilang itu ada di sana, dan dia dipenuhi oleh rasa simpati kepada keadaan buruk yang dialami istri saya. Dia memutuskan untuk membayar dendanya. Hakim itu tidak peduli siapa yang membayar denda, asalkan hukumannya terbayar, dan membebaskan istri saya. Hukum tidak dihapuskan, dan hukuman karena ketidaktaatan kepada hukum juga tidak dihapuskan. Hanya saja, sang polisi mengambil alih hukuman yang harus dibayar oleh istri saya. Dengan cara yang sama, Yeshua mengambil alih hukuman yang seharusnya kita bayar dengan mengorbankan diriNya demi kita di Golgota.

Yudaisme modern mengakui bahwa tidak ada lagi korban penghapus dosa, karena Bait Suci adalah satu-satunya tempat di mana korban dapat dipersembahkan. Akan tetapi, dalam sinagoga Ortodoks ada tiga ibadah doa yang dipersembahkan setiap hari: Shaharit (doa pagi), Minhah (Doa Siang Menjelang Sore), dan Ma’ariv (Doa Malam), dijadwalkan berbarengan dengan waktu pengorbanan di Bait Suci. Implikasinya adalah doa-doa dalam sinagoga merupakan pengganti dari korban-korban yang dipersembahkan pada waktu korban Shakharit dan Minhah, walaupun tidak ada korban malam pada jam ibadah Ma’ariv.

“Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: ‘Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu--. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendakMu, ya Elohim-Ku.’” (Ibrani 10:5-7)

Ayat di atas “dikutip” dari Mazmur 40:6-8. Tetapi, jika kamu membaca dalam Mazmur itu, kamu akan melihat bahwa ayat aslinya sangat berbeda dari apa yang dikatakan di dalam Ibrani 10, karena tidak ada kalimat “tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiKu.” Sebaliknya, kalimat itu dalam bahasa Ibrani mengatakan, “tetapi Engkau telah membuka telingaku,” berarti bahwa Elohim sudah membuka telinga kita sehingga kita dapat lebih baik dalam mendengarkan Firman Elohim, termasuk Torah.

Orang-orang Yahudi yang tidak percaya menuduh penulis Kitab Ibrani secara sengaja mengutip Mazmur 40 dengan salah supaya itu menjadi sebuah nubuatan tentang Yeshua. Tetapi, menurut Dr. David Stern,42 kutipan dari Ibrani 10 sebenarnya sebuah kutipan yang akurat dari Septuaginta.43 Jika demikian kasusnya, saya tidak keberatan untuk menguraikan dengan terperinci tentang Mazmur 40 secara Mesianik. Elohim sendiri menyediakan tubuh Yeshua, di dalam rahim seorang perawan Yahudi ketika Israel dalam jajahan Roma lebih dari 2,000 tahun yang lalu. Dia memilih perawan yang akan melahirkan sang Mesias. Gadis itu harus memiliki silsilah kerajaan untuk memenuhi nubuatan Mesianik. Yeshua harus dilahirkan di Bethlehem.44

“Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--. Dan kemudian kataNya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendakMu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. ” (Ibrani 10:8-9)

Ayat di atas kadang-kadang digunakan untuk “membuktikan” bahwa Elohim telah “menghapuskan” Torah, yang sering juga disebut mengganti “Dispensasi Hukum” dengan “Dispensasi Kasih Karunia.” Teologi seperti ini sama sekali tidak Alkitabiah. Ada sangat banyak kasih karunia sebelum zaman Yeshua, dan menurut firman Yeshua sendiri di dalam Matius 5:17-19, Yeshua datang “bukan untuk menghapuskan Torah dan Kitab Para Nabi; Aku tidak datang untuk meniadakan, melainkan untuk menggenapi…” Khotbah Yeshua di bukit dalam Matius 5-7 sebenarnya menguatkan Torah. Yang pertama, yang dihapuskan, adalah imamat Lewi, dan digantikan oleh yang kedua,45 yaitu keimaman Yeshua sang Mesias.

“Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yeshua sang Mesias. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Elohim, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.”46

Sekali lagi, Rabi Shaul menyatakan bahwa yang sedang diganti adalah keimaman lama, digantikan oleh keimaman Yeshua, dan korban sekali untuk selama-lamanya. Dia melakukan ini sambil mengutip Mazmur 110:1. Imam yang melayani di Bait Suci tidak pernah duduk, tetapi berdiri terus menerus. Tetapi Yeshua, dengan duduk di sebelah kanan Elohim menunjukkan bahwa pengorbananNya adalah cukup untuk segala dosa selama-lamanya.

 

Satu Kali Korban Mesias Cukup untuk Selama-lamanya

“Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan. Dan tentang hal itu Ruakh HaKodesh (Roh Kudus) juga memberi kesaksian kepada kita, sebab setelah YHWH berfirman: "Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu," Ia berfirman pula: "Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka."”47

Ayat-ayat dari Kitab Ibrani ini dikutip dari Yeremia 31:33-34, menegaskan sekali lagi bahwa dalam Perjanjian yang Diperbaharui, Torah dituliskan di dalam hati kita. Tetapi, ditekankan juga sekali lagi bahwa dengan “satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.” Beit HaMikdash (Bait Suci) masih ada pada saat kitab ini ditulis, demikian pula, pengorbanan binatang masih dilakukan. Rabi Shaul mengatakan kepada orang-orang Yahudi Mesianik agar mereka tidak menaruh kepercayaan kepada keimaman Bait Suci untuk pengampunan dosa mereka, melainkan percaya kepada satu korban Yeshua. Dalam aplikasi kehidupan modern saat ini, ayat-ayat ini melawan imam-imam Katolik yang setiap hari mengorbankan “Yesus” di dalam misa di seluruh dunia, seperti yang ditegaskan lagi di ayat berikutnya (10:18): “Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.”

“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yeshua kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat maha kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Cohen HaGadol (Imam Besar) sebagai kepala Rumah Elohim. Karena itu marilah kita menghadap Elohim dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita; (sebab Ia, yang menjanjikannya, setia;) Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. ” Ibrani 10:19-25

              Wow! Satu keluhan saya terhadap Paulus (Rabi Shaul) adalah ia menulis kalimat yang panjang, bersambung terus-menerus, terutama ketika menggabungkan beberapa doktrin penting menjadi satu kalimat yang sangat besar. Dia merujuk hal-hal yang sangat diketahui pembaca, termasuk Ruang Maha Kudus. Dia memerintahkan kita untuk dengan penuh keberanian masuk ke dalam tempat maha kudus melalui jalan yang baru yang telah dipersiapkan bagi kita dengan korban pendamaian Yeshua di Golgota. Kita membaca di dalam Markus 15:37-38, “Lalu berserulah Yeshua dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.” Seperti yang kamu ketahui, satu-satunya orang di seluruh Israel yang dapat memasuki Ruang Maha Kudus hanyalah Imam Besar, dan hanya pada satu hari setiap tahunnya, yaitu Yom Kippur. Akan tetapi, secara rohani, Yeshua sudah mempersiapkan jalan di dalam Dia sehingga kita semua dapat masuk dengan penuh keberanian ke dalam Ruang Maha Kudus dan mengalami Elohim secara langsung. Saya tidak mau memberi terlalu banyak penekanan dalam hal perasaan, yang sangat subyektif; tetapi, saya sangat percaya bahwa sangatlah penting untuk semua orang untuk memiliki pengalaman nyata dan langsung dengan Elohim yang Hidup, sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan.

 

Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita

Di akhir kalimat yang panjang ini, Shaul memperingatkan kita agar jangan “menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Saya menyadari sepenuhnya bahwa tidak mudah untuk mencari orang-orang yang sependapat dan sepikiran dengan kita untuk beribadah bersama. Bahkan kadang-kadang mustahil. Tetapi, ini tidak boleh menjadi alasan. Kita bisa berkumpul untuk bersekutu dengan Orang-orang Percaya lainnya pada hari apapun dalam satu minggu. Akan tetapi, kita tidak boleh mengabaikan hari di mana kita diperintahkan untuk berkumpul bersama dalam Imamat 23. Ini termasuk hari Shabbat (Shabbat hari ketujuh) begitu juga dengan semua Hari Raya Alkitabiah. Setiap hari raya ini adalah mikra kodesh (pertemuan kudus). Saya pribadi merasa keberatan memberi persepuluhan kepada jemaat yang tidak menguduskan hari Shabbat, yang adalah hari pertama dari pertemuan kudus di dalam Imamat 23 dan juga merupakan satu dari Sepuluh Firman.

            Rabi Shaul menegaskan di dalam 1 Korintus 9:12-28 bahwa sebagai Orang Percaya, kita semua adalah bagian dari Tubuh Mesias. Jika anda pisahkan satu anggota tubuhmu – katakanlah, sebuah kaki – dari bagian tubuh lainnya, tidak akan lama bagian itu akan mengkerut dan mati. Juga, kita telah melihat beberapa orang yang memisahkan diri dari keseluruhan tubuh Orang Percaya secara berangsur-angsur orang itu menjadi semakin “aneh.” Salah satu contoh adalah seseorang yang menyebut dirinya “the Lone Crusader” yang biasa mengirimi kami tulisannya beberapa tahun lalu. Tampaknya, dia merasa bahwa dialah satu-satunya orang yang memiliki “Kebenaran” di Planet Bumi ini. Sayangnya, kebenaran yang dia miliki tercampur dengan banyak sekali kesalahan. YHWH menciptakan kita sebagai makhluk sosial. Percaya atau tidak, kita membutuhkan satu sama lain. Ketika kamu menjadi bagian dari tubuh Orang Percaya, setiap bagian memberi kontribusi kepada bagian tubuh lainnya. Setiap bagian, jika berdiri sendiri akan menjadi tidak produktif, tetapi digabungkan dengan beragam talenta dari orang lain menjadi lebih berharga.

              “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka. Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Elohim, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?” Ibrani 10:26-29

              Ayat 26 di atas tentang “sengaja berbuat dosa” tidak berarti bahwa kita akan menerima kutukan kekal jika kita berbuat dosa setelah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran. Faktanya, 1 Yohanes 8-9 berkata, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Yeshua sudah menanggung konsekuensi kekal dari dosa-dosa kita, dan tidak ada seorangpun di antara kita yang sempurna, kecuali Yeshua. Ini bukan berarti kesempatan untuk dapat terus berbuat dosa. Kita tidak bicara tentang “kasih karunia murahan,” di mana anda bisa hidup seenaknya. Akan tetapi, ada baiknya untuk menyeimbangkan kata-kata dari Ibrani 10:26 dengan 1 Yohanes 1:8-9. Satu ayat Alkitab diambil keluar dari konteksnya bisa membuat kerusakan besar, dan dapat menyebabkan orang meninggalkan iman. Dibaca dalam konteksnya, ayat dari Ibrani ini dapat diaplikasikan kepada mereka yang tidak menghargai korban penebusan Yeshua sang Mesias.

“Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya." Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Elohim yang hidup.”48 Kutipan pertama dari Ulangan 32:35 tidaklah populer dalam era teologi “kenyamanan”, atau teologi “saya ok, anda ok”. Beberapa tahun lalu, mungkin terlalu banyak kotbah tentang “api dan belerang penghukuman” digunakan untuk menakut-nakuti orang agar masuk ke dalam Kerajaan Elohim. Hari-hari ini, sepertinya kita bisa menggunakan rasa “takut akan Tuhan” yang benar. YHWH adalah Elohim yang penuh cinta dan belas kasih, tetapi Dia juga Elohim menghakimi dan bahkan melakukan pembalasan.

Dalam Ibrani 10:34 kita membaca, “Memang kamu telah bersimpati dalam belenggu-belengguku dan kamu telah menerima jarahan yang menjadi milikmu dengan sukacita, karena mengetahui bahwa dalam dirimu sendiri memiliki harta benda yang lebih baik dan yang tinggal tetap di surga.” Ini merupakan petunjuk tambahan yang mendukung fakta bahwa Paulus (Shaul) menulis ini ketika dipenjara. Dia menghargai mereka yang bersimpati kepadanya ketika sedang dipenjara. Kita telah menemukan banyak Orang Percaya yang sungguh-sungguh yang kebetulan ada di balik tembok penjara. Tidak seperti Paulus, beberapa memang pantas berada di sana karena kasus kriminal, tetapi meskipun begitu mereka telah datang kepada pertobatan yang sungguh-sungguh, mengetahui bahwa dosa-dosa dan kejahatan kriminal mereka telah dihapuskan sampai bersih di pengadilan surgawi. Setengah dari Perjanjian yang Diperbaharui ditulis oleh seorang tahanan!

“Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, akan datang, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Sekarang orang yang benar akan hidup oleh iman; dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."” Ibrani 10:37-38 mengutip Habakuk 2:3-4. Yeshua akan datang kembali dan akan mendirikan Kerajaan KebenaranNya. Berdasarkan 2 Kefa (Petrus) 3:8, “…bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.” Mungkin bagi kita terlihat bahwa Dia menunda kedatanganNya kembali, tetapi waktuNya adalah sempurna. Terakhir kali, dikutip, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Ini tidak berarti bahwa “iman” telah menggantikan “Torah.” Ini berarti bahwa iman kita harus mempengaruhi cara hidup kita. Sebagai contoh, orang-orang Mennonite dan Amish sungguh-sungguh hidup sesuai iman mereka. Saya tidak berkata bahwa mereka benar; maksud saya adalah iman mereka mempengaruhi cara hidup mereka. Hal ini seharusnya berlaku juga bagi kita. Jika cara hidupmu tidak dipengaruhi oleh imanmu, maka saya meragukan bahwa banyak hal telah terjadi padamu secara spiritual.

Anehnya, dalam lingkungan orang Yahudi seorang baru dapat dianggap rohani jika dia melakukan semua mitzvot (perintah-perintah). Jika seseorang melakukan Shabbat dan aturan makan sesuai dengan Halakhah Yahudi Orthodoks, dia dianggap religius. Orang Kristen menganggap seseorang religius berdasarkan apa yang orang itu percayai/imani, terlepas dari apapun tindakannya. Mungkin, di dalam Yahudi Mesianik kita bisa mendapatkan keseimbangan di antara dua kubu ekstrim ini.

 

 

XI.TRIBUN KEHORMATAN IMAN, TRIBUN KEHORMATAN PERBUATAN BAIK [pasal 11]

Pasal kesebelas dari Kitab Ibrani sering disebut sebagai “Tribun Kehormatan Iman,” karena menceritakan banyak pria maupun wanita pahlawan iman. Tetapi, jika kita membaca pasal ini dengan jujur, kita harus mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan besar sebagai hasil dari iman mereka. Karena itu, sepertinya akan lebih cocok untuk memberi judul pada pasal ini “Tribun Kehormatan Perbuatan Baik.”

Ayat yang menjadi dasar untuk Ibrani 11 ialah Habbakuk 2:4b: “Orang benar akan hidup oleh iman.” Ayat ini sering dikutip dan disalah artikan menjadi: Tuhan hanya peduli bahwa kita “percaya,” dan tidak peduli dengan perbuatan kita. Sebaliknya, ini berarti bahwa iman kita harus mempengaruhi bagaimana kita hidup, karena kita harus “hidup dengan iman (kita).” Sebuah contoh yang bagus adalah orang-orang Amish. Saya tidak membenarkan teologi mereka, tetapi mereka sungguh-sungguh hidup menurut iman mereka! Iman mereka sangat mempengaruhi gaya hidup mereka. Kitab Suci seharusnya sangat mempengaruhi gaya hidup kita. Saya percaya kepada mujizat, tetapi mujizat terbesar adalah perubahan cara hidup. Kita seharusnya diselamatkan dari dosa kita, bukan diselamatkan di dalam dosa kita.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” Ini adalah ayat pembukaan dari Ibrani pasal 11. Saya suka ini! Iman adalah substansi (materi dasar)! Kita melihat melihat sekeliling kita, dan segala yang dapat kita lihat, dengar, sentuh, dan rasakan cenderung menentukan realitas kita. Bagaimanapun juga, dunia jasmani ini hanya sementara. Hampir semua yang dapat kita lihat sekaranga, suatu hari nanti akan lenyap. Dunia spiritual yang tidak kelihatan justru lebih nyata, karena itu akan bertahan untuk selamanya. Dalam dunia spiritual yang tidak terlihat ini, iman adalah sebuah substansi (materi dasar)! Iman dapat mengubah persepsi seseorang tentang kenyataan, dan bahkan mengubah kenyataan seseorang dengan mengubah keadaannya.

   Dalam kitab-kitab Yahudi, ada tulisan-tulisan serupa tentang pahlawan iman. Kitab Makabe ditulis pada masa jeda Perjanjian (periode antara penulisan PL dan PB). Walaupun tidak termasuk ke dalam Tanakh (PL), mereka ada dalam Kitab Suci King James tahun 1611 yang asli, bersama dengan kitab-kitab lainnya yang disebut Apokrifa/Deuterokanonika. Sayangnya, “Kitab Suci King James 1611” masa kini telah menghapus Kitab Makabe dari dalamnya. Dalam 1 Makabe 2:51-64, kita memiliki catatan tentang para pahlawan iman yang mirip dengan Ibrani 11:

“Ingatlah perbuatan dari nenek moyang kita pada jaman mereka, dan kamu akan memenangkan kemuliaan yang besar dan kemasyuran yang kekal. Bukankah Abraham ditemukan setia saat dicobai, dan diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran? Yosef, di saat kesusahannya, setia melakukan perintah-perintah Elohim, dan menjadi tuan di tanah Mesir. Pinehas bapa kita, karena ketaatannya yang berkobar-kobar, menerima perjanjian tentang keimaman yang kekal. Yosua, karena melakukan tugas yang diberikan kepadanya, menjadi seorang hakim di Israel. Kaleb, karena menjadi saksi yang benar di tengah-tengah jemaat Israel, menerima bagian di Tanah Perjanjian. David, karena kesalehannya, menerima tahta kerajaan untuk selama-lamanya sebagai pusaka. Elia, karena kesungguhannya pada Hukum Taurat yang berkobar-kobar, diangkat ke surga. Hananiah, Azariah dan Mishael, karena iman mereka, diselamatkan dari api. Daniel, karena kemurniannya, dibebaskan dari rahang singa. Dan juga, pertimbangkanlah ini dari generasi ke generasi, bahwa tidak satupun yang berharap padaNya akan gagal dalam kekuatan. Janganlah takut kepada kata-kata manusia berdosa, karena kemuliaannya akan berakhir dalam kebinasaan dan cacing. Hari ini dia ditinggikan, besok dia tidak diketemukan, karena dia sudah kembali menjadi debu, dan maksud jahatnya telah musnah. Anak- anakku! Kuatkan dan teguhkanlah hatimu di dalam melakukan Hukum Taurat, karena dengan itulah kamu akan ditinggikan.”49

Semua “pahlawan iman” yang terdaftar di dalam Kitab Makabe dan Ibrani 11 ini adalah pahlawan “Perjanjian Lama, sebelum Kristen.” Mereka menetapkan contoh yang luar biasa bagi kita.

“Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Elohim, sehingga apa yang kita lihat telah dibuat oleh apa yang tidak dapat kita lihat.”50 Firman Elohim menurut Yokhanan (Yohanes) 1:1-3 adalah Yeshua, yang adalah Co-Creator Alam Semesta. Mungkin inilah sebabnya mengapa istilah “Elohim” digunakan sebagai Pencipta dalam Kejadian 1 dan 2. Seperti yang anda ketahui, Elohim adalah kata bentuk jamak. Kata ini diterjemahkan sebagai “God/Ilah” dalam Kejadian 1, tetapi juga diterjemahkan sebagai “gods/ilah-ilah” dalam Keluaran 20:3 dan beberapa tempat lainnya dalam Alkitab. Dalam Ibrani 11:3, kita belajar bahwa hal-hal yang terlihat dibuat oleh apa yang tidak terlihat!

Ini mirip dengan Teori Big Bang. Berdasarkan teori itu, pada mulanya tidak ada apa-apa, kemudian terjadi ledakan! Ya, tidak begitu juga, tetapi ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh para ilmuwan. Mereka berkata bahwa sebuah padatan berbentuk bola, berisi seluruh materi penyusun alam semesta, berukuran lebih kecil dari bola basket, meledak miliaran tahun yang lalu, menciptakan kosmos atau alam semesta. Ruang dan waktu dimulai pada saat itu. Sangat menarik bahwa sekarang para ilmuwan menyadari bahwa alam semesta memiliki awal. Beberapa dekade yang lalu, para ilmuwan bahkan tidak mau mengakui bahwa alam semesta memiliki awal mula. Bagaimanapun juga, menurut pendapat saya, Teori Big Bang memerlukan lebih banyak iman daripada, “Pada mulanya Elohim menciptakan langit dan bumi.”50

“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Elohim korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Elohim berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.”52 Ketika anda membaca kisah sebenarnya dalam Kitab Kejadian, ini mungkin terlihat tidak adil. Mengapa Elohim menolak persembahan Kain? Saya akan berasumsi bahwa Elohim bahkan pada saat itu menginginkan sebuah korban darah, sebagai pelopor dari pengorbanan Yeshua di kayu salib karena dosa-dosa kita. Maka, Kain juga memiliki kesempatan untuk dapat mempersembahkan yang berkenan kepada Elohim, tetapi sebaliknya memilih untuk membunuh adiknya. Beberapa orang menyebutkan kemungkinan bahwa Kain tidak bermaksud membunuh adiknya. Sampai saat itu, belum ada seorangpun yang mati! Dia mungkin bermaksud hanya untuk melukai adiknya, Habel, tetapi berakhir dengan pembunuhan pertama.

   “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Elohim telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Elohim (Ibrani 11:5).” Dalam Kitab Kejadian, kita memiliki silsilah dari Adam sampai Nuh. Metusalah hidup sampai umur yang sangat tua yaitu 969 tahun, tapi ayahnya hidup lebih lama dari itu (Kejadian 5:27)! Bagaimana itu mungkin terjadi? Ya, menurut para Rabi (dan juga Alkitab), Henokh “terangkat,” berarti dia langsung diangkat ke surga tanpa mengalami kematian karena kebenarannya. Anehnya, Kitab Henokh juga diterjemahkan (dari bahasa Etiopia yang disebut Geez) ke dalam bahasa Inggris. Penerjemahnya adalah Richard Laurence, seorang professor bahasa Ibrani dari Oxford pada tahun 1821. Yudas 1:14-15 menyebutkan Kitab Henokh, tetapi kita tidak yakin kalau Kitab Henokh yang dari Etiopia itu adalah sama dengan naskah kuno yang dimaksud oleh Yudas. Bagaimanapun juga, buku itu menarik untuk dibaca.

“Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Elohim. Sebab barangsiapa berpaling kepada Elohim, ia harus percaya bahwa Elohim ada, dan bahwa Elohim memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).” Dengan ampuh, ini menyingkirkan atheisme. Begitu juga, dalam Eseret D’varim (“Sepuluh Firman”), firman pertama ialah, “Akulah YHWH Elohimmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mesir, keluar dari tempat perbudakan (Keluaran 20:2).” Menurut para Rabi, sebenarnya ini adalah perintah untuk percaya kepada Elohim. Pendapat pribadi saya adalah sangat sedikit sekali orang Yahudi yang atheis. Banyak orang Yahudi yang marah kepada Tuhan, dan memberontak kepada Yang Maha Tinggi, tetapi mereka percaya kepadaNya. Juga, ada beberapa orang yang punya pendapat bahwa kita seharusnya tidak melakukan perbuatan baik agar mendapatkan pahala dari Elohim. Hal ini terdengar sangat mulia dan mementingkan kepentingan orang lain. Konsep seperti itu mungkin merupakan pembenaran pribadi, yang menyebabkan kesombongan rohani. Sebaliknya, kita “harus percaya bahwa Dia adalah pemberi upah bagi mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Upah itu mungkin selama kita hidup di dunia ini (Olam HaZeh), atau di Dunia yang Akan Datang (Olam HaBa), tetapi pasti ada upah.

 

 

NOACH (Nuh)

“Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Elohim tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya (Ibrani 11:7).” Nuh adalah orang dengan iman yang besar. Tampaknya, dia memiliki hubungan yang dekat dengan Bapanya di Sorga, yang dapat dibuktikan dari komunikasi mereka satu sama lain. Elohim memberikan petunjuk yang sangat spesifik, mengatakan kepadanya tentang air yang akan datang ke bumi dalam bentuk hujan, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebelum Air Bah, “sebuah kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu (Kejadian 2:6).” Gagasan mengenai air yang akan jatuh dari langit mungkin terdengar menggelikan bagi orang yang kurang iman.

              Nuh juga diperintahkan untuk membangun sebuah kapal yang sangat besar (atau bahtera) sekitar 450 kaki panjangnya (hampir 150 meter) dan sekitar 45 kaki tingginya dan sekitar 75 kaki lebarnya (Kejadian 6:15). Ini adalah kapal yang amat sangat besar, bukan perahu kecil seperti yang sering ada di dalam Alkitab bergambar dengan beberapa pasang jerapah melongok keluar dari atapnya. Sebagai gambaran untuk ukurannya, bayangkan sebuah gedung pencakar langit 45 lantai berbaring di tanah. Tidak diragukan lagi, kapal ini dibangun jauh di tengah-tengah dataran, jauh dari laut manapun. Memerlukan orang dengan iman yang besar untuk mau melakukan pekerjaan semacam ini, yang memakan waktu 120 tahun untuk membangunnya.

Sebagai tambahan informasi, beberapa kritikus Alkitab menolak kisah tentang Nuh dan Air Bah. Namun, cerita tentang Nuh disebutkan di dalam Tanakh dan PB. Jika kamu percaya kepada salah satunya atau keduanya, kamu harus percaya kepada kisah Nuh. Anehnya, para ilmuwan yang mempelajari permukaan planet Mars sekarang yakin bahwa planet padang gurun yang tandus dan kering itu pernah mengalami banjir besar di seluruh planetnya yang ditandai dengan bekas-bekas yang terlihat di seluruh permukaan planet itu. Tetapi, mereka bingung ke mana perginya semua air itu. Ini sangat aneh bahwa beberapa ilmuwan dapat menerima konsep tentang Air Bah terjadi di planet yang gersang, tetapi tidak dapat menerima konsep tentang Air Bah pada Planet Bumi yang 75% ditutupi oleh air!

 

 

AVRAHAM AVINU (Abraham, Bapa Kita)

“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Elohim. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat (untuk melahirkan anak), karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Elohim tidak malu disebut Elohim mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: "Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu." Karena ia berpikir, bahwa Elohim berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.”

Lebih banyak tempat dikhususkan bagi Abraham daripada para pahlawan iman pria dan wanita di dalam pasal ini. Akan menjadi sebuah kesalahan untuk merohanikan semua janji yang dibuat dalam perjanjian Abraham. Sebagai contoh, Abraham mencari tanah air sorgawi. Seperti yang dinyanyikan oleh Larry Norman, “Dunia ini bukanlah rumahku; saya hanya melewatinya.” Bagaimanapun juga, Elohim juga menjanjikan sebuah tanah secara fisik kepada Abraham, menjelaskan batas-batasnya dalam Kejadian 15:18-21. Menurut janjiNya, YHWH secara berdaulat akan membawa keturunan jasmani dari Abraham, Ishak dan Yakub kembali ke Tanah mereka, dari semua tempat di mana mereka telah terpencar selama berabad-abad. Anehnya, Abraham, Ishak dan Yakub tidak menerima tanah ini pada saat hidup mereka, tetapi mereka percaya bahwa tanah itu akan menjadi milik mereka sesuai dengan janji Tuhan. Abraham bahkan harus membeli sebuah tanah untuk menguburkan istrinya Sarah! Elohim sangat murah hati kepada orang-orang Arab, memberi mereka tanah setidaknya 540 kali lebih besar daripada yang Ia berikan kepada Israel, bersama dengan kekayaan timbunan minyak di dalamnya. Tetapi, Tanah Israel diberikan kepada keturunan Abraham, Ishak dan Yakub, bukan kepada keturunan Ismael.

Abraham juga dianggap sebagai orang dengan iman yang besar karena meskipun ia dan Sarah sudah sangat tua, dia percaya bahwa Elohim sanggup untuk membuatnya dan Sarah memiliki seorang anak laki-laki, yang merupakan anak perjanjian. Ini merupakan anak mujizat, karena Sarah sudah lewat dari umur untuk melahirkan. Ishak, adalah seperti Yeshua sang Mesias, yang juga merupakan anak mujizat, karena dilahirkan oleh seorang perawan.

Dalam ayat 16, kita membaca bahwa Elohim mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Penggenapan puncak dari kota ini adalah Yerushalayim Chadash, Yerusalem Baru, yang digambarkan di dalam penglihatan Yokhanan dalam Wahyu 21:2, yang akan turun dari Sorga.

Dalam ayat 17, kita membaca tentang apa yang disebut Akedat-Yitzchak, Pengikatan Ishak, digambarkan dalam Kejadian 22:1-19. Ini adalah bagian dari liturgi sinagoga untuk Rosh HaShanah. Dalam doa Musaf (doa tambahan) itu, kita mengingatkan Elohim untuk mengingat Akedah. Ini adalah gambaran awal (pre figure) penyaliban Yeshua. Bapa kita di Surga mempersembahkan AnakNya yang tunggal sebagai korban pendamaian atas dosa-dosa kita. Abraham memulai perjalanan tiga hari untuk mempersembahkan anaknya yang tunggal karena ketaatan kepada YHWH. Selama tiga hari, Ishak bagaikan sudah mati di dalam pikiran ayahnya. Begitu juga, Yeshua telah berada selama tiga hari tiga malam di dalam perut bumi (Matius 12:40), seperti Yunus berada tiga hari tiga malam di dalam perut ikan besar!

Abraham mau melakukan ini, meskipun faktanya dia tahu bahwa “Di dalam Ishaklah keturunanmu akan disebut,” karena dia tahu bahwa Elohim sanggup untuk membangkitkan dia dari kematian. Tentu saja, dalam kasus Yeshua, Yeshua benar-benar bangkit dari kematian!

Ya’akov (Yakobus) 2:21-22 mengatakan kepada kita, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Ya’akov (Yakobus) 2:26 menambahkan bahwa “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Sayangnya, Martin Luther, saat menerjemahkan Alkitab ke bahasa Jerman, mengganti teksnya. Setiap kali ada bagian tentang “iman,” dia akan menggantinya dengan “iman saja.” Kitab Yakobus bertentangan dengan teologi Luther, sehingga pada awalnya dia bermaksud untuk menghapus Yakobus dari Alkitabnya, tetapi akhirnya memutuskan untuk tetap memasukkannya.

“Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya. Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-belulangnya.”53 Ini mungkin awal dari tradisi kuno bangsa Yahudi di mana seorang ayah memberkati anak-anaknya. Tetapi, mengapa menunggu sampai sekarat? Dalam rumah tangga Yahudi taat zaman sekarang, ayah memberkati anak lelaki dan perempuannya setiap Shabbat! Untuk anak laki-lakinya, mereka berdoa, “Kiranya Elohim mebuatmu seperti Efraim dan Manasye,” dan untuk anak perempuannya mereka berdoa, “Kiranya Elohim membuatmu seperti Sarah, Ribka, Rahel dan Lea.” Dalam kasus Yakub dan Yosef, ayah memberi nubuatan tentang anak-anaknya saat ayah akan kematian.

 

MOSHE (Musa)

“Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja. Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Elohim dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Mesias sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah. Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. Karena iman maka ia mengadakan Pesach (Paskah) dan pemercikan darah, supaya pembinasa anak-anak sulung jangan menyentuh mereka.”

Tidaklah terlalu mengejutkan bahwa kita menemukan beberapa ayat tentang Musa di dalam pasal tentang pahlawan iman. Abraham, Ishak dan Yakub merupakan Bapa Leluhur orang Yahudi. Akan tetapi, Musalah yang membuat mereka menjadi bangsa yang sesungguhnya. Dia juga merupakan alat yang digunakan Elohim untuk membawa Torah kepada umatNya. Rumah produksi film Dreamworks berbaik hati dengan membuat film yang mengagumkan The Prince of Egypt. Sekarang, Musa menjadi keren! Itu merupakan film yang bagus tentang iman, dengan garapan musik yang indah. Meskipun ada sedikit cacat pada beberapa elemen berbau Hollywood, sama seperti film Cecil B. DeMille The Ten Commandments,  The Prince of Egypt adalah film yang saya rekomendasikan bagi keluarga. Dapatkan videonya!

   Musa akhirnya menyadari bahwa bangsanya adalah orang Israel, dan dia menolak menjadi pangeran Mesir, “lebih suka menderita sengsara dengan umat Elohim dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.”

              Ia menganggap ‘penghinaan karena Mesias sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah.” Meski mungkin pengetahuannya tentang pengharapan Mesianik sangat sedikit, tampaknya dia mungkin menyadari adanya sosok Mesias yang akan datang dari bangsa Israel. Akhirnya, inilah saat di mana upah rohani akan diberikan. “Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.” Mata rohaninya terbuka dan dia memiliki lebih banyak “takut akan Tuhan” daripada takut pada Firaun.

Akhirnya, di bawah Musalah Pesakh ditetapkan, yang menghasilkan pembebasan bangsa Israel dari tanah Mesir, yang adalah simbol dunia. “Karena iman maka mereka telah melintasi Laut Teberau sama seperti melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga (Ibrani 11:29).” Ini adalah salah satu dari mujizat besar dalam Kitab Suci. Perlu anda ketahui, beberapa teolog liberal mengatakan bahwa air yang diseberangi hanya sekitar 15 cm saja dalamnya. Hal itu malah membuat menjadi mujizat yang lebih besar lagi, karena pasukan Mesir tenggelam di dalam air sedalam 15 cm! Keluarnya bangsa Israel dari Mesir dan kehancuran yang disebabkan oleh tulah-tulah adalah yang menyebabkan Mesir mengalami penurunan dari sebuah bangsa yang besar ke status “pernah menjadi” suatu bangsa. Sampai hari ini, Mesir tidak pernah melihat kemuliaannya yang dahulu kembali.

“Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya. Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan damai (Ibrani 11:30-31).” Dua ayat ini dipasangkan bersama. Adalah Rahab yang menyembunyikan dua mata-mata Israel, ketika dia mengakui “YHWH, Elohimmu, ialah Elohim di langit di atas dan di bumi di bawah (Yosua 2:11).” Rahab didaftarkan sebagai satu dari pahlawan iman di dalam Ibrani 11. Tetapi, beberapa abad kemudian, dia masih disebut Rahab si perempuan sundal, walaupun dia memulai sebuah pekerjaan baru sebagai penjual suvenir di Yericho setelah ditaklukkan oleh Israel. Ini menunjukkan betapa sulitnya membuang reputasi buruk! Kota pertama yang ditaklukkan adalah Yerikho, ketika “temboknya diruntuhkan,” secara supranatural. Ini merupakan batu loncatan untuk menguasai semua tanah Israel. Anehnya, kota pertama yang diserahkan kepada Arafat setelah Persetujuan “Damai” Oslo yang ditandatangani pada 1993 adalah Yerikho. Saya yakin bahwa Arafat memandang Yeriko sebagai batu loncatan untuk menguasai seluruh Israel.

“Dan apakah lagi yang harus aku katakan? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.”

Ini semua adalah para pahlawan iman, yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar sebagai hasil dari iman mereka. Gideon “direkrut” oleh YHWH untuk berperang melawan orang-orang Midian yang menekan Israel. Dia mengumpulkan sebuah pasukan yang terdiri dari 32,000 orang untuk berperang dengan orang Midian, tetapi Elohim memilih untuk berperang hanya dengan 300 orang saja (Hakim-Hakim 7), supaya bangsa Israel tidak memegahkan diri dalam kekalahan orang Midian. Jenderal Barak menolak untuk pergi berperang tanpa D’vorah (Debora), dan seperti yang dinubuatkan oleh D’vorah (Hakim-Hakim 4:9), bahwa seorang wanita (Yael – “Yah-El”) yang akan mengalahkan Sisera, jenderal orang Kanaan. Yefta ialah hakim yang mengalahkan bangsa Amon. Seperti pada saat ini, Israel dulu memiliki banyak musuh dan sedikit teman. Sangat disesalkan, hari ini Yefta paling diingat karena nazar tragis yang dia ucapkan di Hakim-hakim 11. David, tentunya ialah Raja Israel, tetapi dia juga menulis banyak sekali Mazmur, beberapa bahkan bersifat profetik (contoh: Mazmur 22 dan 110), jadi, bagi saya, Raja David memenuhi syarat untuk disebut nabi. David ialah seorang penakluk yang dirujuk oleh penulis Kitab Ibrani. Samuel adalah seorang hakim sekaligus nabi. Ibunya adalah Hannah. Doa puji-pujian Hannah setelah kelahiran Samuel (1 Samuel 2) sangat mirip dengan doa puji-pujian Miriam di dalam Lukas 1:46-55.

 

Kesyahidan (Kematian sebagai martir)

“Perempuan-perempuan telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. (Dunia ini tidak layak bagi mereka:) Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Elohim telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.“

Dalam bagian awal dari pasal ini kita memiliki “kabar baik,” tentang orang-orang percaya yang mengatasi musuh mereka dan bangkit sebagai pemenang. Sekarang kita punya “kabar buruk.” Bahkan orang-orang besar di dalam iman mengalami disiksa, dipenjara, dihina, dan dicambuk. Dalam 2 Makabe 7, kita membaca tentang kematian syahid dari tujuh anak laki-laki Hannah. Mereka mengalami siksaan yang mengerikan, satu dibakar hidup-hidup, yang lain dikuliti hidup-hidup, ada yang dipotong tubuhnya, dan bermacam siksaan barbar lainnya di tangan Antiokhus Epifanes. Mereka dapat menghindari semua itu hanya dengan memakan babi yang dihidangkan bagi mereka, tetapi mereka menolak.

Satu dari anak lelaki Hannah berkata kepada Antiokhus, “Kamu iblis yang tidak manusiawi, kamu bisa mencabut nyawa kami kehidupan ini, tetapi Raja dari dunia ini akan membangkitkan kami lagi, karena untuk hukumNyalah kami mati, untuk hidup lagi selamanya.” Anak muda yang dimutilasi berkata, “Dari Surga aku menerima anggota tubuhku; demi mitzvotNya (perintah-perintahNya) aku merelakannya; dari Dia, aku berharap untuk menerimanya kembali.”

Setelah dia, saudara lainnya yang juga disiksa secara kejam berkata, “Pilihan kami lebih baik, menemui ajal di tangan manusia, namun bersandar pada janji Elohim bahwa kami akan dibangkitkan kembali olehNya; tetapi bagimu, tidak akan ada kebangkitan, tidak ada kehidupan baru.” Kemudian, dia dibunuh.

Setelah dia, saudara lainnya berkata, “Kamu memiliki kuasa atas manusia, kamu fana, dan kamu bisa bertindak semaumu. Tetapi jangan kamu kira bahwa bangsa kami ditinggalkan oleh Elohim. Tunggulah, dan kamu akan melihat bagaimana kekuatanNya yang besar akan menyiksamu dan rasmu.”

Hannah masih memiliki satu anak terakhir. Bukannya memohon kepada dia untuk memakan babi dan menyelamatkan nyawanya, dia berkata kepadanya, “Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul di rahimku; bukan aku yang memberimu nafas dan kehidupan, bukan aku juga yang membentuk bagian-bagian tubuhmu. Adalah Sang Pencipta alam semesta, yang menentukan bagaimana kelahiran manusia, dan yang memimpin awal mula segala sesuatu, yang dalam belas kasihNya pasti akan mengembalikan kepadamu nafas dan hidup, melihat bahwa kamu tidak mengindahkan keberadaanmu sendiri demi hukumNya.”

Raja Antiokhus kemudian membujuk anak muda itu dengan menjanjikan akan membuatnya kaya sekaligus senang jika dia mau meninggalkan tradisi nenek moyangnya, dan juga memberinya kedudukan di pemerintahan. Anak muda itu menjawab, “Aku tidak akan tunduk pada kewenangan raja. Aku mematuhi kewenangan Torah yang diberikan kepada nenek moyang kami melalui Musa. Tetapi bagimu, tuan, yang telah merancangkan segala hal jahat terhadap orang Ibrani, kamu tidak akan lolos dari tangan Elohim… Saudara-saudaraku, setelah menanggung penderitaan yang singkat, sekarang meminum kehidupan yang mengalir selamanya, karena kebajikan janji Elohim, sedangkan kamu, dengan penghakiman Elohim, akan membayar hukuman yang adil karena kesombonganmu …” Sang raja sangat marah dan memperlakukan yang terakhir ini bahkan lebih kejam daripada yang sebelumnya. Ibunya merupakan yang terakhir mati, setelah melihat anak-anaknya dibunuh.

Betapa iman yang besar! Saya berharap agar saya tidak pernah ditaruh di dalam posisi seperti itu! Banyak orang percaya hari-hari ini makan babi secara sukarela! Tujuh anak lelaki Hannah menolaknya dengan taruhan nyawa mereka! Walaupun saya tidak menganggap Kitab Apokrifa (Deuterokanonika) sebagai “Kitab Suci,” tetapi Kitab-kitab itu sangat memberi inspirasi. Anda bisa membeli sebuah Alkitab Katolik, untuk membaca Kitab Makabe saja, yang tidak termasuk di dalam hampir semua Alkitab Protestan.

Ribuan orang Kristen menderita sebagai martir di bawah kekaisaran pagan Roma. Kemudian, setelah Kaisar Konstantin diduga pindah agama ke dalam Kekristenan, maka kebalikannya, Kekristenanlah yang menjadi penyiksa. Ribuan orang Yahudi, Protestan dan lainnya menderita sebagai martir di bawah Gereja Katolik Roma pada abad-abad berikutnya.

Banyak dari kita hidup di abad 21 di negara-negara barat tidak kuatir akan berhadapan dengan penyiksaan. Tetapi, selama berabad-abad, dan bahkan di banyak negara saat ini, Orang Percaya seringkali disiksa dengan kejam. Orang Percaya yang hidup di negara Komunis menderita dengan mengerikan. Komunisme saat ini hanyalah bayangan masa lalu, karena satu demi satu bangsa-bangsa itu telah dilepaskan dari kutuk Komunisme, walaupun beberapa, seperti Cina Daratan, masih diktator, meskipun dengan kapitalisme bukannya sosialisme. Penyiksa paling buruk pada masa kini adalah di bermacam rezim Islam di Asia dan Afrika. Presiden Bush bisa bicara tentang Islam sebagai agama damai. Akan tetapi, kenyataannya jauh berbeda. Islam sejak permulaannya adalah agama kekerasan dan penaklukkan. Kita membaca dalam Ibrani 11:35-40 tentang mereka yang dihina, dicambuk, dan disiksa karena iman mereka. Sangat disesalkan, hal ini masih berlanjut hingga saat ini. Tetapi mereka yang mengalami siksaan itu karena iman mereka, pada akhirnya akan menerima imbalan yang lebih besar.

 

XII.BERLARI DALAM PERLOMBAAN [ pasal 12]

Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yeshua, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.54

Kalimat di atas merupakan kalimat pembuka Ibrani pasal 12, teks yang akan kita pelajari pada artikel ini. Seperti yang anda ketahui, pembagian pasal dalam Alkitab adalah buatan manusia yang memungkinkan kita untuk menentukan lokasi ayat tertentu secara lebih mudah, dan membagi-bagi Kitab Suci ke dalam ukuran yang lebih mudah dicerna, sehingga lebih mudah dibaca. Saya dapat memahami kesulitan dalam menentukan di mana harus dibuat pembagian pasal. Akan tetapi, saya melihat bahwa seringkali pembagian pasal dilakukan di pertengahan paragraf. Seperti dalam kasus di sini. Kata pertama dari pasal ini adalah “Oleh karena itu,” atau “Dengan demikian,” seperti yang tertulis di dalam KJV. “Oleh karena itu,” kelihatan jelas bahwa awal dari Ibrani 12 ini terhubung dengan pemikiran yang sama yang menutup Ibrani 11.

Penulis Kitab Ibrani (yang kita asumsikan adalah Rabi Shaul [Paulus]) berkata, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita…” Siapa, coba katakan, yang dimaksud dengan “banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita”? Sangat jelas, ini menunjuk pada para pahlawan iman (dan perbuatan-perbuatan besar!) yang dijelaskan dalam Ibrani 11. Mereka semua ada “sebelum Perjanjian Baru,” yaitu orang-orang yang hidup sebelum waktu kehidupan Yeshua sang Mesias. Orang-orang besar ini menjadi contoh untuk kita ikuti hari ini. Tidak ada dari mereka yang memiliki konsep “Teologi Dispensasi,” seperti yang diajarkan hari-hari ini, yang “tidak memerlukan” Torah, atau setidaknya sebagian besar dari Torah.

            Kemudian Rabi Shaul melanjutkan pengajaran, yaitu perjalanan kita bersama Mesias dibandingkan dengan sebuah perlombaan, seperti pelari marathon. Dia berkata, “Marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita…” Dulu, ketika masa remaja, saya tidak begitu suka olahraga. Koordinasi gerak tubuh saya sangat buruk. Satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan cukup baik adalah berlari. Jadi, saya bergabung dengan tim lari lintas alam ketika saya di sekolah menengah atas. Sebenarnya, ini bukan olahraga yang menarik banyak penonton di sekolah, tetapi cukup menarik minat orang yang dapat berlari, tetapi tidak berbakat untuk menangani bola!

Pada abad-abad awal, orang Yahudi tidak menyukai olahraga kompetitif apapun. Orang-orang Yunani adalah penggemar berat berbagai macam olahraga, dan tentu saja, mereka juga pemain utama dalam menyebarkan paganisme (penyembahan berhala). Adalah orang Yunani yang pertama kali membangun gedung olahraga di Yerusalem.55 Kompetisi olahraga orang Yunani menjadi sangat populer, sehingga  orang Yahudi juga mulai terlibat dalam permainan-permainan olahraga itu, bahkan melakukan operasi yang disebut epispasm, untuk menghilangkan tanda bekas sunat. Jangan tanya saya bagaimana itu dilakukan! Mungkin itu dilakukan melalui penarikan kulit, yang pasti sangat menyakitkan. Karena, orang Yahudi diperbolehkan ikut lomba hanya jika tanda sunatnya dihapus. Perlombaannya dilakukan dalam keadaan telanjang, yang adalah pelanggaran luar biasa dalam aturan agama Yahudi. Tetapi, kekuasaan Yunani sangat sedikit menghargai prinsip agama Yahudi.

              Pada Abad Pertama Masehi, di seluruh Israel, kekuasaan Yunani telah digantikan oleh kekuasaan Roma. Bangsa Roma seringkali kejam dan otoriter, tetapi mereka menunjukkan toleransi yang lebih besar terhadap agama Yahudi. Kompetisi olahraga tidak lagi dalam keadaan telanjang dan orang Yahudi yang disunat boleh berpartisipasi. Di antara orang-orang Yahudi yang menjadi penggemar permainan itu, sepertinya Rabi Shaul adalah satu di antaranya. Rabi Shaul menggunakan ungkapan-ungkapan dalam olahraga beberapa kali di dalam tulisan-tulisannya, terutama ketika menulis untuk bangsa-bangsa (1 Kor. 9:24-27; Fil. 3:12-14; 2 Tim. 4:7-8). Saya melihat ini sebagai cara untuk berbicara sesuai level pendengar dan diharapkan dapat membawa mereka ke tingkat yang lebih tinggi. Saya tidak percaya bahwa Alkitab “anti-olahraga.” Akan tetapi, saya bisa membayangkan bagaimana perasaan Tuhan Yang Maha Tinggi melihat Orang Percaya sangat menyukai olahraga atau atlit tertentu sampai hampir memujanya. Pada bagian ini Rabi Shaul berbicara kepada orang Yahudi. Ketika dia berkata, “marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita,” dia menggunakan perumpamaan olahraga. Atlet yang sukses adalah yang berdedikasi/tekun. Dia “menanggalkan semua beban.” Atlet yang tekun akan hati-hati menjaga makanannya, mematuhi jadwal latihan, dan menghindari semua hal yang akan menghambat perkembangan fisiknya. Jika Orang Percaya sama tekunnya dengan atlet, dia akan membuang semua hal yang akan menghambat perkembangan spiritualnya sehingga dia dapat “berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Beberapa puluh tahun yang lalu, saya melakukan lari lintas alam. Saya jelas bukan bintang pelari. Dalam lari cepat 100 meter, orang-orang yang badannya lebih kecil sudah melewati garis akhir bahkan sebelum saya memulai! Juga, saya kurang koordinasi untuk lari rintangan. Jadi, saya berlari lintas alam, normalnya sekitar 3,4 sampai 3,8 km, saya melakukannya seperti lari jarak jauh! Dan, saya harus akui, di akhir lari jarak jauh itu, saya kehabisan tenaga. Saya dengan penuh hasrat mencari-cari garis akhir, dengan ledakan tenaga sisa, berharap untuk mengalahkan beberapa orang dari tim lawan saat saya berlari menuju garis akhir!56 Begitu juga, Orang Percaya “melihat kepada Yeshua, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan,” atau seperti yang dikatakan oleh David Stern di dalam terjemahan Yahudi Mesianiknya, “yang membuat lengkap (completer)” iman kita.

Saya tidak suka membayangkan penderitaan penyaliban. Itu adalah metode hukuman mati yang paling barbar, kejam, dan menyakitkan. Tetapi, penulis Ibrani berkata tentang Yeshua bahwa Dia “yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Elohim.” Jika kengerian penyaliban tidak berarti dibandingkan sukacita yang didapatNya, pastilah sukacita itu penuh kemuliaan!

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.57 Seperti yang dikatakan di dalam Lukas 18:32-33: “Sebab Ia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Elohim, diolok-olokkan, dihina dan diludahi, dan mereka menyesah dan membunuh Dia, dan pada hari ketiga Ia akan bangkit." Walaupun bagian ayat ini menaruh tanggung jawab pada bangsa-bangsa yang menyalibkan Yeshua, harus dicatat juga bahwa Yeshua dikhianati dan diserahkan ke tangan Roma oleh keputusan petinggi agama Yahudi. Dia secara brutal disiksa dan dianiaya oleh tentara Roma. Dia melakukan itu semua bagi kita! Jadi janganlah “lemah dan putus asa.”

Dalam pergumulan kamu melawan dosa kamu belum sampai mencucurkan darah.58 Secara normal, ayat ini ditafsirkan bahwa Orang Percaya Mesianik ini belumlah menderita penganiayaan sampai mati karena iman mereka. Itu mungkin bisa dikatakan sebagai tafsir yang baik. Akan tetapi, jika kita percaya kepada Tanakh59 (dan memang kita percaya!), kita tahu bahwa Torah mengharuskan hukuman mati untuk beberapa dosa tertentu. Negara-negara yang percaya kepada Alkitab seharusnya mau memberikan hukuman mati untuk kejahatan seperti pembunuhan.

 

Peng(h)ajaran dari Bapa

Dalam Ibrani 12:5-11, kita membaca, “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan YHWH, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; karena YHWH menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Elohim memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi mamzerim. Selanjutnya: dari ayah kita yang di bumi kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

              Dalam paragraf di atas, Rabi Shaul meninggalkan analogi tentang perlombaan dan masuk kepada analogi tentang “Kebapakan” Elohim, mengutip dari Amsal pasal 3. Kita menerima didikan dari ayah kita di bumi yang bertujuan untuk kebaikan kita. Betapa lebihnya harus kita terima didikan dari Bapa Sorgawi kita! Lebih daripada itu, jika kita tidak dididik olehNya, itu berarti bahwa kita bukanlah anakNya. Mungkin inilah mengapa sepertinya orang-orang fasik tampak menikmati hidup enak dan lolos dari hukuman! Kita dihukum di dalam kehidupan ini, tetapi kita menerima imbalan kita dalam Olam HaBa (Dunia yang Akan Datang). Shaul memberitahu kita bahwa jika kita tidak dihukum oleh Bapa Sorgawi kita, maka kita bukanlah anak, tetapi mamzerim. Saya menggunakan istilah mamzerim, sedangkan hampir semua Alkitab bahasa Inggris menggunakan kata “bastards.” Istilah Ibrani mamzerim tidak memiliki padanan kata yang tepat dalam bahasa Inggris. Seringkali diterjemahkan sebagai “bastard,” yang di dalam bahasa Inggris berarti anak dari orang tua yang tidak menikah (anak haram). Tetapi, seorang mamzer ialah keturunan dari hubungan yang dilarang, seperti yang dijelaskan di dalam Imamat 18, walaupun orang tuanya menikah. Begitu juga, bahkan jika kedua orang tuanya tidak menikah, jika itu bukan hubungan terlarang, anak hasil dari hubungan itu bukan seorang mamzerim. Tidak ada hubungan sama sekali antara istilah Ibrani mamzer dan istilah bahasa Inggris bastard. Ayah duniawi kita mendidik kita, begitu juga Bapa Sorgawi, jika kita benar-benar milikNya. Maka, ketika Bapa Sorgawi mendidik kita, itu karena kita adalah milikNya.

Meneruskan pasal 12, kontras dengan bahasan atlet di bagian awal dari pasal ini, kita dibawa kepada mereka yang lemah secara fisik: “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.” Dalam hampir semua masyarakat primitif, orang yang lemah dianggap sebagai sesuatu yang membebani seluruh masyarakat. Barulah pada era modern ini  masyarakat mengejar ketertinggalan dengan mengikuti instruksi yang diberikan kepada orang-orang Yahudi beribu tahun lalu. Dalam kasus ini, kita diperintahkan untuk menguatkan yang lemah, dan sedapat mungkin membuat dunia ini “dapat diakses” oleh orang cacat. P’shat (atau arti literal) dari ayat ini ialah untuk menguatkan mereka yang lemah secara fisik. Remez (atau “petunjuk”)  penerapan ayat ini ialah untuk menguatkan mereka yang lemah secara rohani.

Dalam ayat 14-17 kita membaca, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Elohim, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.”

Kita harus “berusaha hidup damai dengan semua orang.” Tetapi, itu bukan berarti kita harus menjadi seorang yang pasif. Sebenarnya, seringkali Kitab Suci memberi perintah untuk menghancurkan musuh Israel. Ada waktunya kita menjadi orang yang pasif (pacifist), dan ada waktu lain untuk “pass a fist.” (mengayunkan tinju). Misalnya, dalam Perang Dunia II, sangat diperlukan untuk menghancurkan rezim Fasis di Jerman, Italia, dan Jepang – semuanya kini adalah negara pencinta damai sebagai hasil dari usaha Sekutu pada waktu itu. Hari-hari ini, kaum Islamis ingin menghancurkan peradaban barat. Kita tidak boleh tunduk kepada keinginan mereka, yang pasti akan berlanjut pada tuntutan lainnya. Ada orang-orang Arab yang tinggal di Israel yang menginginkan kehancuran Israel. Mereka seharusnya dibuang ke salah satu dari 22 negara Arab. Hanya orang Muslim dan Arab yang cinta damai yang  boleh hidup aman di Israel.

Kita juga diperintahkan untuk “mengejar kekudusan.” Ketika saya melihat kata-kata itu, otak saya membayangkan sesuatu yang mirip orang suci agama Hindu, begitu “rohaniah” sampai penampilan jasmaninya sangat tidak baik (sebenarnya, ini manifestasi roh agamawi). Tetapi, kata Ibrani untuk kudus ialah kodesh, yang berarti “dipisahkan atau didedikasikan/diperuntukkan.” Meskipun kita mengejar kedamaian dan kekudusan, tidak berarti kita membaurkan diri kepada cara hidup dunia ini, yang jelas bertentangan dengan perintah-perintah YHWH di dalam Kitab Suci. Ayat 15 mengatakan kepada kita bahwa kita bisa, benar-benar bisa, keluar dari kasih karunia Elohim. Bagi beberapa orang, peringatan ini bagaikan pil besar yang susah ditelan, tetapi adalah sangat mungkin seorang kehilangan keselamatan karena pilihannya sendiri. Ayat-ayat berikutnya mengatakan kepada kita contoh orang yang dapat kehilangan kasih karunia Elohim. Ini bukan berarti bahwa satu kali pelanggaran akan menyebabkan kehilangan keselamatan. Raja David adalah contoh kasih karunia Elohim, dan itu ditulis dalam Tanakh. Akan tetapi, ada beberapa orang yang percaya bahwa Yeshua telah memberi kepada kita lisensi untuk berdosa terus menerus, sesuatu yang saya sebut “kasih karunia murahan.” Sungguh, orang-orang ini berdiri di tanah yang sangat licin!

Lalu kita membaca tentang Esau, satu dari sekian tokoh yang berakhir tragis di dalam Kitab Suci. Esau adalah orang yang sangat berpikiran “duniawi” sehingga dia tidak “surgawi”, sesuatu yang berlawanan dengan kerohanian palsu yang saya sebutkan sebelumnya (Hinduisme, ed.). Katakan apapun yang anda suka tentang Yakub (yang jauh dari sempurna!), tetapi Yakub adalah orang yang sangat lapar akan Elohim dan berkat rohani.

 

Kontras antara Sinai dengan Zion

Dalam Ibrani 12:18-24, kita membaca “Sebab kamu tidak datang kepada gunung yang dapat disentuh dan api yang menyala-nyala, kepada kekelaman, kegelapan dan angin badai, kepada bunyi shofar (sangkakala, LAI ) dan bunyi suara yang membuat mereka yang mendengarnya memohon, supaya jangan lagi berbicara kepada mereka, sebab mereka tidak tahan mendengar perintah ini: "Bahkan jika binatangpun yang menyentuh gunung, ia harus dilempari dengan batu." Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar." Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Elohim yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat (atau “orang yang dipanggil”) anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga, dan kepada Elohim, yang menghakimi semua orang, dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna, dan kepada Yeshua, Pengantara perjanjian baru, dan kepada darah pemercikan, yang berbicara lebih kuat dari pada darah Habel.”

Penulis menganggap para pembaca sudah mengetahui peristiwa Pemberian Torah di Gunung Sinai. Kita tidak akan pernah paham Perjanjian Baru dengan benar tanpa pengertian dan penghargaan kepada yang apa disebut “Perjanjian Lama,” atau yang disebut oleh Victor Schlatter sebagai “The Foundational Scripture (Pondasi Kitab Suci).”

Peristiwa Pemberian Torah di Gunung Sinai sangatlah menakutkan! Anda dapat membacanya di Keluaran 19. Itu merupakan pertunjukan pemandangan dan suara yang hanya bisa kita bayangkan! Mengagumkan, tetapi mengerikan! Setelah itu, bangsa Israel memohon agar Moshe (Musa) menjadi perantara mereka dan membawa Firman YHWH. Mereka tidak ingin lagi Tuhan Yang Maha Tinggi berbicara kepada mereka secara langsung!

Di ayat ini, kita juga melihat referensi kepada “Yerusalem Sorgawi.” Sebelumnya, dalam Ibrani 9, kita mempelajari bahwa Ruang Maha Kudus di bumi dibuat berdasarkan Ruang Maha Kudus yang ada di Surga. Dalam Ibrani pasal 12 kita diperkenalkan pada Yerusalem Sorgawi yang mungkin merupakan kota yang dinantikan oleh Abraham di dalam Ibrani 11:10. Kemungkinan besar ini adalah Yerushalayim Khadash, Yerusalem Baru, yang digambarkan di dalam Wahyu 21:10-27.

Kita juga melihat sebuah perbandingan antara Gunung Sinai dan Gunung Sion secara rohani. Yudaisme Mesianik memasukkan baik Musa dan Yeshua, dan tentu, ini lebih baik daripada Yudaisme tanpa Yeshua!

   Ibrani 11:24 menunjuk Yeshua sebagai “pengantara dari Perjanjian yang Diperbaharui, dan pada pemercikan darah, yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel.” Perjanjian yang Diperbaharui, seperti yang telah kita pelajari di dalam Ibrani 8:8-10, tidak menggantikan Perjanjian “Lama.” Perjanjian yang Diperbaharui adalah Torah yang ditulis di dalam hati kita, dan kita dimampukan untuk melakukannya karena Ruakh HaKodesh (Roh Kudus) yang tinggal di dalam kita, seperti Yehezkiel 36:26-28. Jika seseorang meng-klaim “dipenuhi roh,” tetapi memusuhi mitzvot (perintah) yang diberikan YHWH kepada kita, saya membayangkan roh apa yang memenuhi orang itu, karena itu bukan Roh Kudus, tidak peduli bagaimana fasihnya orang itu bicara bahasa roh dan bernubuat.

 

Kerajaan yang Tidak Tergoncangkan

Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Elohim di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga? Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."58 Ungkapan "Satu kali lagi" menunjuk kepada perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan. Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada YHWH menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut. Sebab Elohim kita adalah api yang menghanguskan.”

Ini adalah ayat penutup Ibrani 12. Saya percaya Tuhan memiliki rasa humor, tetapi bukan berarti terus-terusan bermain dan santai. Ini adalah perkara serius. Kerajaan Mesianik akan sungguh-sungguh datang, dan banyak orang yang menyebut diri mereka Orang Percaya mungkin tidak siap untuk itu. Kita membaca di sini tentang penggoncangan langit dan bumi. Gempa bumi dan tsunami yang menimpa Asia Tenggara di akhir tahun 2004 dan Badai Katrina pada 2005 adalah sebagian kecil dari apa yang akan terjadi di masa depan. Anehnya, frekuensi dan intensitas gempa telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, seperti yang sudah diperingatkan Yeshua dalam Matius 24:7.

Kita diperingatkan agar tidak “menolak Dia yang berfirman.” Tuhan yang berbicara melalui Moshe (Musa) juga berbicara melalui Yeshua. Seperti yang jelas dinyatakan di dalam Sh’ma, YHWH adalah “ekhad,” suatu kesatuan. Siapapun yang menolak Tuhannya Yeshua juga menolak Tuhannya Moshe, karena Yeshua adalah Mesias yang dinubuatkan di dalam Ulangan 18:15-18. Kita memasuki Kerajaan Mesias dengan menerima penebusan yang Dia bayar bagi kita dengan harga yang sangat mahal, dan mulai hidup bagi Dia. Anugerah keselamatan ini tersedia bagimu hari ini. Kerajaan ini tidak tergoncangkan, sesuatu yang dapat lebih kita hargai terutama di zaman gempa bumi, wabah penyakit, dan bencana berskala biblikal. Lakukanlah kebaikan bagi dirimu. Panggil nama Yeshua sekarang!

 

XIII. MESIAS YANG TIDAK PERNAH BERUBAH [pasal 13]

Ibrani pasal 13 dimulai dengan ayat berikut1: “Peliharalah kasih persaudaraan! Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Tokoh-tokoh dalam Alkitab menganggap malaikat sebagai makhluk yang nyata, dan melaporkan peristiwa pertemuan dengan malaikat secara terus terang dan gamblang seperti surat kabar menuliskan tentang pertemuan antara dua presiden.

Selama berabad-abad, kepercayaan pada malaikat telah dipojokkan. Tetapi, dalam beberapa dekade terakhir, malaikat menjadi sangat terkenal, dengan buku, karya seni, dan acara televisi menjadikan malaikat sebagai fokus utamanya. Sekonyong-konyong malaikat menjadi terkenal! Tentu saja, para skeptik akan selalu punya penjelasan yang menepis hal-hal supranatural. Juga, yang lainnya akan menghubungkan pertemuan supranatural apapun dengan makhluk Luar Angkasa. Dan perlu diakui, banyak pertemuan dengan malaikat mungkin hasil dari khayalan yang terlalu aktif. Akan tetapi, Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa malaikat adalah makhluk yang benar-benar ada.

Ibrani 13 dimulai dengan mengingatkan kita untuk menunjukkan keramahtamahan kepada malaikat karena “beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.” Hal ini terjadi pada Abraham (Kejadian 18), Gideon (Hakim-hakim 6), Manoah dan istrinya (Hak. 13), dan Daniel (pasal 9 dan 10). Dan tentu saja dalam Perjanjian yang Diperbaharui, Gabriel, penghulu malaikat, mengunjungi Miriam, memberitahu bahwa dia akan menjadi ibu Mesias, dan Dia juga datang kepada kohen (imam) Zakharia (Lukas 1). Siapa tahu? Anda mungkin telah menjamu atau melihat malaikat dan tidak menyadarinya! Biasanya, ketika malaikat menampakkan diri kepada manusia, mereka terlihat seperti manusia biasa, bukan makhluk bersayap yang biasanya ditunjukkan dalam karya-karya seni.

 

Ingatlah akan Narapidana

“Ingatlah akan orang-orang hukuman (narapidana), karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.”61 Menarik bila melihat bagaimana pelayanan Petah Tikvah berkembang. Kami tidak pernah bermaksud untuk menjadikannya pelayanan penjara. Tetapi, seiring berjalannya waktu, kami mendapat semakin banyak pembaca dari dalam penjara. Di dalam Alkitab, para napi punya banyak teman! Yosef dipenjara (Kejadian 39:19 – 41:14), juga nabi Yeremia, Daniel, dan para pahlawan iman lainnya yang disebutkan di dalam Ibrani 11:36. Shimon Kefa (Petrus) dan Yokhanan (Yohanes) juga dipenjara (Kisah 4). Kitab Wahyu juga ditulis dari dalam penjara di pulau pengasingan Patmos (Wahyu 1:9). Rabi Shaul (Paulus), penulis dari setengah Perjanjian yang Diperbaharui, menulis banyak surat ketika di dalam penjara.

Kami sangat terkesan melihat hasrat para narapidana untuk mendekatkan diri kepada Elohim dan belajar di dalam penjara. Meski dalam keterbatasan sumber daya (atau malah karena terbatas!), mereka telah bertumbuh secara luar biasa di dalam pengetahuan tentang Firman YHWH. Untuk hampir semua bagian, mereka menjalani hidup kudus dan kepatuhan pada Elohim yang jarang ditemukan pada Orang Percaya yang hidup “bebas”. Kami sangat terkesan dengan surat-surat yang mereka kirim, yang menunjukkan pengetahuan mereka tentang Kitab Suci. Beberapa juga sangat berpengetahuan tentang Yudaisme dan bahasa Ibrani, karena belajar banyak selama dalam penjara!

Para pembaca telah memungkinkan kami untuk mengirim Petah Tikvah gratis secara teratur kepada para narapidana, yang akan diteruskan selama kami mampu. Kami berterima kasih kepada anda dan juga kepada teman-teman narapidana! Beberapa pelayanan Mesianik telah menghentikan pengiriman literatur kepada para narapidana, karena ini memerlukan biaya yang besar. Saya tidak mengkritik mereka. Saya memahami! Tetapi, literatur Islam untuk para narapidana tidak pernah kurang, karena dibiayai dari uang minyak Saudi. Ini sungguh tidak baik!

Kami juga sangat menghargai jemaat Yahudi Mesianik dan para individu yang melakukan kunjungan penjara. Berkat usaha kita semua, Yudaisme Mesianik sekarang diakui sebagai agama di sistem penjara Texas, juga di beberapa penjara lain di negara bagian lainnya. Tetapi, tanpa sponsor luar yang mau datang ke dalam penjara, beberapa penjara tidak mengizinkan narapidana Mesianik untuk berkumpul dalam ibadah hari Shabbat dan Hari Raya lainnya. Yeshua berkata, “ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.”62 Apapun yang kita lakukan bagi para narapidana disamakan dengan melakukannya bagi Yeshua! Yeshua berkata, “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

 

Ranjang Perkawinan

“Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan biarlah tempat tidurnya tidak tercemar, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Elohim.”63 Elohim tidak anti-seks! Di dalam ikatan pernikahan, hubungan seksual dianggap baik dan sehat. Rabi Shaul memerintahkan suami dan istri untuk “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya HaSatan jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan menahan diri.”64 Amsal 5:18-19 mengatakan kepada kita, “Diberkatilah kiranya mata airmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.” Beberapa ahli bahasa Yunani percaya bahwa Ibrani 13:4b seharusnya diterjemahkan, “biarlah tempat tidur perkawinan tidak dicemari.” Jika demikian, maka penulis mengatakan kepada kita tentang mematuhi peraturan kemurnian keluarga, terutama mengenai niddah (wanita yang menstruasi). Imamat 15:19 dan 20:18 melarang berhubungan seksual selama masa menstruasi.

Pada saat yang sama, penulis kitab Ibrani memberi peringatan keras terhadap para mucikari dan pezinah. Perzinahan dalam Kitab Suci didefinisikan sebagai semua hubungan seksual di antara seorang wanita yang sudah menikah dengan orang selain suaminya.65 Hukuman bagi hubungan semacam ini adalah mati baik bagi pihak pria maupun wanita! Anehnya, dalam Yokhanan  (Yohanes) 8:3-5, ahli Torah dan orang-orang Farisi menerapkan hukuman hanya pada wanitanya saja! Ini sangat tidak Alkitabiah, dan malah mirip dengan Islam. Islam memandang pihak wanita lebih bertanggung jawab dalam perzinahan, sehingga mereka biasanya dirajam sampai mati karena bermacam pelanggaran seksual (yang benar terjadi ataupun yang hanya tuduhan). Sedangkan pria Muslim biasanya dapat lolos tanpa hukuman apapun. Di dalam pengadilan Islam, kesaksian seorang wanita nilainya hanya separuh dari kesaksian seorang pria. Jika seorang wanita mengklaim bahwa dia telah diperkosa, dia membutuhkan kesaksian dari pria lain untuk membuktikan itu. Jika dia hamil dan tidak dapat membuktikan perkosaan itu (hampir tidak mungkin untuk melakukannya di dalam hukum Islam), kemudian dia seringkali akan dibunuh oleh sistem hukum atau oleh keluarganya sendiri, yang disebut “pembunuhan demi kehormatan.” Terima kasih Tuhan, kita memiliki Alkitab dan bukan Alquran!

 

Cinta akan Uang

“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Elohim telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "YHWH adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku."”66 1Timotius 6:10 berkata, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Menjadi kaya bukanlah dosa. Abraham dan bahkan Ayub adalah orang kaya. Elohim memberkati mereka! Akan tetapi, “cinta akan uang” adalah dosa. Beberapa dekade yang lalu, seorang reporter bertanya kepada John D. Rockefeller (orang terkaya di dunia pada saat itu), “Seberapa banyak uang yang dibutuhkan untuk membuatmu bahagia?” Rockefeller menjawab, “Sedikit lagi dari yang sudah saya miliki.” Mereka yang mencintai uang tidak akan pernah puas. Kita diperintahkan untuk puas dengan apa yang kita miliki.

Yeshua berkata kepada kita, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”67

Surat Yakov (Yakobus) berkata agak keras kepada orang kaya. “Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir. Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan Tsva’ot (semesta alam) keluhan mereka yang menyabit panenmu. Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan.”68 Akan tetapi, ini adalah peringatan khusus kepada orang-orang kaya yang menindas orang miskin. Ini bukan sebuah dakwaan yang melawan semua orang kaya. Banyak orang kaya yang sangat dermawan kepada orang miskin dan bermacam pelayanan.

Kita juga tidak usah khawatir, seperti yang dapat kita lihat pada ayat kutipan dari Tanakh (PL): “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau,” dan “YHWH adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku.”

Beberapa orang telah diberkati secara berlimpah sehingga dengan kekayaannya mereka dapat memberkati orang lain. Saya tidak setuju dengan semua teologi Rick Warren, tetapi saya membaca bahwa dia memberikan 90% dari pendapatannya untuk amal! Banyak juga orang-orang kaya mendirikan badan amal, yayasan dan dana perwalian untuk menolong orang dan membantu berbagai macam tujuan, yang terus berjalan bahkan bertahun-tahun setelah mereka mati! Beberapa pembaca kita telah diberkati dengan kemampuan menjadi magnet uang – sebuah masalah yang tidak pernah saya miliki! Mereka memiliki kemampuan untuk menghasilkan kekayaan baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Mereka telah bermurah hati dalam memampukan kami dan pelayanan lainnya untuk terus bertumbuh dan menjadi makmur. Semoga Elohim terus memberkati mereka dengan berlimpah!

 

Ingatlah Pemimpinmu

“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Elohim kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.”69 Rabi Shaul (Paulus) menasehati para pembaca suratnya untuk mengingat mereka yang telah mengajarkan mereka Firman, dan untuk mencontoh gaya hidup mereka.

Mesias yang Tidak Pernah Berubah

Yeshua sang Mesias tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.70

Saya menjadi Orang Percaya pada tahun 1970-an. Sebelumnya, saya belum mengenal Yeshua. Tetapi, saya tahu bahwa “Yesus” adalah orang Yahudi, dan tetap menjadi Yahudi seumur hidupNya.

Saya juga tahu bahwa di dalam pikiran banyak orang Yesus berhenti menjadi Yahudi ketika Dia, menurut kata orang, membuat sebuah agama baru yang disebut Kekristenan. Ibrani pasal 13 menekankan karakter yang tidak berubah dari Yesus. Tentu saja, kita lebih memilih untuk memanggilNya Yeshua, seperti yang dikenal oleh orang Yahudi dan bangsa-bangsa pada zamanNya. Ketika namaNya berubah menjadi Yesus, dalam pikiran banyak orang Dia tidak lagi Yahudi.

Saat itu kami belum menemukan jemaat Yahudi Mesianik untuk tempat beribadah. Sebagai Orang Percaya yang masih baru, puluhan tahun lalu, kami mendatangi sebuah gereja. Suatu kali, jemaat bernyanyi, “Oh, to be like Jesus” (Oh, menjadi seperti Yesus). Saya berkomentar kepada salah satu usher, “Saya penasaran apakah orang-orang ini sadar bahwa Yesus adalah orang Yahudi yang taat?” Komentar seperti ini pasti tidak disukai banyak orang Kristen. Tetapi saya merasa sangat aneh bahwa mereka bernyanyi, “Oh, menjadi seperti Yesus,” tetapi akan terkejut jika mendengar sesuatu yang bercorak Yahudi!

Kami sangat menghargai teman-teman Injili, Kristen Dispensasi. Banyak dari mereka yang sangat pro-Israel dan dapat disebut “Zionis Kristen.” Semoga Elohim memberkati mereka semuanya! Dan saya yakin bahwa Dia akan memberkati! Mereka adalah penyeimbang penting terhadap arus utama, denominasi liberal yang telah menjadi pro-Palestina dan anti-Israel.

Akan tetapi, Kekristenan Dispensasi sangat disesalkan telah “mengecualikan” Torah. Sebagian besar orang Kristen merasa bahwa Yesus datang ke bumi untuk memulai sebuah agama baru. Kita, tentunya, merasa bahwa Yeshua datang untuk menjadi Mesias dari agama yang lama. Tidak ada satu tulisanpun yang menyatakan bahwa Yeshua mulai membangun gedung gereja. Yeshua terus beribadah dalam sinagoga dan di Bait Suci di Yerusalem. Bahkan Paulus (Rabi Shaul) terus beribadah di dalam sinagoga. Jika anda tidak percaya pada saya, bukalah konkordansi dan cari kata “sinagoga”  dan “Bait Suci.”

Iman dari Para Rasul dan Orang Percaya adalah Yahudi, dan mereka tetap menjadi orang-orang Yahudi yang taat kepada Torah. Dalam Kisah Para Rasul 21, Rabi Shaul menyampaikan kepada orang Yahudi yang percaya di Yerusalem tentang semua pekerjaan Elohim yang mengagumkan yang dilakukanNya di antara bangsa-bangsa. Kemudian kita membaca dalam Kisah 21:20, “Mendengar itu mereka memuliakan Elohim. Lalu mereka berkata kepada Paulus (Shaul): "Saudara, lihatlah, puluhan ribu (myriad) orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin memelihara Torah (Pengajaran).”

Pada tahun-tahun berikutnya, sebuah agama baru yang disebut “Kekristenan” berkembang. Ambil lagi konkordansimu dan carilah kata “Kekristenan.” Kamu tidak akan menemukannya dimanapun di dalam Alkitab – bahkan tidak dalam “Perjanjian yang Diperbaharui.” Alasannya ialah karena kepercayaan kepada Yeshua masih merupakan hal yang sangat bersifat Yahudi pada Abad Pertama ketika PB ditulis. Banyak Orang Kristen melihat Kisah pasal 2 sebagai “Lahirnya Kekristenan.” Tetapi, semua orang yang mendengarkan Shimon Kefa (Petrus) berkhotbah pada hari itu adalah orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia. Ribuan dari antara mereka menjadi percaya kepada Yeshua sebagai Mesias Ibrani pada hari itu. Tidak pernah timbul dalam pikiran mereka bahwa mereka “berpindah” ke agama lain, karena Kekristenan belum “ditemukan” pada saat itu! Kisah pasal 2 akan lebih tepat disebut “Lahirnya Yudaisme Mesianik.” Bagaimanapun juga, pada tahun-tahun awal itu, para Yahudi Mesianik terus beribadah di dalam sinagoga tradisional dan di rumah-rumah Orang Percaya.

Kristen Dispensasi mengajarkan bahwa ada bermacam “Dispensasi/Pengecualian,” masing-masing menggantikan Dispensasi sebelumnya. Jika anda pergi ke gereja semacam itu, kamu akan mendengar pendetanya berbicara tentang “Dispensasi Hukum” yang kemudian digantikan oleh “Dispensasi Kasih Karunia.” Konotasinya ialah bahwa tidak ada kasih karunia di dalam Tanakh (PL), dan tidak ada Hukum di dalam Perjanjian yang Diperbaharui. Ini sungguh-sungguh tidak masuk akal.

 

Berbagai-bagai Ajaran Asing

“Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti aturan-aturan makanan macam itu.”71 Saya membaca sebuah telaah Kristen yang berkata bahwa ayat ini berbicara tentang “para Yudais legalistik” dan kemudian berkata bahwa, “Perintah Musa yang lama telah dihapuskan oleh salib dan tidak boleh dibangkitkan kembali.” Sekali lagi implikasi langsungnya ialah “Dispensasi Hukum” telah digantikan oleh “Dispensasi Kasih Karunia.” Sebenarnya, ayat dari Kitab Ibrani ini adalah dakwaan yang sangat keras kepada mereka yang memiliki interpretasi Alkitab anti-nomian (anti Hukum, anti Torah). Sebagai contoh, Imamat 11 dan Ulangan 14 memberitahu kita hewan mana yang dapat dianggap makanan, dan makhluk mana yang tidak dapat dianggap makanan. Yeshua mati di atas kayu salib untuk membersihkan kita dari dosa. Yeshua tidak mati untuk membersihkan babi dan hewan tidak bersih lainnya.

Ibrani 13:11-14 mengatakan kepada kita bahwa Yeshua ialah penggenapan dari Keimaman Lewi. Seperti kita pelajari sebelumnya di pasal 5 dan pasal 8-9. Yeshua dilantik sebagai seorang kahuna (keimaman) baru menurut aturan Melkisedek, yang bagi pengikutNya, menggantikan keimaman Lewi. (Sangat menarik untuk dicatat bahwa imam besar orang Polinesia dipanggil juga “big kahuna!”)

 

Korban Syukur

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Elohim, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Elohim.” Ada orang-orang yang percaya bahwa semua korban sudah dihapuskan! Bagaimanapun juga, korban syukur (disebutkan juga di dalam Yeremia 33:11) berlanjut! Seperti yang dikatakan dalam Hosea 14:2, “Bawalah sertamu kata-kata penyesalan, dan bertobatlah kepada YHWH! katakanlah kepada-Nya: "Ampunilah segala kesalahan, sehingga kami mendapat yang baik, maka kami akan mempersembahkan pengakuan kami.” Dalam kasus ini, kata-kata dari bibir kitalah yang menyebabkan YHWH menghapuskan segala kesalahan kita.

 

Taatilah Pemimpinmu

“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.”72 Pada hari-hari ini, tidaklah populer untuk patuh kepada orang lain. Bagaimanapun juga, ada keseimbangan di sini. Ada banyak pemimpin rohani yang menyalahgunakan otoritas mereka dan menjadi diktator maya. Di dalam jemaat, pemimpin rohani memiliki otoritas untuk memberi perintah. Mereka yang tidak mau tunduk seharusnya mencari jemaat lain. Pemimpin rohani juga diwajibkan untuk memberitakan Firman, untuk membuat domba-dombanya mengetahui perilaku apa yang dapat diterima. Dia memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

Glossary

1.        Dalam Alkitab King James digunakan satuan jumlah ‘myriad’ (dari bahasa Yunani, artinya puluhan ribu). Jadi lebih tepat diterjemahkan “puluhan ribu orang Yahudi yang menjadi percaya.”

2.       Sarjana Kristen “modern” pada tahun 1800-an menyatakan bahwa pada Abad Pertama bahasa Ibrani tidak dipakai di Israel. Teori ini sudah dibantah oleh temuan arkeologi modern di Israel, tetapi mitos bahwa bahasa Ibrani tidak dipakai pada Abad Pertama masih dipakai di seminari-seminari Kristen.

3.       Seperti dikutip oleh David Stern dalam bukunya Jewish New Testament Commentary, © 1992, POB 1313; Clarksville MD 21029.

4.      Misnah adalah telaah/uraian dari Torah, yang ditulis dalam Talmud. Ini ditulis dalam bahasa Ibrani. Ada pula Gemara, yang adalah telaah/uraian dari Mishnah, yang ditulis dalam bahasa Aramaik.

5.       Ini cara yang sangat baik untuk bersaksi kepada seorang Yahudi. Bacalah Yesaya 53 tanpa memberi tahu dari kitab mana kamu membacanya. Ketika dia menuduh kamu membaca dari PB, beritahukan bahwa kamu membaca dari Yesaya 53.

6.      Ibrani 1:2.

7.       Sh’mot (Keluaran) 19:18-20

8.      D’varim (Ulangan) 18:20

9.      Kedua kutipan diambil dari sumber-sumber tulisan Rabinik dalam Encyclopedia of Jewish Concepts, Philip Birnbaum, Hebrew Publishing Co., Brooklyn NY, © 1979.

10.    Tehillim berarti “Puji-pujian.” Tehillim (Kitab Mazmur) adalah lagu-lagu pujian yang disusun untuk dinyanyikan dengan alat musik, menurut Encyclopedia of Jewish Concepts.

11.     Ibrani 2:9-10.

12.    Ibrani 2:16-17.

13.    Markus 9:37.

14.    Yokhanan (Yohanes) 14:6.

15.    Ibrani 3:2-6.

16.    Efesus 2:19-20.

17.    Ibrani 3:12-13.

18.    Ibrani 3:14.

19.    Ibrani 3:15-19.

20.   Seperti dikutip dari Jewish New Covenant Commentary, David Stern, 78 Manahat, Jerusalem 96901, ISRAEL.

21.    Bereishit (Kejadian) 15:18; 26:3-5; 35:12; Yosua 1:4.

22.   Kisah 21:20.

23.   Ibrani 4:4.

24.   Ibrani 4:9-11.

25.   Ibrani 4:12-13.

26.   Ibrani 4:14-16.

27.   Saya katakan “tampaknya,” karena istilah adon dan adoni dapat juga digunakan sebagai tanda formalitas dan penghormatan kepada orang lain. Sebagai contoh, Adon Shapiro diterjemahkan sebagai “Tuan Shapiro.” Adoni (istilah yang digunakan di dalam Mazmur 110:1) ialah sebuah istilah yang dapat berarti “rajaku” atau “tuanku.”

28.   Yakobus 2:26 (Lihat juga 2:17; 2:22)

29.   Sh’mot (“Nama” – Keluaran) 20:2.

30.   Umumnya diterjemahkan sebagai “Hukum,” tetapi lebih tepat diterjemahkan “Pengajaran.” Sekarang, istilah ini berarti “Pentateuch,” yaitu lima kitab Musa.

31.    Dalam banyak versi Alkitab bahasa Inggris, Chava disebut “Eve” atau “Eva,” yang adalah nama berhala dewi kesuburan. Tetapi, dalam bahasa Ibrani namanya adalah “Chava,” berhubungan dengan kata Ibrani yang berarti “hidup” karena dia adalah “ibu dari semua yang hidup” (Kejadian 3:20).

32.   Kejadian 3:15-19.

33.   Kejadian 15:18-21; 17:1-8.

34.   Kejadian 17:9-14.

35.   Teologi Pengganti  mengajarkan bahwa Tuhan sudah selesai berurusan dengan Orang Yahudi, dan bahwa “Gereja” sekarang adalah “Israel yang Baru,” menggantikan Orang Yahudi. Ini, tentu saja, merupakan ajaran sesat.

36.   Kejadian 12:3; 26:4; Bilangan 23:8; 24:9; Yesaya 54:15-17; 60:2; Matius 25:40-45.

37.   Vulgata adalah Alkitab terjemahan bahasa Latin yang dilakukan oleh Jerome dan selesai pada tahun 381M.

38.   Oleh James Trimm.

39.   Ibrani 7:3.

40.  Ibrani 9:15-17.

41.    Ibrani 9:19-21.

42.   Jewish New Testament Commentary, hal. 703, JNT Publications, POB 1313, Clarksville MD 21029, © 1992.

43.   Septuaginta ialah Tanakh yang diterjemahkan ke bahasa Yunani, yang dilakukan oleh para Ahli Kitab Yahudi pada 200 SM.

44.  Mikha 5:1-2.

45.   Ibrani 10:9.

46.  Ibrani 10:10-13.

47.   Ibrani 10:14-17.

48.  Ibrani 10:30-31.

49.  Ini dikutip dari The Jerusalem Bible. Jangan tertipu dengan judulnya, ini adalah Alkitab terjemahan Gereja Katolik. USCCB (United States Conference of Catholic Bishop) http://www.usccb.org/

50.   Ibrani 11:3.

51.    Kejadian 1:1.

52.   Ibrani 11:4.

53.   Ibrani 11:21-22.

54.   Ibrani 12:1-2.

55.   1 Makabe 1:14-16.

56.   Sayang, tidak seperti cabang olahraga lainnya, tidak banyak penggemar wanita untuk menyemangati kami, sehingga saya berhenti melakukan cross-country di tahun kedua.

57.   Ibrani 12:3

58.   Ibrani 12:4

59.   Yaitu “Perjanjian Lama.”

60.  Hagai 2:6.

61.    Ibrani 13:3.

62.   Matius 25:36.

63.   Ibrani 13:4.

64.  1 Kor. 7:5.

65.   D’varim (Ulangan) 22:22.

66.  Ibrani 13:5-6 (Lihat juga Ulangan 31:6, Yosua 1:5, Mazmur 118:6).

67.   Matius 6:19-21.

68.  Yakobus 5:1-5.

69.  Ibrani 13:7.

70.   Ibrani 13:8.

71.    Ibrani 13:9

72.   Ibrani 13:17.


1.     Manuskrip tertua dari Kitab Ibrani tertulis dalam bahasa apa?

2.     Bahasa apa yang umum dipakai pada Abad Pertama Masehi di Israel?

3.     Berdasarkan Clement dari Aleksandria dan Eusebius sang sejarawan gereja, siapakah yang menulis Kitab Ibrani, dan dalam bahasa apa awalnya Kitab itu ditulis? Siapa yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Yunani?

4.     Berdasarkan Tertulian, siapakah yang menuliskan Kitab Ibrani?

5.     Ayat penutup dari Kitab Ibrani mengindikasikan bahwa penulisnya sedang …………………… .

6.     Dalam bentuk apakah Kitab Suci ditulis pada Abad Pertama Masehi?

7.     Nama dari orang Yahudi Mesianik Jerman yang menulis telaah Kitab Ibrani di tahun 1800-an? Nama ahli kitab Yahudi Mesianik yang menulis telaah dari Kitab Ibrani yang seluruhnya tertulis dalam bahasa Ibrani?

8.     Siapakah yang menghidupkan kembali bahasa Ibrani sebagai bahasa percakapan di Palestina pada akhir 1800-an?

9.     Siapakah Mitra-Pencipta dari dunia, yang juga merupakan Anak Elohim? Ibr 1:1-9.

10.  Apakah alasan bahwa Yeshua tidak disebut di Ibrani pasal 1?

11.  Berapa banyak peringatan yang terdapat di dalam Kitab Ibrani?

12.  Menurut para Rabi, siapakah perantara pemberian Torah di Gunung Sinai?

13.  Apa yang disebut Siddur pertama (Buku Doa Yahudi)?

14.  Apakah tanda dari Perjanjian yang Diperbaharui? Ibrani 2:4

15.  Apakah para malaikat akan memerintah pada Olam HaBa (Dunia yang Akan Datang)? Ibrani 2:2-8.

16.  Apakah “ke-Bapa-an” dari Elohim baru dinyatakan dalam Perjanjian yang Diperbaharui?

17.  Apakah Yeshua pernah dicobai? Ibrani 2:18, 4:15.

18.  Kitab Mazmur adalah Siddur pertama. Siapakah yang menulis Siddur Rabbinik pertama yang mirip dengan apa yang kita miliki sekarang? Kapan?

19.  Kapankah kira-kira tahun penulisan Kitab Ibrani?

20.  Siapakah Cohen HaGadol (Imam Besar) kita? Ibrani 3:1

21.  Apakah yang dikatakan penulis tentang doktrin Keselamatan Kekal (“sekali selamat, tetap selamat”)? Ibrani 3:6 (lihat jg Yehezkiel 18:20-32.)

22.  Apakah ada yang disebut sebagai “Yesus yang lain”? 2 Kor. 11:4.

23.  Apakah mungkin, “dipenuhi Roh” tetapi anti-Torah? Yeh. 36:26-27.

24.  Apakah Alkitabiah untuk menghindari persekutuan dengan Orang Percaya lainnya? Ibr. 3:12-13; 10:24-25.

25.  Dapatkah injil palsu menyelamatkanmu?

26.  Apakah ada tempat ibadah di dalam waktu?

27.  Apakah yang “lebih tajam dari pedang bermata dua”? Ibrani 4:12-13.

28.  Apakah tugas kohen di Bait Suci? Dimanakah persembahan dilakukan pada awal masa dari Abad Pertama Masehi?

29.  Apa sebutan kohen tertinggi di Bait Suci?

30.  Siapakah Imam Besar yang sempurna? Ibr 5.

31.  Bagaimanakah Imam Besar dipilih pada Abad Pertama?

32.  Mazmur Mesianik manakah yang dikutip dalam Ibrani 5?

33.  Yeshua adalah seorang Imam Besar menurut peraturan siapa? Ibrani 5:4.

34.  Apakah doktrin dasar dari Mesias kita? Ibr 6:1-2.

35.  Apa saja bahaya dari kembali ke cara hidup lama?

36.  Bagaimanakah keimaman Yeshua dibandingkan dengan Melkisedek? Siapakah Melkisedek?

37.  Mengapa perjanjian yang dibuat oleh Yeshua merupakan sebuah perjanjian “yang lebih baik”? Ibr 7:22-25.

38.  Bagaimanakah keimaman dari Yeshua lebih tinggi dibandingkan keimaman di Bait Suci? Ibrani 7:26-28.

39.  Apakah Perjanjian yang Diperbaharui telah membuat Perjanjian “Lama” dibatalkan? Apakah Perjanjian yang Diperbaharui itu? Apakah Perjanjian yang Diperbaharui “menghapuskan” Perjanjian Lama? Ibr 8:8-10.

40.  Apakah keimaman baru atau perjanjian baru yang dimaksudkan di dalam Ibrani 8:13 dan 9:1-15? Hal 21-26.

41.  Apakah ada cara penebusan dosa lainnya selain menggunakan darah? (Referensi silang Ibr 9:22 dengan Im. 17:10-11, Yes. 43:22-25, Hosea 14:1-2.)

42.  Apakah ada Ruang Maha Kudus Surgawi yang dibersihkan oleh pengorbanan Yeshua? Ibr 9:23-28.

43.  Berapa kalikah pengorbanan Yeshua yang dibutuhkan untuk menanggung segala dosa kita? Ibrani 9:27.

44.  Apakah reinkarnasi Alkitabiah? Ibr. 9:27.

45.  Mengapa Yeshua dipersembahkan sebagai korban?

46.  Apakah “korban pengganti”?

47.  Apakah asal usul dari tiga waktu doa Yahudi yang ada pada saat ini? Apa saja namanya?

48.  Dalam Ibrani 10:9, apakah Yeshua membuang perjanjian yang pertama untuk mendirikan perjanjian kedua, atau apakah dia membuang keimaman yang pertama untuk mendirikan keimaman yang kedua?

49.  Apakah pengorbanan Yeshua sekali untuk selamanya sudah cukup? Ibr 10:12-13.

50.  Bagaimana kita bisa memasuki ruang kudus? Ibrani 10:19-23.

51.  Mengapa sangat penting untuk berkumpul bersama Orang Percaya pada hari Shabbat? Ibrani 10:24-26.

52.  Bagian mana di dalam Kitab Suci yang dikutip oleh Ibrani 10:37-38? Bagaimanakah cara kita untuk “hidup oleh iman”?

53.  Apakah Ibrani pasal 11 “Tribun Kehormatan Iman” atau “Tribun Kehormatan Perbuatan Baik”? Atau keduanya?

54.  Siapakah beberapa di antara pria dan wanita iman yang terkenal? Bagaimana cara mereka menunjukkan imannya?

55.  Apakah semua orang besar dalam iman ini selalu hidup berkemenangan dalam kesehatan, kekayaan, dan keajaiban? Ibrani 11:36-40.

56.  Siapakah saksi-saksi yang mengelilingi kita seperti awan yang dirujuk oleh Ibrani 12:1?

57.  Bagaimanakah hidup kita sebagai orang percaya dibandingkan dengan pelari atau atlet? Ibrani 12:1-2

58.  Apakah Elohim mendisiplin mereka yang merupakan pengikutNya? Ibrani 12:4-13.

59.  Bagaimanakah kontras di antara Sinai dan Zion? Ibr 12:18-24.

60.  Apakah makhluk malaikat itu nyata? Ibr 13:1-2.

61.  Haruskah kita mengingat para tahanan?

62.  Apakah “kemurnian di dalam keluarga” masih penting?

63.  Apakah uang merupakan akar dari segala kejahatan?

64.  Bagaimanakah seharusnya kita memperlakukan mereka yang mengajarkan Firman Elohim? Ibrani 13:7.

65.  Apakah Yeshua pernah berpindah agama? Ibrani 13:8.